Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Translate This Blog

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

BISIKAN TENGAH MALAM

Written By Sugar Sugiyarto on Thursday, June 16, 2011 | 6/16/2011 01:38:00 PM

OLEH : ROHSNA LA 'AFIYS

Tiba-tiba hati kalut. Gelisah yang menjajah semakin membawa raga kehilangan auranya. 
Pucat pasi laksana nasi basi.
Kaku bisu bagai mayat diinterogasi.
Daann............
Makin jauh jiwa rapuh ini tenggelam dalam lautan ketakutan yang memporandakan akal sehat.
Semangat hidup lantas tercerabut.
Kepahitan hidup sungguh menjerumuskanku dalam labirin masalah yang seolah tiada ujungnya.
Mental kelelahan tanpa asa,
Ragapun terkulai tiada daya,
Teronggok di pojok bagai mayat hidup yang tulang-tulangnya habis dirampok.
Tuhan............
Sungguh hanya padaMU terbetik tanya : 
                                                               "Aku harus bagaimana?"
*********
Kawan, tenanglah. Masih ada waktu untuk berbaik sangka.
Cerita tadi terjadi sehari yang lalu.
Dan kini, aku telah di sini. Kembali tersenyum menapaki jejak-jejak takdir dalam lembar kisah yang baru.
Bukan kemarin atau esok hari, 
...........TAPI ...........
Sekarang,
Hari ini,
Saat ini.
Masih jelas kuingat, kemarin...... kala senja menenggelamkan Sang Surya.
Dan gelap yang merayap makin kelam dalam selimut malam.
Kawan,
Kau lihat bukan. Langit yang menudungiku berhias bermilyar bintang! 
Menyembul diantaranya, rembulan purnama menebar pesona seolah seorang ratu yang bertahta di singgasana. Cantik luar biasa. Sungguh karya Maha Sempurna.
Heemm......
Aku jadi malu kala dilempar sebuah tanya :
                     "Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan ?"

Namun,
Angin barat laut tiba-tiba datang tanpa diundang.
Menyorong gemawan yang membawa kabar muram. Langit yang semula cerah tentu saja berubah.
Dengan terburu-buru menjadi kelabu, dan sekejap kemudian berubah hitam.
Gelap tiada tandingan.

Kawan........
Aku tergugu dalam kebutaan yang sempurna.
Bagaimana ini ? Sebentar lagi pasti hujan menyerang. Menembakkan bermilyar peluru-peluru air.
Sebanyak gemintang yang bertabur sekian menit yang lalu.
Dan aku, hanya makhluk yang tak punya daya merubah keadaan.
Karena hal itu adalah hak prerogratif Sang Maha Perkasa untuk berkehendak.
Oh Alloh Tuhanku,
Kuatkan dan mampukan aku. Kepada siapa daku mengadu kalau bukan padaMU ?
*********
Nah, benar bukan ?
Sekilat cahaya mengoyak gulita. Dicambukkan bertubi-tubi. Lidah api menjalar ke kanan dan ke kiri.
Disusul gelegar guntur yang menciutkan nyali.
Sedang rintik lembut yang semula datang membelai-belai,
Kini dengan kasar berubah menampar-nampar.
Mereka...... kelam malam, kilat, guntur, dan hujan berkolaborasi menyerbu bumi.
Bagai serombongan brigade ksatrya yang bertugas menumpas pengkhianat abadi.

Apa daya kawan,
Dalam sendiri, dihimpit prahara begini......
Kepala, pundak, lutut dan kaki tak mampu lagi menyangga hati.
Ya.... Hatiku yang mulai bertunas dan berseri setelah sekian lama beku dan mati suri, kini
didera ujian lagi.
Kenapa keadaan begitu memusuhiku ?
Baru sebentar saja gemintang dan rembulan itu menghiburku,
Aku dipaksa merana lagi.

Kawan,
Dalam kekalutan aku berteriak histeris,
Seumpama remaja tanggung yang dicabuti bulu-bulu kakinya.
Bukan...... bukan untuk didengar.
Namun aku sedang memberontak !
Tepatnya pemberontakan kepada nasib buruk.
Ya....... aku bosan berada dalam keterpurukan karena
ditelikung oleh bayanganku sendiri.

Pertama,
Bayangan memori tentang masa lalu yang berdebu.
Memberati tangan dan kakiku dengan rantai rasa bersalah yang membuat nyeri.

Kedua,
Bayangan akan masa depan yang tak tentu.
Mengoyak mentalku dengan pisau ketakutan yang misterius.

Sungguh......
Keduanya telah bersekutu memusuhiku.
Memenuhi rongga dada dengan hasutan-hasutan yang menggerogoti dan melemahkan akal sehat.

*********
 
Waktu yang seakan abadi bertengger di puncak gulita,
akhirnya bergulir lembut melewati sepertiga malam nan sunyi.
Baru sekian menit kantuk mengistirahatkanku, aku
dibangunkan oleh suara yang membisikan sebuah kalimat suci.

Ooiiii..... ternyata aku tidak sendiri !
Namun siapa gerangan Sang Pembisik itu ? Lelakikah ? Perempuankah ??
Dan kenapa pula hanya suara tanpa wujud ? 
Datang tanpa diundang, membisikkan kalimat yang dihunjamkan ke dalam dada lalu
pergi begitu saja tanpa aku bisa menahannya.
Pembisik misterius, pesan misterius.

Berdegup hatiku, heran fikirku,
Aku memang mengenal kalimat itu, namun tak lazim mengucapkannya.
Dengan aneh bibirku lirih mengulang-ulangnya,
                    FAIDZA AZZAMTA FATAWWAKAL  'ALALLAH....
                    FAIDZA AZZAMTA FATAWWAKAL  'ALALLAH......
                    FAIDZA AZZAMTA FATAWWAKAL  'ALALLAH.........
 (Jika kamu sudah membulatkan tekad maka bertawakallah kepada Alloh. 3:159)
 
*********
 
Kawan, itulah kisah kemarin senja hingga subuh ini. Dan aku telah di sini............
Sekarang,
Hari ini,
Saat ini.
Melepaskan belenggu masa lalu,
Membuang ketakutan akan masa depan yang tak tentu,
Menjalani detik demi detik masa kini yang terus melaju,
Dengan tekad yang membulat, dengan semangat yang baru.

"S umunaring suryo 
U tamining cahyo 
G umregah jiwo rogo 
I khtiar lan ndedonga 
Y ekti mring Gusti 
A karyaning jagad 
R inakit sabar lan tawakal 
T uhu satemah sumingkir 
O mbaking gudho rencono."

(Bersinarnya Sang Surya yang merupakan sumber cahaya, membuat jiwa raga bersemangat kembali, dengan ikhtiar dan doa hanya kepada Tuhan Sang Maha Pencipta semesta raya, Dirangkai dengan kesabaran dan tawakal, maka segala rintangan akan menyingkir selama-lamanya.)

>> ROHSNA LA 'AFIYS
Kapal Nuh, 
11 Juni 2011
16.55 WIB

0 komentar:

Post a Comment

Salam hangat....
Komentar anda adalah tanda jabat erat persahabatan di antara kita.