Lalu, bagaimana cara membangun karakter anak sejak usia dini?
Deru Sang Angin mengajakku bangkit dari keengganan untuk berkelana menelisik cahaya. Dan akupun luluh oleh lihai rayunya. Hingga kamipun bersahabat, erat. Dan kata-kata, inilah pisau bermata dua. Melengkapi kembaraku agar aku bisa merobek dada durjana. Membasuh jantung dan hatinya untuk kembali tunduk pada Yang Maha Kuasa.
HypnoPareting: Anchor Peluk vs Gendong
Oleh Idzma Mahayattika
“Sini, peluk sama Ayah”
Kalimat yang selalu saya katakan ketika Gaza dan Filan sedang
menangis atau merasa tidak nyaman. Kemudian, saya memeluk mereka
dengan penuh kasih saying untuk menenangkan dan membuat nyaman. Saya
menggunakan kata peluk untuk meng-anchor kata “peluk” di pikiran bawah
sadar saya, Gaza dan Filan. Sehingga ketika saya bilang “peluk”, maka
pikiran bawah sadar saya akan mengakses “kondisi” atau “state” diri saya
yang “penyayang, menenangkan dan melindungi”. Disisi lain kata “peluk” akan
membuat pikiran bawah sadar Gaza dan Filan mengakses kondisi “disayang,
ditenangkan dan dilindungi”. Jadi buat saya, kata peluk sama dengan
“menenangkan, menyayangi dan melindungi”. Dan buat Gaza&Filan kata
“peluk” sama dengan “disayang, ditenangkan dan dilindungi”.
Kenapa saya menggunakan kata peluk? Bukan gendong? Padahal yang
saya lakukan seringkali mirip menggendong atau bahkan sebenarnya
menggendong. Betul, sebenarnya posisi pelukan saya juga seringkali berbeda-
beda tergantung maunya Gaza dan Filan. Walaupun saya juga punya posisi
pelukan andalan, Gaza atau Filan saya peluk di dada dengan tangan saya
mendekap punggungnya :)
Kalau saya menggunakan kata gendong, saya akan kesulitan ketika
anak-anak sudah besar. Hei! Kan berat kalo harus gendong anak kalo dia
sedang menangis. Apalagi kalo dia meronta-ronta! Susaaah! Sekarang saja
saya kesulitan, kalo keduanya nangis dan minta gendong. Nah kalo peluk? Kan
tidak harus digendong/diangkat. Pelukan bisa dilakukan sambil berdiri,
jongkok, duduk, bahkan tiduran. Bisa dilakukan dimana saja, di rumah, di
kamar, di luar ruangan bahkan di dalam mobil. Kalo Gendong? Emang bisa
gendong anak di mobil?
Itulah alasan kenapa saya menggunakan kata peluk ketika menenangkan
anak-anak ketika menangis, tidak nyaman atau tidak aman. Sederhana dan
mudah. Contoh Gaza (3thn) menangis ketika terbangun dari tidurnya, saya pun
sedang tidur. Karena tidur di kamar yang terpisah, Ia lari menuju saya. Saya
yang sedang tidur nyenyak pasti akan pusing ketika terbangun dan langsung
berdiri mendengar tangisan Gaza. Dengan kata sakti “sini, peluk sama Ayah”
dan pelukan sambil tiduran, ia pun kembali tenang dan tertidur. Sederhana
kan?
Nah setelah membaca penjelasanku diatas, pasti timbul pertanyaan apa
itu “anchor”? lalu bagaimana membuat atau menanamnya? “anchor” adalah
tombol pikiran-perasaan. Sesuatu yang akan membuat kita memunculkan
sebuah pikiran atau perasaan. “Anchor” ini bisa berupa suara, sentuhan atau
sesuatu yang kita lihat. Contoh : setiap melihat lampu lalu lintas menyala
warna merah, apa yang anda pikirkan? Berhenti bukan?. Atau ketika anda
mendengar kata “sayang”, tiba-tiba muncul perasaan ketika disayang oleh istri
atau suami di rumah. Misalnya lagi ketika ada yang menyentuh punggung
anda, maka muncul perasaan ketika disayang sambil diusap punggungnya oleh
orang tua. Nah “lampu merah” itu anchor untuk “berhenti”, kata “sayang” itu
anchor untuk perasaan disayang istri atau suami dan “sentuhan punggung” itu
anchor untuk perasaan disayang orang tua. Nah Anchor ini berbeda di masing-
masing orang, karena kan pikiran dan perasaannya berbeda.
Bagaimana membuat atau menanamnya? Caranya sederhana, yaitu
dengan memberikan perlakuan yang sama pada sebuah hal berulangkali. Misal
Saya memberikan perlakuan sama ketika anak saya menangis. Yaitu dengan
mengatakan “sini, peluk sama ayah” dan memeluknya. Sehingga kata peluk ini
akan menjadi anchor buat anak-anak saya. Anchor ini juga bisa terbentuk
secara tidak sengaja, misal setiap kali marah, ayah&bunda marah pada anak
sambil menunjuknya. Bisa jadi, ketika ada orang yang menunjuknya ia akan
mengakses pikiran atau perasaan dimarahi,karena ditunjuk menjadi anchor
untuk dimarahi. Anchor juga bisa ditanam ketika intensitas perasaannya
sedang tinggi, atau ketika dilekatkan dengan sebuah emosi yang dalam. Misal
ketika anak sedang sangat sedih ketika orang tuanya meninggal, kemudian ia
saat itu sedang menggunakan sebuah Topi. Topi itu bisa menjadi anchor dari
perasaan sedih tersebut. Sekarang sudah siap mempraktekannya kan? Anchor
apa yang akan ayah&bunda tanam di ananda? Oh iya…Sssst…anchor ini jg
bisa ditanam untuk mencapai kepuasan suami istri lho #uhuk :)
Untuk Senyum Anak Indonesia
@K_IDZma
HypnoStoryteller-Family hypnotherapist-coach-trainer
www.kidzsmile.info
Metode pendidikan anak dalam kandungan
Mendidik anak dalam kandungan bukan berarti mendidik anak tersebut agar
pandai terhadap apa yang diajarkan oleh orang tuanya. Melainkan sekadar
memberikan stimulus yang diproses secara edukatif kepada anak dalam
kandungan melalui ibunya.
Dr. Baihaqi menjelaskan bahwa hakikat metode mendidik anak dalam
kandungan adalah dengan cara sederhana, yaitu dengan memberikan stimulasi
atau sensasi. Cara sederhana ini kemudian diangkat menjadi metode yang
dipikir, disusun dan diarahkan melalui pembinaan lingkungan edukatif yang
islami untuk ibunya, ayahnya dan sekaligus (anggota) keluarga—inti—yang
lainnya. Rangsangan-rangsangan dengan metode tersebut pada akhirnya
diharapkan dapat memicu respons atau sensasi balik dari anak dalam
kandungannya.
Berikut ini, ada beberapa metode mendidik anak dalam kandungan yang sudah
diaplikasikan dalam tatanan budaya kaum muslimin dan mukminin masa
lampau. Dan, hasil yang diperoleh dari praktek pendidikan mereka cukup
menggembirakan, antara lain sebagai berikut.
1. Metode Doa
Doa merupakan insrtumen yang sangat ampuh untuk mengantarkan
kesuksesan sebuah perbuatan. Hal ini dikarenakan segala sesuatu upaya pada
akhirnya hanya Allahlah yang berhak menentukan hasilnya. Bagi seorang
muslim, berdoa berarti senantiasa menumbuhkan semangat dan optimisme
untuk meraih cita-cita dan pada saat yang bersamaan membuka pintu hati
untuk menggantungkan sepenuh hati akan sebuah akhir yang baik di sisi Allah.
Dengan doa seseorang tidak saja akan terobsesi dan tersugesti dengan
doanya, melainkan juga akan termotivasi menjadi seorang yang kuat, penuh
optimistis dan memiliki harapan yang pasti, dan mampu melakukan aktivitas-
aktivitas yang baik. Doa telah ditegaskan dalam sebuah hadits Nabawiyyah
sebagai senjata bagi orang-orang yang beriman, ad-du’a shilaahul mu’minin.
Oleh karena itu, adalah relevan sekali bila doa ini dijadikan metode utama
mendidik anak dalam kandungan. Para nabi dan orang-orang saleh terdahulu
banyak melakukan metode doa ini, seperti Nabi Ibrahim a.s. (ash-Shaffaat:
100 dan al-Furqaan: 74), keluarga Imran (Ali Imran: 38), Nabi Zakariya a.s.
(al-Anbiyaa’: 89 dan Maryam: 5), Nabi Nuh a.s. (Nuh: 28), dan lain-lainnya.
Metode doa ini dilakukan pada semua tahapan, tahap zigot, embrio, dan fetus.
Dan, untuk tahapan fetus ada beberapa tambahan, yaitu saat si anak berada
dalam kandungan hendaknya diikut sertakan melakukan berdoa secara
bersama-sama dengan ibunya atau ayahnya.
2. Metode Ibadah
Segala bentuk ibadah, mahdhah dan ghair mahdhah, wajib dan sunnah, seperti
ibadah shalat, shaum (puasa), haji, zakat, dan lain-lainnya dapat dijadikan
metode untuk mendidik anak dalam kandungan. Besar sekali pengaruh yang
dilakukan ibu dengan melakukan metode-metode ibadah ini bagi anak dalam
kandungannya, selain melatih kebiasaan-kebiasaan aplikasi kegiatan ibadah,
juga akan menguatkan mental, spiritual, dan keimanan anak setelah nanti lahir,
tumbuh, dan berkembang dewasa.
Hal ini terbukti, misalnya dalam tradisi
masyarakat primitif, mereka seringkali melakukan acara-acara ritual dalam
rangka menyambut kehamilan putrinya, dengan berbagai aktivitas ritual,
menyanyi, menari, dan upacara-upacara lainnya.
Kemudian, bila anak dalam
kandungan telah lahir, maka anak tersebut menjadi sensitif dan terlatih (peka)
dan sangat menyukai ragam aktivitas tersebut, di mana anak-anak tersebut
telah mengalami kegiatan ritual tersebut sebelumnya, sewaktu ia masih dalam
kandungan ibunya.Menerapkan metode ini tidak terlalu sulit, hanya saja si ibu
harus lebih kreatif, inovatif, dan sungguh-sungguh rela mengikutsertakan
segala aktivitas ibadahnya dan anak dalam kandungannya secara bersama-
sama, dengan suatu teknik kombinasi yang merangkaikan antara ucapan,
sensasi, dan perbuatan konkret si ibu.
Menjalankan program pendidikan
dengan metode ini, hendaknya disesuaikan dengan tingkatan perkembangan
anak dalam kandungan. Ada tiga tahapan, antara lain sebagai berikut.
Pada periode pembentukan zigot, yaitu melakukan shalat hajat dan zikir serta
dihubungkan dengan doa-doa tertentu.
Pada periode pembentukan embrio, yaitu sama dengan tahapan pertama.
Pada periode fetus, periode inilah yang lebih konkret. Artinya, segala aktivitas
ibadah si ibu harus menggabungkan diri dengan anak dalam kandungannya.
Misalnya, si ibu akan melakukan shalat magrib. Kemudian si ibu berkata, “Hai
Nak … mari kita shalat!” sambil mengajak dan menepuk atau mengusap-usap
perutnya.
3. Metode Membaca dan Menghafal
a. Metode Membaca
Membaca merupakan salah satu cara yang paling utama untuk memperoleh
berbagai informasi penting dan ilmu pengetahuan. Anak dalam kandungan
pada usia 20 minggu (5 bulan) lebih sudah bisa menyerap informasi melalui
pengalaman-pengalaman stimulasi atau sensasi yang diberikan ibunya. Namun
demikian, tingkatannya masih sangat mendasar dan sederhana. Jika dikatakan
kepada anak dalam kandungan sebuah kata “tepuk”, sambil melakukan sensasi
kepadanya, maka ia akan mampu mendengarkan dan menyerap informasi
tersebut dengan tingkat penerimaan bunyi “t-e-p-u- dan –k”.
Dengan demikian, bila si ibu membacakan suatu informasi ilmu pengetahuan
dengan niat ibadah yang dilanjutkan dengan mengeraskan volume suara
sebenarnya, secara sadar si ibu telah melakukan pengkondisian untuk anak
dalam kandungannya terlibat. Terlebih lagi bila si ibu memahami segala yang
dibacanya, mengekspresikan bacaan tersebut dengan intonasi yang khas sesuai
dengan alur cerita, maka sudah barang tentu si anak dalam kandungan hanya
akan terangsang pada kondisi ilmiah tersebut. Sungguh aktivitas ini pun akan
menjadi kegiatan yang penuh kehangatan sekaligus menyenangkan bagi
hubungan ibu dan anak.
b. Metode Menghafal
Metode ini secara teknis sama dengan metode membaca. Letak perbedaanya
hanyalah pada konsentrasi bidang bacaan atau bidang studi yang ditekuni dan
dihafal. Jika si Ibu hendak menghafal suatu bidang ilmu, hendaklah ia
mengulang-ulang bacaannya hingga hafal betul. Cara yang menghafal yang
lainnya bisa juga dilakukan dengan bantuan visualisasi kata yang akan di
hafal, bisa juga dengan gerakan yang membantu mengingat kata tersebut atau
dengan benda yang dapat membantu mengingatkan si ibu kata tersebut sambil
tetap melibatkan bayi dalam kandungannya. Misalnya, “Nak, mari kita
menghafal Al-Qur?an”, si ibu lalu menepuk perutnya dan langsung
membacakan ayat-ayat Al-Qur?an dengan berulang-ulang kali hingga hafal
betul. Tentunya, praktek ini telah didahului dengan niat melaksanakan aktivitas
(menghafalnya) bersama-sama antara si ibu dan bayinya, hingga kelak nanti si
anak akan sama terlibat mendapatkan kemampuan menghafal seperti ibunya.
4. Metode Zikir
Zikir adalah aktivitas sadar pada setiap waktu atau sewaktu-waktu. Aktivitas
ini suatu yang wajib bagi setiap orang-orang mukmin, yang berpegang teguh
pada tali agama Allah. Oleh karena itu, seorang ibu (muslimah) sebaiknya
memasukkan kegiatan ini dalam agenda program pendidikan anak dalam
kandungannya. Sebagaimana kita ketahui, metode zikir itu sendiri dapat berupa
zikir dalam arti umum atau khusus.
Zikir umum berarti ia waspada dan ingat bahwa ia berstatus sebagai hamba
Allah di mana setiap kegiatannya tiada lain adalah pengabdian diri kepada
Allah semata dalam keseluruhan waktunya. Ia senantiasa menumbuhkan
kesadaran untuk menyandarkan hidup dan kehidupannya dalam naungan Allah,
menolak segala hal yang bukan dari pemberian Allah swt.. Termasuk di
dalamnya adalah penolakan dalam hal melakukan tindakan yang menyimpang
dari jalan Allah swt.. Dengan bekal kesadaran semacam ini, si ibu hamil akan
berupaya keras untuk melibatkan anak dalam kandungannya secara terus-
menerus sepanjang ia terjaga.
Kemudian zikir secara khusus berarti ia melakukan zikir khusus, seperti dengan
lafal-lafal khusus, tahmid, tahlil, takbir, doa-doa istighatsah, istighfar, dan
zikir-zikir lainnya yang dilakukan sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi yang
menyertainya. Cara melakukan dengan metode ini sangat mudah, yaitu tatkala
sadar, ingat, dan berzikir kepada Allah swt., usaplah perut si ibu sambil
mengatakan kepada anak dalam kandungannya, “Nak, mari berzikir.…
Subhanallah wal hamdu lillah wala illahaillah wallahu Akbar! Atau
membacakan kalimat-kalimat thayyibah lainnya sambil terus melibatkan
aktivitas zikir tersebut dengan anak dalam kandungannya.
5. Metode Instruktif
Metode ini dimaksudkan tidak saja menyuruh menginstruksi anak dalam
kandungan melakukan aktivitas sebagaimana yang diserukan, tetapi juga untuk
memberi instruksi kepada bayi melakukan sesuatu perbuatan yang lebih kreatif
dan mandiri. Metode ini sangat bagus sekali, terutama untuk memberikan
tekanan pada anak dalam kandungan untuk lebih aktif dan kreatif, bahkan
mampu melakukan tindakan-tindakan instruktif lainnya penuh dengan ketaatan
terhadap orang tuanya. Metode ini bersifat luwes, bisa digunakan ke berbagai
langkah pendidikan dan bagi si ibu lebih mudah untuk menggunakan metode
ini.
6. Metode Dialog
Metode ini bisa disebut sebagai metode interaktif antara anak dalam
kandungan dan orang-orang di luar rahim, seperti ibu, ayah, saudara-saudara
bayi, dan atau anggota keluarga lainnya. Dengan metode ini, diharapkan
seluruh unsur anggota keluarga dapat dilibatkan untuk melakukan interaksi,
yakni menjalin dan mengajak berkomunikasi secara dialogis dengan anak
dalam kandungannya. Metode ini sangat bermanfaat sekali bagi sang bayi,
karena selain dapat berinteraksi dan berkomunikasi dengan baik dan saling
mengenal dengan mereka yang ada di luar rahim. Jauh lebih dari itu, sang
bayi akan tumbuh dan berkembang akan menjadi anak yang penuh percaya diri
dan merasakan pertalian rasa cinta, kasih dan sayang dengan mereka.
7. Metode Aktivitas Bersama
Metode ini dimaksudkan sebagai suatu cara di mana si ibu setiap langkah dan
tindakannya hendaklah mengikutsertakan dan megajak anak dalam kandungan
bersama-sama untuk beraktivitas juga. Misalnya saja, seperti apa yang
ucapkan si ibu kepada bayinya, sambil si ibu melakukan tindakan-tindakan
normal alamiah.
Metode aktivitas bersama ini menekankan pada kegiatan yang mengajak anak
dalam kandungan sesuai dengan kata-kata yang dikondisikan dengan kegiatan
alamiah ibunya, kemudian secara bersama-sama (ibu dan bayi pralahir)
melakukan perbuatan yang dilakukan ibunya, seperti amal saleh, ibadah-
ibadah, atau aktivitas lainnya.
Metode ini lebih fleksibel dan efektif, bahkan lebih mudah diterapkan di setiap
keadaan dan waktu, terutama bagi seorang ibu muslimah penggunaan metode
ini sangat praktis dan efisien. Yakni apa saja yang dilakukan oleh si ibu
muslimah bisa menautkan aktivitasnya kepada bayinya, sambil mengajaknya
bersama-sama berbuat. Tentu saja ucapan dan ajakan tersebut bukan hal sia-
sia, melainkan lebih bersifat edukatif, bernuansa orientatif lingkungan yang
baik dan bermanfaat serta menguatkan sendi-sendi tauhidiyah dan syar’iyah,
seperti ajakan ibadah shalat, qira’atul qur’an, wudhu, bersedekah, sillaturrahim,
belanja, memasak, tidur istirahat, berjalan-jalan santai, dan lain-lain.
8. Metode Bermain dan Bernyanyi
Anak dalam kandungan sering kali melakukan aksi positif, seperti menendang-
nendang atau berputar-putar di sekitar perut ibunya. Keadaan ini menunjukkan
bahwa ia tidak saja melakukan aksi, akan tetapi ia juga ingin aksinya itu
mendapat sambutan, jawaban, respons dari luar rahim, yakni dari ibu atau
ayahnya bahkan dari anggota keluarga lainnya. Jika dimanfaatkan untuk
melakukan interaksi yang lebih harmonis, lebih baik dengan melakukan
permainan-permainan edukatif, yang bersifat menghibur.
Hal ini selain memberikan manfaat agar si anak dalam kandungan terhibur
juga akan menambah erat jalinan hubungan yang indah antara orang-orang
yang berada di luar rahim si ibu dan anak dalam kandungannya. Dan, ia akan
merasa nyaman dan tenang. Sebab, pada umumnya anak-anak akan merasa
tenang dan nyaman bila diberi sentuhan-sentuhan yang menyenangkan dan
mengembirakan.
Metode ini cukup dilakukan sederhana saja, seperti langkah-langkah berikut
ini. Ketika anak dalam kandungan mulai menendang perut atau berputar-putar
di sekitar perut, maka si ibu hendaknya menyambut dengan kata-kata yang
manis penuh kasih sayang. Misalnya, “Adik sayang, ada apa Nak?
Mari bermain-main dengan ibu,” sambil ibu menepuk perut atau membalas
tepat di sekitar tendangan bayi tersebut, sambil katakan sesuatu perkataan
manis, atau paling tidak bahasa tertawa, tersenyum, riang, dan bahagia.
Kemudian tepuk atau tekan lagi dengan lembut perut ibu dengan satu tangan
di tempat bayi menendang, kemudian tepuk sebentar hingga ia balik
menendang. Lakukan beberapa kali hingga ia berhenti menendang perut si ibu.
Kemudian, si ibu hendaklah mengakhiri permainan ini dengan memberikan
alunan suara merdu, berupa lagu-lagu indah, syair-syair yang bernuansa
riang–gembira hingga si bayi betul-betul tertidur atau tidak menendang lagi.
9. Metode Kondusif Alamiah
Setiap gejala alamiah, seperti perubahan cuaca dingin, panas, terang, gelap
gulita, suara gemuruh ombak, petir, dan suara-suara radikal keras lainnya,
merupakan kondisi alam yang dapat dijadikan suatu cara edukasi untuk
pendidikan anak dalam kandungan. Metode ini dimaksudkan untuk
mengenalkan suasana dan kondisi alam yang berubah-ubah yang tujuannya
agar si anak dalam kandungan tidak terkejut oleh perubahan-perubahan yang
terjadi karena ia telah mengenal dan merasakan suasana-suasana tersebut
dengan kondisi sikap yang tenang.
Sumber : http://www,namaislami,com/200756-metode-pendidikan-anak-d
alam-kandungan.html
dakwatuna.com – “Anak saya ini nakal sekali”, kata seorang ibu.
“Kamu itu memang anak nakal”, kata seorang bapak.
Kalimat itu sering kita dengarkan dalam kehidupan sehari-hari. Sangat
sering kita mendengar orang tua menyebut anaknya dengan istilah nakal,
padahal kadang maksudnya sekadar mengingatkan anak agar tidak nakal.
Namun apabila anak konsisten mendapatkan sebutan nakal, akan
berpengaruh pada dirinya.
Predikat-predikat buruk memang cenderung memiliki dampak yang buruk
pula. Nakal adalah predikat yang tak diinginkan oleh orang tua, bahkan oleh
si anak sendiri. Namun, seringkali lingkungan telah memberikan predikat itu
kepada si anak: kamu anak nakal, kamu anak kurang ajar, kamu anak susah
diatur, dan sebagainya. Akibatnya, si anak merasa divonis.
Hindari Sebutan Nakal
Jika tuduhan nakal itu diberikan berulang-ulang oleh banyak orang, akan
menjadikan anak yakin bahwa ia memang nakal. Bagaimanapun nakalnya si
anak, pada mulanya tuduhan itu tidak menyenangkan bagi dirinya. Apalagi,
jika sudah sampai menjadi bahan tertawaan, cemoohan, dan ejekan, akan
sangat menggores relung hatinya yang paling dalam. Hatinya luka. Ia akan
berusaha melawan tuduhan itu, namun justru dengan tindak kenakalannya
yang lebih lanjut.
Hendaknya orang tua menyadari bahwa mengingatkan kesalahan anak tidak
identik dengan memberikan predikat “nakal” kepadanya. Nakal itu —di
telinga siapa pun yang masih waras— senantiasa berkesan negatif. Siapa
tahu, anak menjadi nakal justru lantaran diberi predikat “nakal” oleh orang
tua atau lingkungannya!
Mengingatkan kesalahan anak hendaknya dengan bijak dan kasih sayang.
Bagaimanapun, mereka masih kecil. Sangat mungkin melakukan kesalahan
karena ketidaktahuan, atau karena sebab-sebab yang lain. Namun, apa pun
bentuk kenakalan anak, biasanya ada penyebab yang bisa dilacak sebagai
sebuah bahan evaluasi diri bagi para pendidik dan orang tua.
Banyak kisah tentang anak-anak kecil yang cacat atau meninggal di tangan
orang tuanya sendiri. Cara-cara kekerasan yang dipakai untuk
menanggulangi kenakalan anak seringkali tidak tepat. Watak anak
sebenarnya lemah dan bahkan lembut. Mereka tak suka pada kekerasan.
Jika disuruh memilih antara punya bapak yang galak atau yang penyabar
lagi penyayang, tentu mereka akan memilih tipe kedua. Artinya, hendaknya
orang tua berpikiran “tua” dalam mendidik anak-anaknya, agar tidak salah
dalam mengambil langkah.
Sekali lagi, jangan cepat memberi predikat negatif. Hal itu akan membawa
dampak psikologis yang traumatik bagi anak. Belum tentu anak yang sulit
diatur itu nakal, bisa jadi justru itulah tanda-tanda kecerdasan dan
kelebihannya dibandingkan anak lain. Hanya saja, orang tua biasanya tidak
sabar dengan kondisi ini.
Ungkapan bijak Dorothy Law Nolte dalam syair Children Learn What They
Live berikut bisa dijadikan sebagai bahan perenungan,
Bila anak sering dikritik, ia belajar mengumpat
Bila anak sering dikasari, ia belajar berkelahi
Bila anak sering diejek, ia belajar menjadi pemalu
Bila anak sering dipermalukan, ia belajar merasa bersalah
Bila anak sering dimaklumi, ia belajar menjadi sabar
Bila anak sering disemangati, ia belajar menghargai
Bila anak mendapatkan haknya, ia belajar bertindak adil
Bila anak merasa aman, ia belajar percaya
Bila anak mendapat pengakuan, ia belajar menyukai dirinya
Bila anak diterima dan diakrabi, ia akan menemukan cinta .
Cara Pandang Positif
Hendaknya orang tua selalu memiliki cara pandang positif terhadap anak.
Jika anak sulit diatur, maka ia berpikir bahwa anaknya kelebihan energi
potensial yang belum tersalurkan. Maka orang tua berusaha untuk
memberikan saluran bagi energi potensial anaknya yang melimpah ruah itu,
dengan berbagai kegiatan yang positif. Selama ini anaknya belum
mendapatkan alternatif kegiatan yang memadai untuk menyalurkan berbagai
potensinya.
Dengan cara pandang positif seperti itu, orang tua tidak akan emosional
dalam menghadapi ketidaktertiban anak. Orang tua akan cenderung
introspeksi dalam dirinya, bukan sekadar menyalahkan anak dan
memberikan klaim negatif seperti kata nakal. Orang tua akan lebih lembut
dalam berinteraksi dengan anak-anak, dan berusaha untuk mencari jalan
keluar terbaik. Bukan dengan kemarahan, bukan dengan kata-kata kasar,
bukan dengan pemberian predikat nakal.
“Kamu anak baik dan shalih. Tolong lebih mendengar pesan ibu ya Nak”,
ungkapan ini sangat indah dan positif.
“Bapak bangga punya anak kamu. Banyak potensi kamu miliki. Jangan
ulangi lagi perbuatanmu ini ya Nak”, ungkap seorang bapak ketika ketahuan
anaknya bolos sekolah.
Semoga kita mampu menjadi orang tua yang bijak dalam membimbing,
mendidik dan mengarahkan tumbuh kembang anak-anak kita. Hentikan
sebutan nakal untuk mendidik anak-anak.
Tentang Penulis:
Cahyadi Takariawan
Senior Editor di PT Era Intermedia, Pembina
di Harum Foundation, Direktur Jogja family
Center, Staf Ahli Lembaga Psikologi Terapan
Cahaya.
Setiap melihat tayangan di TV mengenai tawuran pelajar, saya jadi teringat teman
kuliah saya dulu.
Pada waktu saya main ke rumahnya, ybs. dengan bangganya menunjukkan
kepada saya album foto saat dirinya masih SMA yang berisi kenangan saat ybs.
sedang di hukum dipenjara, kepala dibotakin bersama teman teman lainnya gara-
gara tawuran.
Jadi bukan resiko dipenjara, resiko dimarahi orang tua, resiko diberi sanksi oleh
sekolah ataupun resiko mati gara gara tawuran yang mereka takuti, melainkan
adanya kebutuhan emosional berupa pengakuan lingkungan bahwa mereka
pemberani, mereka hebat, mereka eksis dsb.
Hal tersebut dapat dimaklumi karena sebagai bagian dari proses menemukan
identitas dirinya, ybs. belum "sadar" bahwa perasaan "eksis" tersebut dapat
diperoleh tidak hanya dari gerombolan bermainnya, melainkan juga dari "perasaan
berguna" bagi orang lain.
Di sinilah tugas para orang-tua ataupun guru harus "bergeser" dari penyuap anak,
pelindung anak, pengawas anak menjadi fasilitator, pemberi peran ataupun
tanggung jawab kepada remaja agar ybs. merasa "berguna" bagi orang lain dan
sekitarnya sehingga mereka menjadi pribadi yang dapat dipercaya dan dapat
diandalkan.
Lalu, dari mana para orang tua ataupun guru dapat memulainya ?
Ubahlah mulai dari cara Anda berkomunikasi dengan para remaja. Ubah dari pola
bahasa "kamu", menjadi pola komunikasi bahasa "saya" sehingga kebiasaan
mengatakan "kamu harus rajin belajar, kamu harus bangun pagi" berubah menjadi
"Mama suka melihat kakak membantu papa" atau "Papa bangga melihat abang
rajin belajar".
Dan hal yang tidak kalah pentingnya adalah pastikan sebagai orang tua, diri Anda terbebas dari masalah kecemasan ataupun mudah panik.
Sumber : servoclinic dot com
Hypnoparenting tidak hanya sekedar Pillow Talk
Oleh: Idzma Mahayattika
Sering banget dapet pertanyaan dari ayah dan bunda “udah Pillow Talk setiap
malam kak, tapi kenapa ga berhasil ya?” atau orang tua yang datang ke tempat
hypnoterapi saya dan bertanya “kalau setelah dihypnosis, anak saya bisa berubah
jadi baik kan?”. Kalau mendapat pertanyaan itu, saya sedih banget. Kenapa?
Karena seakan-akan orang tua menganggap anak seperti robot yang hanya
dengan menanamkan satu baris/kalimat program maka ia akan menjadi seperti
yang orang tua mau. Padahal anak bukanlah robot, ia juga manusia yang tumbuh
dengan segala potensi dan kekurangannya.Sedih :(
Supaya tulisan ini tidak hanya jadi curhat colongan kekecewaan saya pada
orang tua yang hanya ingin instan, saya mau menjelaskan mengapa saya bilang
bahwa Hypnoparenting tidak sekedar Pillow Talk. Hypnoparenting adalah aplikasi
hypnosis dalam dunia pengasuhan (parenting). Jika hypnosis adalah seni
berkomunikasi dengan pikiran bawah sadar (subconscious mind), maka
hypnoparenting ialah seni komunikasi yang digunakan dalam pengasuhan agar
nilai-nilai atau ide tertanam di pikiran bawah sadar anak. Mensugesti anak ketika
mau tidur atau lebih dikenal dengan Pillow talk hanyalah bagian kecil dari
hypnoparenting. Walaupun mungkin, teknik ini yang paling terkenal.
Apakah masalah anak bisa selesai dengan sugesti positif sebelum tidur?
jawaban saya, bisa ya dan bisa tidak. Kenapa tidak? Karena bisa jadi akar
masalahnya belum selesai. Untuk menjelaskan akar masalah, saya akan
menggunakan Neurological level yang banyak digunakan oleh praktisi Hypnosis
dan NLP (neuro linguistic programming). Neurological level menjelaskan
bagaimana perubahan dapat mempengatuhi seseorang (termasuk anak). Ada 6
tingkat dalam neurological level, yaitu spiritual, identitas, kepercayanaan/nilai,
kemampuan, perilaku dan lingkungan. Enam Hal tadi yang mempengaruhi kondisi
seseorang. Dari literatur yang saya dapat dan pengalamanku di dunia anak, anak-
anak lebih banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan, perilaku dan kemampuan.
Kepercayaan/nilai, identitas dan spiritualnya belum terbentuk. Maka sugesti
positif seringkali gagal karena tidak sesuai dengan kondisi lingkungan, perilaku
dan kemampuannya. Misal, kita mensugesti anak untuk suka makan sayur, tapi
lingkungannya tidak terbiasa makan sayur.
Untuk lebih jelas tentang neurological level, ayah bunda bisa membaca tulisan saya sebelumnya yang berjudul “memahami masalah pada anak”.
Pada anak dibawah 7 tahun, critical factor (filter) yang menyaring nilai-nilai
yang masuk ke pikiran bawah sadar belum terbentuk. Sehingga anak seperti
sebuah spons, yang menyerap apapun disekitarnya. Ide, kepercayaan dan nilai
mudah masuk ke pikiran bawah sadar anak dan tertanam disana. Sebuah ide,
kepercayaan serta nilai juga akan tertanam dengan kuat jika disampaikan oleh
orang yg punya otoritas (ortu, guru dll), diulang-ulang, mempunyai muatan emosi
yang tinggi dan diterima dari banyak orang.
Dari penjelasan saya diatas, menurut ayah&bunda lebih kuat mana sugesti yang diterima anak sebelum tidur dengan “sugesti” yang diterima anak dari lingkungannya? Pillow talk untuk Sugesti sebelum tidur, diberikan hanya ketika mau tidur. Tapi sugesti dari lingkungan diterima anak sepanjang waktu, diulang-ulang dan diberikan oleh banyak orang yg punya otoritas.
Maka dari itu, untuk menyelesaikan masalah anak dan menanamkan sikap
positif pada anak, Pillow Talk saja tidak cukup. Butuh Intervensi di lingkungan,
perilaku dan kemampuannya juga. Jadi kalo kita mau anak kita suka makan
sayur, ya Ayah&bundanya juga harus suka makan sayur. Kalo mau anak tidak
ngompol ketika tidur, selain disugesti juga biasakan untuk pipis di kamar mandi
sebelum tidur. Kalau mau anak kita suka berbagi, selain disugesti ajarkan juga
cara berbagi. Dan yang perlu ayah&bunda tahu, Anak dibawah usia 4-5 tahun itu
masih egosentris, belum faham tentang hak milik, jadi ya kita ajari dia tentang hak
milik dan biasakan untuk berbagi.
Dari penjelasan diatas jelas sudah bahwa, hypnoparenting jauh lebih luas
daripada hanya mensugesti anak sebelum tidur. Hypnoparenting dilakukan
sepanjang hari, tidak hanya menjelang tidur. kalo kaya minimarket 24 jam, pasti
ada tanda 24/7 di hypnoparenting :)
Untuk Senyum Anak Indonesia
@K_IDZma
HypnoStoryteller-Family hypnotherapist-coach-trainer
www.kidzsmile.info
|
Check Page Rank of your Web site pages instantly: |
|
This page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service |