Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Translate This Blog

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Spiritualitas Berkorelasi Positif terhadap Kesehatan

Written By Sugar Sugiyarto on Friday, November 4, 2011 | 11/04/2011 10:04:00 AM

Spiritualitas atau keyakinan bisa membantu seseorang mengobati beberapa penyakit kronis, diantaranya seperti stroke, kanker, cedera saraf tulang belakang, atau cedera otak. Tak hanya itu, spiritualitas juga bisa bermanfaat sebagai sumber dukungan, penuntun hidup, mempengaruhi tingkat kesehatan, dan sumber kekuatan.

Sekretaris Jenderal Kemenkes RI, Ratna Rosita mengatakan, penelitian ilmiah baru-baru ini menunjukkan bahwa spiritualitas dan pengalaman religius bukan hanya sekedar persoalan agama, namun memiliki dasar biologis yang ilmiah. Pengamatan ilmiah menunjukkan, perilaku spiritual seperti berdoa bermanfaat meningkatkan kesehatan melalui perubahan biologis dan kerja otak.

Ratna ketika menghadiri seminar Kesehatan Spiritual Menuju Kesehatan Holistik dalam Pembangunan Karakter dan Pemantapan Integritas Bangsa, di Jakarta (19/10/2011) menyatakan, dalam UU RI no. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan dikatakan, Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Definisi kesehatan yang utuh, termasuk di dalamnya kesehatan spiritual.

Sebuah riset University of Pittsburgh Medical Center, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa orang yang rajin dan rutin mengikuti kegiatan keagamaan secara berkala akan hidup lebih lama ketimbang mereka yang tak pernah aktif di tempat ibadah.

Studi University of Toronto-Scarborough juga menemukan bahwa memikirkan tentang Tuhan dapat membantu mengurangi rasa cemas. Temuan-temuan terbaru itu, “Memperkuat gagasan bahwa agama atau spiritualitas bisa menjadi penyangga dari konsekuensi negatif atas kondisi kesehatan yang kronik,” ujar profesor bidang psikologi kesehatan di University of Missouri, Stephanie Reid-Arndt, yang dikutip situs Livescience.

Para peneliti merekrut 168 orang dari pusat kesehatan akademik Midwestern yang berusia 18 tahun atau lebih tua yang mengalami kondisi penyakit kronis, seperti trauma cedera otak, penderita stroke, cedera saraf tulang belakang, dan kanker.

Meskipun wanita sering dikesankan sebagai pribadi yang lebih religius ketimbang pria, para peneliti menemukan tidak ada perbedaan antara pria dan wanita dalam menyatakan tingkat atau pengalaman spiritualitas mereka.

“Kedua gender ini sama-sama mendapatkan manfaat dari dukungan sosial --kemampuan untuk mendapatkan bantuan dari dan bergantung kepada yang lain-- ditunjukkan oleh para anggota jamaah dan keterlibatan mereka dalam organisasi keagamaan,” ujar Brick Johnstone, profesor psikologi kesehatan yang terlibat dalam riset tersebut.

Namun manfaat dari kegiatan keagamaan pada laki-laki dan perempuan ternyata berbeda. Pada wanita, kesehatan mental yang bagus dikaitkan dengan pengalaman spiritual harian seperti memberikan maaf dan menggunakan agama untuk mengatasi masalah. Wanita juga percaya pada kekuatan cinta, yang ternyata berkaitan erat dengan kemampuan untuk mengatasi masalah kronis yang dihadapinya.

Sedangkan pria mendapatkan manfaat dengan terlibat dalam kegiatan-kegiatan keagamaan. Di antaranya mendapatkan perhatian dari jamaah lain, konseling agama dan kemampuan untuk memaafkan, serta bantuan dari pemimpin agama.

Profesor Santoso, 83 tahun, merasakan manfaat spiritualitas mengembalikan kesehatannya. Dua tahun lalu, dia terbaring tak berdaya di tempat tidur, terserang stroke. Dokter sudah menyerah dan menyatakan jantungnya sudah tak berfungsi. “Tapi keyakinan saya, dan doa dari hati yang dalam, mengembalikan organ yang tak berfungsi kembali normal,” dia menuturkan.
 
Syukur Alhamdulillah!
 
Sumber : esq-news dot com

0 komentar:

Post a Comment

Salam hangat....
Komentar anda adalah tanda jabat erat persahabatan di antara kita.