Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Translate This Blog

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Showing posts with label Motivasi Ukhuwah. Show all posts
Showing posts with label Motivasi Ukhuwah. Show all posts

MAU MENDIRIKAN KHILAFAH? MULAILAH DARI SEKARANG!!!

Written By Unknown on Monday, December 3, 2012 | 12/03/2012 03:54:00 PM

MAU MENDIRIKAN KHILAFAH? MULAILAH DARI SEKARANG!!!

Oleh: Ustadz Sarwat, Lc

Salah satu yang membuat kita berdecak kagum kepada sejarah umat Islam
dalam masa-masa khilafah Islamiyah adalah persembahan yang diberikan tiap
khilafah itu kepada umat manusia. Salah satu persembahan yang utama
adalah jaminan pendidikan dan kesehatan buat semua orang, bukan hanya
umat Islam, tetapi semua pemeluk agama.

Perguruan Tinggi di dunia Islam sejak dulu tidak pernah memungut bayaran
dari para mahasiswanya. Sebaliknya, semua mahasiswa malah mendapatkan
gaji dan tunjangan dari kampusnya. Baik kampus itu milik negara atau pun
milik swasta.

Maka tidak heran kalau dunia pendidikan saat itu sangat maju dan berkualitas.
Sebab semua orang yang ingin belajar, mendapatkan bantuan dari semua
pihak. Bukan saja dari negara, tapi dari semua elemen masyarakat.

Dan gratisnya pendidikan adalah ciri sebuah khilafah Islamiyah. Kalau hari ini
ada keinginan untuk mengembalikan lagi khilafah, rasanya sangat tepat kalau
ciri-ciri itu kita mulai lebih dahulu. Agar orang tahu, bahwa mendirikan
khilafah itu memang ada manfaatnya yang langsung bisa dirasakan, bukan
saja oleh umat Islam, tetapi juga orang pemeluk agama lain.

Sayangnya, nyaris semua kampanye untuk kembali kepada khilafah saat ini,
berhenti hanya sebagai slogan kosong tanpa makna. Kalau cuma bicara doang,
semua orang juga bisa. Tapi yang dibutuhkan adalah bukti nyata, amal, kerja,
prestasi, hasil, manfaat yang real. Bukan hanya janji-janji kosong bak calon
anggota legislatif. kalau nanti saya terpilih, saya akan begini dan begitu. Kalau
nanti khilafah sudah bediri, nanti kita akan begini dan begitu. Kalau ada
khilafah nanti kita akan makmur.

Itu terbalik. Ciptakan dulu kemakmuran, setidaknya di kalangan yang terbatas,
sehingga semua orang tahu dan melihat langsung buktinya. Baru nanti semua
orang akan melirik dan melihat langsung. Kemudian orang akan mengambil
kesimpulan. Ooo, mereka itu makmur karena mereka menerapkan syariat
Islam, yang kalau semakin besar, akan menjadi khilafah.

Saudara-saudara saya yang sangat getol mengkampanyekan tegaknya khilafah
itu rupanya bingung harus mulai dari mana perjuangan mereka itu. Persis
orang yang bingung, mana duluan, telur atau ayam.

Padahal contoh dari Nabi SAW itu jelas sekali. Tidaklah Madinah itu didirikan,
kecuali kalau sudah ada muhajirin dan anshar. Artinya, tidak mungkin khilafah
Islam itu berdiri, kalau tidak ada umatnya.

Loh, 1,5 milyar ini apa bukan umat?

Benar, mereka itu umat. Tapi umat yang tidak berhak memiliki khilafah.
Karena mereka umumnya tidak kenal agama Islam yang dipeluknya sejak lahir.
Yang mereka kenal sekedar ritual-ritual tanpa makna. Karena faktor keturunan
saja mereka sekarang secara formal beragama Islam.

Benar, mereka itu umat. Tapi mereka tidak bersatu seperti 15 juta orang
yahudi di seluruh dunia. Mereka lebih suka hidup berkelompok-kelompok
sambil asyik saling mengejek dan menjelekkan satu sama lain, sembari
membanggakan kelompok mereka sendiri. Setiap partai membanggakan apa
yang mereka punya. Setiap jamaah merasa paling unggul dengan prestasinya.
Setidak ormas merasa paling berjasa dengan karyanya. Setiap gerakan merasa
paling populer dengan nama besarnya. Setiap murid merasa paling benar
dengan fatwa ustadznya.

Benar, mereka umat. tapi mereka juga belum lagi menerapkan syariah dalam
pribadi dan keluarga mereka. Bahkan mereka pun belum lagi mengerti detail-
detail syariah. Karena mereka tidak pernah belajar ilmu syariah secara serius.
Latar belakang pendidikan mereka tidak lain adalah ilmu-ilmu milik orang kafir
yang sekuler. Ilmu-ilmu keislaman yang mereka punya sangat terbatas,
dangkal, dan sebisa-bisanya saja. Tidak mengambil dari sumber ilmu itu
sendiri secara matang dan serius.

Benar, mereka umat. Tapi apa yang mereka makan, tidak tahu halal haramnya.
Apa yang mereka minum, juga tidak tahu halal haramnya. Apa yang mereka
pakai, juga tidak tahu halal haramnya. Apa yang mereka dapatkan dari rejeki,
juga tidak pasti halal haramnya.

Benar, mereka umat. Tapi mereka tidak tahu siapa yang jadi mahram dan
siapa yang bukan. Mereka tidak tahu cara bagi waris yang diajarkan
Rasulullah SAW. Mereka tidak tahu bahwa mengucapkan talak kepada istri
walau cuma main-main ternyata jatuh juga. Mereka tidak tahu kalau wanita
yang ditalak suaminya itu ada masa iddahnya dan tidak boleh keluar dari
rumah suaminya.

Benar, mereka umat. Tapi mereka tidak tahu bahwa macet di jalanan kota
Jakarta itu tidak bisa dijadikan alasan untuk menjama` shalat. Dan bahwa
menjama` shalat itu tidak boleh dilakukan setelah sampai di rumah, karena
sudah bukan musafir lagi.

Dalam keadaan yang sangat awam dan parah dalam keawaman itu, rasanya
masih mimpi kalau kita bicara tentang tegaknya khilafah islam. Sebab
keawaman-keawaman seperti itu tidak pernah terjadi di masa tegaknya
khilafah Islam selama 14 abad ini. Dan tidaklah khilafah Turki Utsmani runtuh
di tahun 1924 yang lalu, kecuali karena umat ini semakin awam dan terlalu
awam dengan syariah Islam.

Maka kalau kita bercita-cita ingin mengembalikan lagi khilafah Islamiyah
seperti itu, langkah pertama yang harus ditempuh adalah kita wajib
menghidupkan kembali ilmu-ilmu keislaman, sehingga seluruh lapisan umat
yang 1,5 milyar ini MELEK syariah. Bukan cuma melek, tapi sampai paham,
mengerti, nyambung, tahu, ngeh, dan ngelotok. Kemudian mereka menerapkan
syariah itu, minimal mulai dari diri sendiri, kemudian di dalam lingkungan
terdekat, yaitu keluarga dan tetangga. Dan seterusnya sampai masyarakat,
negera dan dunia.

Jangan sampai orang yang teriak-teriak mengajak untuk mendirikan khilafah
malah tidak mengerti detail syariah Islam. Atau tidak bisa berbahasa Arab,
sehingga tidak mampu merujuk kepada turats (warisan) ilmu-ilmu keislaman
yang asli. Jangan sampai dia malah orang yang masih belajar mengeja huruf
Al-Quran, atau baca Quran tidak fasih yang hanya bikin kuping jadi
kesemutan.

Katanya mau mendirikan khilafah, lha wong baca Quran aja termehek-mehek
gitu kok?

Kenapa begitu?

Karena bicara khilafah artinya bicara berjuta bahkan bermilyar pekerjaan besar.
Dan semua itu harus sudah dimulai sejak sekarang, bukan menunggu kalau
khilafah sudah berdiri, baru mau kerja.

Salah satu pekerjaan rumah itu ya belajar dulu deh baca quran yang fasih,
tanpa salah, dan enak didengar. Kalau itu saja masih belum dikerjakan, terus
mimpi bikin khilafah, waduh . . .

Pekerjaan lainnya ?

Ya, itu tadi. Gimana caranya kita bisa punya kampus dan rumah sakit yang
gratis. Sebab di masa khilafah dulu, semua kampus dan rumah sakit memang
gratis, baik yang negeri atau yang swasta. Dan untuk punya kampus atau
rumah sakit yang gratis, tentu tidak harus menunggu khilafah berdiri dulu.

Sebaliknya, justru keberadaan kampus dan rumah sakit gratis itulah yang akan
membuat orang-orang tertarik ikut mendirikan khilafah. Karena memang ada
manfaat yang nyata dan langsung bisa dirasakan umat.
Bukan sekedar koar-koar dan omong kosong.

Wasalam

*dikutip dari: http://www.ustsarwat.com/

12/03/2012 03:54:00 PM | 0 komentar | Read More

FROM THE WORD TO THE SWORD

Written By Unknown on Monday, October 1, 2012 | 10/01/2012 06:15:00 AM

Hamia’l wathis, perang telah berkobar! Ya, perang telah berkobar, di pusat-
pusat propaganda perdamaian dan kampanye hak asasi manusia, di halaman
koran-koran yang huruf-hurufnya menyala, di layar kaca yang penyiarnya
dengan enteng menyematkan gelar teroris bagi siapa saja yang tak sepikiran
dengan Bush, Sharon, dan sejenisnya.

Kekalahan telah menimpa sebagian umat ini, karena mereka percaya sebagian
dari mereka teroris, yang karenanya mereka harus selalu memikul dosa
kolektif. Kata imperialis dan kolonialis tak lagi populer, walaupun stigma teror,
jahat dan barbar, pemaksaan hutang luar negeri, dikte negara-negara donor,
sebenarnya telah menjadi ciri utama imperialisme dan kolonialisme baru.

Mereka telah takluk kepada kata, jauh sebelum takluk kepada senjata. Ada
sebahagian orang terkesiap dengan jargon masyarakat madani, demokrasi dan
hak asasi, lalu lupa kepada hakikat perang abadi antara haq dan bathil, antara
tauhid dan syirik, antara ikhlas dan nifaq. Mereka merasa betul-betul barbar
dan tak beradab, padahal guru sejati ilmu itu adalah barat sendiri, yang
menghajar kuba diteluk babi, membumihanguskan Vietnam, meluluhlantahkan
Afghanistan, bahkan menyerbu Indonesia paska bertekuk lututnya Nippon di
akhir PD II, untuk melancarkan kembalinya Kolonialis Belanda. Yang mengajar
rezim Hafez Assad meratakan Hamah dengan tanah, mengajarkan rezim Faruq
dan Nasser membuat jagal-jagal manusia sungguhan di Liman Thurrah dan
Sijn Askar. Yang mengajarkan Soekarno berkonfrontasi dengan sesama Melayu
(Malaysia), dan Soeharto membantai di Tanjung Priok, Lampung, Aceh, dan
Haur Koneng. Barat modern sama dengan para pendahulu mereka, kaum
kolonial yang memandang pribumi sebagai ekstrimis dan teroris. Apa bukan
dari Mahellan rezim-rezim timur merampasi tanah rakyat, seperti sang guru
merampasi tanah-tanah bangsa Maharlika (Philipina) dengan siasat licik Yang
Punya Surat Tanah ialah Pemilik Tanah. Bedanya Timur lama memandang
Muhammad Toha di Bandung Selatan, Diponegoro, Imam Bonjol, Hasanudin,
dan lain-lain; sebagai pahlawan dan Timur baru memandang Ahmad Yasin,
Muhammad bin Dirah, dan Khaled Misy’al sebagai biang kerok.

Sejumlah Ormas Islam, mengawal perayaan keagamaan segelintir umat
beragama lain yang sukses mengemas isyu dan merekayasa opini. Mereka
kerahkan para pemuda Islam dengan sukarela dan yakin diri yang dipaksakan
seakan mereka adalah kekuatan Khilafah yang kuat dan adil, yang karenanya
harus menjadi rahmatan lil ‘alamin. Padahal sampai hari ini umat tak pernah
merasa aman dari pembakaran masjid, pesantren, dan rumah milik oleh
sesama umat. Bahkan mereka tidak aman dari fatwa untuk tidak berbelanja di
toko sesama saudara Muslim yang berbeda Ormas. Mereka telah terasuki
dosa, perasaan berdosa bangsa Jerman modern yang setiap tahun harus
menangis-nangis merayakan hari penyesalan mereka atas tindakan yang
dilakukan rezim masa lalu, Hitler dan Partai Nazi-nya terhadap kaum (tidak
hanya) Yahudi lebih dari setengah abad silam. Semoga semua usaha ini
bertujuan mulia, melindungi umat yang tak henti-hentinya didera fitnah bom di
berbagai tempat dan di bantai di Maluku, Poso, dan Nangroe Aceh.

Menjadi “Fanatikus” yang Madani atau “Ashri” yang Salafi

Untuk menang, orang perlu kekuatan diri, modal informasi lapangan, data gerak
dan makar lawan serta berbagai kelengkapan. Bila itu semua belum di tangan,
pertolongan dan keajaiban masih dapat diraih. Instuisi berbanding lurus
dengan kecanggihan senjata lawan. Ini kerap dilupakan. Banyak perjuangan
bermodalkan fanatisme yang diejek dan dinaifkan, namun justru membawa
keberuntungan. Bukankah Barat begitu gencar memproduksi istilah,
stigmatisasi, dan jargon terhadap dunia Islam, tak lain sebabnya karena takut
realita umat ini. Mereka bekerja keras agar tubuh umat Islam ini tidak berjalan
ke arah yang mereka cemaskan. Mereka boleh jadi metafor tubuh singa dan
harimau, namun jangan diberi kesempatan berkepala singa dan harimau.

Rekayasa agar kepala itu kepala tikus atau kelinci bahkan ditransplantasikan
dengan kepala kecoak. Transplantasi moral telah berjalan jauh lebih dulu
daripada kemajuan transplantasi dan bedah plastik!

Siapa gerangan petarung yang tak bermoral fanatisme, hari ini dan sepanjang
sejarah! Bahkan orang yang begitu bangga tidak fanatik, sesungguhnya sangat
fanatik dengan ketidakfanatikannya. Ini bukan teror logika, karena sejarah
sekulerisme dan kaum sekuler membuktikan hal tersebut. Dari Kemal sampai
Bush, semua terlibat dalam sensor, penggusuran agama dengan dalih
reformasi, anti terorisme, penyebaran fitnah dan stigma-stigma. Apa ini bukan
fanatisme?

Kita diperintahkan untuk membangun keputusan di atas fakta-fakta, bayyinah
dan burhan serta dilarang membangunnya di atas waham, informasi sumir
kaum fasiq, su’uzhan dan kebencian. Tetapi kita juga dibekali intuisi iman
yang jernih, tajam dan penuh cinta.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam sangat fair ketika menyebut Najasyi
sebagai raja yang tidak membiarkan seorangpun dizhalimi di depan matanya,
bahkan menyuruh para sahabatnya untuk berhijrah ke Ethiopia, negeri Sang
Raja. Namun beliau juga sangat kritis dan sensitif ketika Ummu Salamah
menceritakan lukisan dan gambar para santo dan santi di gereja-gereja
mereka: “Mereka makhluk paling buruk di sisi Allah!” karena sikap kultus dan
pendewaan kepada orang-orang shalih, simbol-simbol umat untuk memproduk
dusta-dusta publik.

Kesadaran Bermusuh

Bukan hanya doktrin dan postulat keagamaan, bahkan pengalaman dan fakta
sejarah telah memberikan pelajaran berharga, bahwa musuh agama dan umat
itu benar-benar ada, permanen dan berpengalaman. Keberhasilan paling besar
mereka ketika berhasil menghilangkan kesadaran bermusuh dari ingatan
Muslimin. Umat didekatkan dengan musuh agar mudah ditikam tanpa rasa
curiga. Kenyataannya mereka lebih nyaman dan aman berdekatan dengan
musuh dan waswas terhadap saudara sendiri. Sebenarnya kesadaran
bermusuh tidak harus melenyapkan kelembutan dan kasih sayang, semangat
positif bagi teraihnya hidayah, bahkan oleh musuh paling keras. Sebaliknya
kelembutan dan kasih sayang tidak boleh melarutkan kewaspadaan terhadap
permusuhan permanen yang mengancam setiap saat. Dalam momen-momen
khusus Allah selalu memberikan bimbingan bagaimana musuh selalu
menginginkan kalian lengah terhadap senjata dan logistikmu (QS An
Nisa’:102), sebagaimana serangan permanen terus berlangsung sepanjang
tahun, sepanjang bulan, pekan, hari, menit dan detik. “Dan mereka terus
menerus akan memerangimu sampai berhasil mengembalikan (memurtadkan)-
mu dari agamamu seandainya mereka mampu…” (QS Al Baqarah:217).

Sudah saatnya semangat nahi munkar umat ditimbang secara adil dan
didudukkan secara proporsional. Kalau tidak nahi munkar akan berubah
menjadi permusuhan internal, dakwah berubah menjadi sumpah serapah dan
kebencian. Dan musuh terus melenggang tenang. Soal umat memang perkara
musykil, apakah mereka telah keluar dari islam atau belum masuk ke dalam
islam. Semoga Allah merahmati Ustadz Hasan Hudhaibi, Salim Bahnasawi,
Musthafa Hilmi, DR. Qardhawi dan yang seperti mereka seputar ulasan tuntas
mereka perkara pengkafiran sesama Muslim. Penyikapan yang benar lahir dari
aqidah yang benar. “Barang siapa yang menyembah Allah hanya dengan cinta
maka ia adalah Zindiq. Barang siapa menyembah Allah hanya dengan harapan
maka ia adalah Murji’ah. Barang siapa menyembah Allah hanya dengan khauf
(takut) maka ia adalah Haruri(Khawarij),” demikian pesan Ibnu Taimiyah.

=RAHMAT ABDULLAH=

10/01/2012 06:15:00 AM | 0 komentar | Read More

????????!!!!!

Written By Unknown on Saturday, September 22, 2012 | 9/22/2012 05:42:00 AM

Woro-Woro..
Ini jaman luar biasa dahsyat super wow gitu..
Bayangkan hanya sekali klik, kita akan mendapat informasi apapun yang kita mau.
Info yang baik ato buruk,
yang mendidik ato menyesatkan,
yang halal maupun haram,
yang mengajak pada persatuan atopun yang mengompori permusuhan....
Semua ada, komplit plit.

Yang ngaku HTI sewot sama IKHWAN,
Yang ngaku IKHWAN gemez sama HTI,
Yang ngaku MTA geram sama NU,
Yang ngaku NU sebel sama MTA,
Yang ngaku SALAFI bilang kalo kelompok diluar kelompoknya adalah ecek-ecek...
hewez-hewez...
NII KW9 yang sesat bin menyesatkan..
Yang syiah... yang ahmadiyah... yang bla..bla..bla...
NU sama Muhammadiyah ... ehm (kayaknya) makin mesra.
Lha trus mau dibawa kemana umat ini? Mau dibawa kemana??!
Kemanaa.. kemanaaa... ke-maa-naaa...??
Ting..tiiing :)

( Sesama muslim adalah bersaudara. Hendaklah bekerjasama dalam hal yang disepakati dan bertoleransi dalam hal perbedaan furuiyah. )

( Hari gini masih ashobiyah dan taklid buta?? Ke laut aja! Yuk, bersatu yuuk.)

Reff : Qs. 21:92-93, 23:52-53

9/22/2012 05:42:00 AM | 0 komentar | Read More