Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Translate This Blog

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Showing posts with label MOTIVASI SEMBUH. Show all posts
Showing posts with label MOTIVASI SEMBUH. Show all posts

Cukup Bagiku Allah

Written By Unknown on Monday, September 24, 2012 | 9/24/2012 12:43:00 PM

"KATA-KATA HIKMAH"

Saat kau merasa masalahmu semakin rumit dan sulit,
Allah selalu ada di sisimu ...

Saat kau merasa menyesal atas keputusan yang telah kau ambil,
Allah akan ada di sampingmu ...

Saat kau merasa tak ingin melanjutkan hidupmu ...
saat kau mulai tidak percaya terhadap kemampuanmu ...
saat kau mulai frustasi ...
saat kau tak ingin melakukan apa pun ...
saat kau mengalami kegagalan demi kegagalan ...
saat kau pulang dengan tangan kosong dari suatu urusan ...
saat kau tak mendapatkan apa yang diharapkan ...

Allah akan berada di pihakmu ...
Allah selalu ada bersamamu ...
Dia tak pernah meninggalkanmu ...

Kaulah yang mungkin pernah meninggalkan-Nya ...

Ingatlah, jangan pernah menyerah sedetik pun ...
Jangan pernah berputus asa dari rahmat-Nya ...
Berbaik sangkalah kepada-Nya ...
Berharaplah hanya kepada-Nya ...

Yakinlah, Dia akan memberi jalan keluar atas semua masalahmu ...
Percayalah, Dia akan memberi ketetapan terbaik atas hidupmu ...
Kau hanya perlu berikhtiar ...
Diiringi doa tanpa lelah ...
Lalu disempurnakan dengan bertawakal dan bersabar ...

Sungguh, Dia tak pernah mengabaikanmu ...

Mulai sekarang, berjanjilah kau akan mendekati-Nya ...
Mulai sekarang, berjanjilah kau akan membuang semua prasangka
burukmu ...
Mulai sekarang, berjanjilah kau tidak akan pernah berputus asa lagi ...

Keep spirit ...

Keep istiqomah.

9/24/2012 12:43:00 PM | 0 komentar | Read More

Spiritualitas Berkorelasi Positif terhadap Kesehatan

Written By Unknown on Friday, November 4, 2011 | 11/04/2011 10:04:00 AM

Spiritualitas atau keyakinan bisa membantu seseorang mengobati beberapa penyakit kronis, diantaranya seperti stroke, kanker, cedera saraf tulang belakang, atau cedera otak. Tak hanya itu, spiritualitas juga bisa bermanfaat sebagai sumber dukungan, penuntun hidup, mempengaruhi tingkat kesehatan, dan sumber kekuatan.

Sekretaris Jenderal Kemenkes RI, Ratna Rosita mengatakan, penelitian ilmiah baru-baru ini menunjukkan bahwa spiritualitas dan pengalaman religius bukan hanya sekedar persoalan agama, namun memiliki dasar biologis yang ilmiah. Pengamatan ilmiah menunjukkan, perilaku spiritual seperti berdoa bermanfaat meningkatkan kesehatan melalui perubahan biologis dan kerja otak.

Ratna ketika menghadiri seminar Kesehatan Spiritual Menuju Kesehatan Holistik dalam Pembangunan Karakter dan Pemantapan Integritas Bangsa, di Jakarta (19/10/2011) menyatakan, dalam UU RI no. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan dikatakan, Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Definisi kesehatan yang utuh, termasuk di dalamnya kesehatan spiritual.

Sebuah riset University of Pittsburgh Medical Center, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa orang yang rajin dan rutin mengikuti kegiatan keagamaan secara berkala akan hidup lebih lama ketimbang mereka yang tak pernah aktif di tempat ibadah.

Studi University of Toronto-Scarborough juga menemukan bahwa memikirkan tentang Tuhan dapat membantu mengurangi rasa cemas. Temuan-temuan terbaru itu, “Memperkuat gagasan bahwa agama atau spiritualitas bisa menjadi penyangga dari konsekuensi negatif atas kondisi kesehatan yang kronik,” ujar profesor bidang psikologi kesehatan di University of Missouri, Stephanie Reid-Arndt, yang dikutip situs Livescience.

Para peneliti merekrut 168 orang dari pusat kesehatan akademik Midwestern yang berusia 18 tahun atau lebih tua yang mengalami kondisi penyakit kronis, seperti trauma cedera otak, penderita stroke, cedera saraf tulang belakang, dan kanker.

Meskipun wanita sering dikesankan sebagai pribadi yang lebih religius ketimbang pria, para peneliti menemukan tidak ada perbedaan antara pria dan wanita dalam menyatakan tingkat atau pengalaman spiritualitas mereka.

“Kedua gender ini sama-sama mendapatkan manfaat dari dukungan sosial --kemampuan untuk mendapatkan bantuan dari dan bergantung kepada yang lain-- ditunjukkan oleh para anggota jamaah dan keterlibatan mereka dalam organisasi keagamaan,” ujar Brick Johnstone, profesor psikologi kesehatan yang terlibat dalam riset tersebut.

Namun manfaat dari kegiatan keagamaan pada laki-laki dan perempuan ternyata berbeda. Pada wanita, kesehatan mental yang bagus dikaitkan dengan pengalaman spiritual harian seperti memberikan maaf dan menggunakan agama untuk mengatasi masalah. Wanita juga percaya pada kekuatan cinta, yang ternyata berkaitan erat dengan kemampuan untuk mengatasi masalah kronis yang dihadapinya.

Sedangkan pria mendapatkan manfaat dengan terlibat dalam kegiatan-kegiatan keagamaan. Di antaranya mendapatkan perhatian dari jamaah lain, konseling agama dan kemampuan untuk memaafkan, serta bantuan dari pemimpin agama.

Profesor Santoso, 83 tahun, merasakan manfaat spiritualitas mengembalikan kesehatannya. Dua tahun lalu, dia terbaring tak berdaya di tempat tidur, terserang stroke. Dokter sudah menyerah dan menyatakan jantungnya sudah tak berfungsi. “Tapi keyakinan saya, dan doa dari hati yang dalam, mengembalikan organ yang tak berfungsi kembali normal,” dia menuturkan.
 
Syukur Alhamdulillah!
 
Sumber : esq-news dot com
11/04/2011 10:04:00 AM | 0 komentar | Read More

Berani Memaafkan Orang Lain

Written By Unknown on Tuesday, August 30, 2011 | 8/30/2011 03:19:00 PM

Awal Agustus 2011 ada berita menarik dari Iran. Seorang perempuan cantik yang disiram cairan asam hingga wajahnya rusak dan matanya buta mengampuni si pelaku.
Perempuan itu adalah Ameneh Bahrami, kelahiran Iran tahun 1978, yang disiram Majid Movahedi pada tahun 2004 karena ditolak pinangannya.Movahedi kemudian ditahan sambil menunggu hukuman qisas, yaitu hukuman yang berprinsip pembalasan yang setimpal, semacam hukuman "nyawa bayar nyawa". Dalam kasus Bahrami, ia boleh meminta pengadilan untuk membutakan mata pelaku seperti yang dialaminya.

Pengadilan memutuskan hukum qisas dilakukan pada 31 Juli 2011 dan disiarkan secara langsung oleh televisi. Beberapa detik sebelum cairan asam disiramkan pada mata Movahedi, dokter yang akan menyiramkan cairan itu bertanya pada Bahrami, "Apa yang ingin Anda lakukan sekarang?"

Movahedi sudah menangis sejadi-jadinya sambil berlutut. Ketakutan akan matanya buta dan bayangan rasa sakit yang tiada tara membuat ia memohon-mohon ampun. Semua orang tegang menyaksikannya. Satu aba-aba dari Bahrami maka proses hukuman qisas itu akan dilaksanakan. Namun Bahrami ternyata mengucapkan kata-kata di luar dugaan. "Saya memaafkan dia, saya memaafkan dia," jawab Bahrami. Maka mata si pelaku pun selamat.

Sungguh mulia sikap Bahrami, ia berani mengampuni orang yang telah membuatnya buta sepanjang hidupnya. "Yang terbaik ialah memaafkan ketika kita berada pada posisi berkuasa," kata Bahrami menjelaskan keputusannya. Tetapi ada ucapan ibu Bahrami yang patut kita simak. Katanya, "Pengampunan ini akan menenangkan Bahrami dan keluarga kami."

Sahabat yang Luar Biasa,

Seperti yang saya bahas dalam live talkshow di jaringan Radio Sonora hari Senin pagi ini, yang mengulas cerita "Jangan Menyimpan Kentang Busuk", memaafkan memang tidak mudah. Tetapi memaafkan bisa menenangkan kita. Sebaliknya, membalas dendam belum tentu menghilangkan kebencian. Mungkin justru akan tumbuh rasa bersalah di dalam diri kita karena setelah pembalasan dendam itu kita merasa sama jahatnya dengan mereka yang telah membuat kita menderita.

Secara ilmiah pun memaafkan atau mengampuni orang lain memiliki nilai positif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mereka yang memendam dendam dan memelihara kebencian, hidupnya tidak tenang. Secara medis mereka memiliki denyut nadinya tinggi (tidak sehat), tekanan darah tinggi, dan otot-otot menegang. Jika dibiarkan terus mereka bisa terkena serangan jantung. Sebaliknya, mereka yang mau memaafkan orang lain, tekanan darahnya normal, kerja jantung normal, dan otot-ototnya rileks. Pendeknya, seorang pemaaf memiliki catatan kesehatan lebih baik.

Penelitian itu menunjukkan bahwa "memaafkan orang lain" tak hanya baik bagi kesehatan jiwa, tetapi baik pula untuk kesehatan jasmani kita. Karena itu, menjelang Idul Fitri ini yang akan jatuh beberapa hari lagi, mari kita buka pintu maaf. Tak ada ruginya memaafkan orang lain, bahkan kita mendapatkan manfaat yang tiada terkira.

Salam sukses luar biasa!

Sumber : andriwongso dot com
8/30/2011 03:19:00 PM | 0 komentar | Read More

Kenali Gejala Stroke dengan 'Senyum, Gerak, dan Bicara'

Written By Unknown on Thursday, April 21, 2011 | 4/21/2011 01:14:00 AM

Stroke merupakan penyebab kecacatan nomor satu dan penyebab kematian nomor tiga di dunia. Semakin cepat pasien mendapat pertolongan medis akan semakin besar peluangnya untuk pulih. Kenali dari Senyum, Gerak dan Bicara, jika Anda ingin menolong seseorang yang terkena serangan stroke.

Stroke merupakan gangguan fungsi sistem saraf akibat gangguan peredaran darah otak. Gangguan fungsi saraf akan terganggu bila aliran darah otak turun. Pada kasus ini jaringan otak belum mati, namun mengalami gangguan fungsi bagian ini disebut sebagai bagian iskemik pneumbra. Bila gangguan aliran darah berkepanjangan dapat terjadi kematian jaringan saraf yang disebut infark. Target terapi adalah menyelamatkan jaringan pneumbra.

Masalah yang sering muncul adalah pasien datang terlambat ke rumah sakit. Terapi thrombolitik (membuka sumbatan pembuluh darah di oatk) harus diberikan dalam waktu kurang dari 6 jam setelah serangan stroke. Penelitian Nadeau menunjukkan bahwa pada penderita stroke perdarahan kurang dari sepertiga pasien saja yang datang kurang dari 3 jam pasca serangan stroke.

Mengapa pasien datang terlambat ke rumah sakit? Banyak penelitian memperlihatkan bahwa sebagian besar pasien dan keluarganya tidak mengenali gejala stroke.

Penelitian di Thailand menunjukkan bahwa hanya 20,2% pasien stroke yang datang ke RS dalam waktu kurang dari 24 jam (Asawavichienjinda dan Boogrid, 1998). Penelitian di Australia memperlihatkan bahwa 41% datang ke RS kurang dari 3 jam setelah gejala muncul, dan 15% antara 3-6 jam. Ada sekitar 25% pasien yang datang lewat dari 24 jam setelah serangan stroke. Jumlah ini sudah relatif lebih baik setelah adanya kampanye nasional tentang 'brain attack' (Barr, dkk, 2006).

Kampanye ini bertujuan untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat akan bahaya stroke. Semakin cepat dikenali, dan semakin cepat mendapat pertolongan medis yang tepat, akan semakin besar kemungkinan pemulihan. Perhimpunan stroke di Amerika Serikat memulai kampanye nasional untuk menyebarluaskan kewaspadaan tentang gejala stroke.

Kampanye ini diberi nama FAST, yang merupakan singkatan dari Facial Weakness (kelemahan wajah), Arm Weakness (kelemahan lengan), Speech Disturbances (kesulitan bicara), dan Time is Brain (Berpacu dengan waktu). Didalam Bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai Senyum, Gerak dan Bicara.

Senyum: Mintalah ia untuk senyum, lihat apakah wajahnya perot.
Gerak: Mintalah ia untuk mengangkat lengannya apakah bisa sama tinggi
Bicara: Tanyakan nama dan alamatnya, apakah ia bisa mengerti, apakah bisa menjawab, apakah jawabannya benar, apakah bicaranya pelo atau cedal.

Alat ukur ini cukup sederhana, dan dapat digunakan oleh orang awam maupun petugas kesehatan.

1. Mintalah orang yang dicurigai stroke untuk tersenyum. Menunjukkan giginya. Bila wajahnya perot, atau wajah hanya tertarik ke salah satu sisi saja, maka curihai ia terkena stroke.

2. Mintalah subyek untuk mengangkat lengannya lurus keatas. Bila salah satu lengan tidak dapat terangkat dengan baik, curigailah ia sebagai stroke.

3. Tanyakan kepadanya 'Siapa namamu?' dan 'Sekarang bulan apa?' atau 'Dimana Anda tinggal?”. Lihat apakah subyek mengerti pertanyaan Anda, apakah ia bisa menjawab, apakah jawabannya benar, bila ia berbicara apakah suaranya cedal?

Bila ada salah satu kelainan pada tes diatas segera minta bantuan medis. Tes ini sangat mudah. Bila ada anggota keluarga, rekan, kerabat, atau tetangga yang dicurigai tekena stroke, dan menunjukkan hasil tes yang positif, segeralah minta pertolongan medis. Tindakan yang tepat dan cepat diharapkan akan membuahkan hasil yang lebih baik pula. ( sumber detik.com )

dr Rizaldy Pinzon, MKes, SpS
Tim Stroke RS Bethesda Yogyakarta
4/21/2011 01:14:00 AM | 0 komentar | Read More