Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Translate This Blog

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Mendidik anak ala Super Nanny

Written By Sugar Sugiyarto on Sunday, October 2, 2011 | 10/02/2011 10:23:00 PM

Mendidik anak itu tentunya bukan persoalan yang mudah, tapi jangan pula dikatakan sulit. Kenakalan saat masih kanak-kanak itu muncul karena orang tua yang gagal mendidiknya. Anak-anak itu seperti sebuah cetakan, dimana yang membuat cetakan itu adalah orang tuanya sendiri. Apakah cetakannya berbentuk bulat, petak, lonjong, dan sebagainya, itu terserah dari orang tua masing-masing. Jika demikian, tentunya kita ingin tahu tehnik membuat cetakan terbaik agar memberikan hasil yang terbaik, mengingat bahwa anak-anak itu adalah manusia-manusia kecil yang kelak akan tumbuh dewasa dan melanjutkan keturunan. Apa jadinya jika manusia-manusia kecil ini gagal mendapatkan pendidikan yang baik?

Hal yang pertama terlintas dalam benak orang tua tentunya adalah perihal hukuman. Ya, itulah yang pertama sekali terlintas. Hukuman berupa kurungan di dalam kamar, menghentikan uang jajan, tidak boleh main, tidak boleh nonton TV, tidak boleh main game, dan sebagainya diterapkan dengan harapan bahwa hal itu akan membuat anak sadar. Tapi sadarkah kita bahwa sebelum anak-anak mengambil langkah untuk berubah, ia akan melihat orang tuanya dulu : Apakah sifat orang tuanya sudah berubah atau tidak? Jika sifat orang tuanya tidak berubah, maka dia pun tidak akan mau berubah. Ini akan ditunjukkannya dengan sikap membangkang.

Bandel dan nakal adalah 2 cara yang sering digunakan anak-anak untuk menarik perhatian orang tuanya. Sering kali anak yang baik tidak begitu menarik perhatian orang tua, tapi malah anak yang nakal yang paling sering mendapatkan perhatian, semisal ucapan, sentuhan, dan sebagainya. Anak-anak membutuhkan itu walaupun ia mendapatkannya dengan cara yang kurang wajar. Walaupun orang tuanya membentak, ia malah tertawa senang karena yang diinginkannya adalah orang tuanya ‘berbicara’ dengannya, tak peduli apakah itu kata-kata kasar ataupun kata-kata yang halus. Ia tidak peduli itu. Seringkali anak-anak baik merasa cemburu dengan anak lain yang bandel karena anak yang bandel ternyata lebih diperhatikan oleh orang tua.

Kita akan coba mengulas tentang tehnik yang digunakan Jo Frost dalam reality show Super Nanny. Berikut ini ulasannya :
1. Menemukan masalah. Masalah utama umumnya berasal dari orang tua itu sendiri. Anak yang bandel dan tidak patuh disebabkan ia melihat orang tuanya sebagai sosok yang lemah, tidak berdaya, bodoh, dan tidak tegas. Ada juga yang melihat orang tuanya sebagai sosok pendiam, sulit mengakrabkan diri, dan pemarah, sehingga satu-satunya cara untuk membuat orang tuanya berbicara padanya adalah dengan memancing emosinya. Ini tentunya kurang baik. Dan ini tentunya bisa dihindari asalkan orang tua tersebut menyadari kekeliruannya selama ini dan mau memperbaikinya. Langkah pertama ini disebut Parent Education.

2. Memberlakukan aturan. Logikanya, anak-anak menjadi bandel karena tidak tahu aturan apa yang harus dipatuhinya. Karena itu mesti ada tolok ukur yang jelas dan TERLIHAT. Kita akan melihat Jo membawa sebuah papan berisi aturan-aturan yang harus dipatuhi. Aturan-aturan ini beragam macamnya disesuaikan dengan masalah yang dihadapi. Contohnya : masalah jam tidur yang tidak teratur maka diatasi dengan pemberlakuan jadwal tidur; masalah anak-anak suka masuk kamar kakak atau abangnya seenaknya diatasi dengan memasang tanda di depan pintu yang menjadi sinyal kapan boleh masuk dan kapan tidak; masalah senang membuat ruangan berantakan dijawab dengan membuat sebuah permainan ‘meletakkan benda-benda pada tempatnya’. Yang berhasil meletakkan dengan benar, ia boleh mengambil bola biru dan dimasukkan ke dalam tabung. Jika tabung itu penuh dengan bola biru, maka ia pun mendapatkan penghargaan. Jika ia memberantakkannya, ia harus mengambil bola merah. Jika tabung penuh dengan bola merah, maka ia harus siap dengan hukuman yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Anehnya, kita akan melihat anak-anak yang nakal itu bersikeras tidak mau mengambil bola merah padahal dia berbuat kesalahan, tapi ia akhirnya mengambilnya lalu memasukkan ke dalam tabung sambil menangis terisak-isak. Ini akan membuatnya kapok. Karena apa? Karena ia tidak ingin terlihat buruk di depan orang tuanya dan bola merah itu membuatnya terlihat sangat buruk.
3. Memberlakukan hukuman. Syarat utama menggunakan cara ini adalah orang tua tetap tenang, bisa meredam emosi, sabar, dan jangan menyerah. Tidak boleh ada kata-kata kasar, bentakan, apalagi makian, saat seorang anak berbuat salah. Tidak boleh ada kekerasan fisik seperti pukulan, cubitan, atau jeweran, karena anak-anak tidak membutuhkan itu. Ingat! Kenakalan itu awalnya karena didikan orang tua yang salah, jadi jangan sampai diperparah dengan adanya kekerasan secara fisik. Hukuman yang digunakan adalah memisahkan anak dari tempatnya dan membawanya ke sebuah tempat tertentu seperti sudut ruangan, kursi, dan sebagainya. Jika ia lari dari tempat tersebut, maka jemput ia dan letakkan lagi di sudut hukuman. Lakukan berkali-kali, dan biasanya si anak akan menyerah juga pada akhirnya. Ia akan menangis merengek-rengek tanpa beranjak dari sudut hukuman. Jangan mengunci pintu, karena ini justru akan memperburuk keadaan. 

Mengunci pintu saat hukuman dijalankan akan membuat anak senang menyimpan rahasia dalam hatinya nanti, tampak manis di depan, tapi tidak demikian saat tidak terlihat. Jika si anak meronta-ronta sambil berguling-guling di lantai, yang harus dilakukan orang tua adalah duduk dengan dua lutut menyentuh lantai (bukan sekedar berdiri sambil membungkukkan badan), mendekatkan wajah ke wajah si anak, lalu menasehatinya dengan nada rendah (bukan suara tinggi). Tehnik “mendekat dan bersuara rendah” ini ternyata ampuh buat membuat seorang anak patuh dan tunduk. Ini juga yang menjelaskan mengapa rata-rata anak lebih segan kepada ayahnya ketimbang ibunya. Ya karena suara ayahnya lebih rendah, lebih berat, ketimbang suara ibunya.
4. Mengajari anak meminta maaf karena kesalahannya, lalu orang tua pun meminta maaf karena telah menghukumnya. Lalu jelaskan kenapa kita menghukumnya. “Maafkan ibu, sayang. Ibu menghukummu karena kamu tidak patuh pada ibu.” Dengan cara demikian, si anak mendapat contoh secara langsung bahwa meminta maaf itu bukanlah sebuah hal yang memalukan, gengsi, bukan pula sebuah hal yang sulit. Jo kadang mengajari mereka untuk saling mengatakan “I’m sorry, Mom. I love you.” Lalu, dibalas dengan pelukan hangat sang ibu sambil berkata, “I love you, too.” Atau Jo memancing mereka dengan pertanyaan, “How much do you love your daughter? How much do you love your mom?” secara bergantian.
5. Ajari sambil bermain, lalu berikan apresiasi. Untuk yang satu ini saya terkesan dengan orang tua yang tuli yang berusaha mengajari bahasa isyarat kepada 3 orang anaknya sambil bermain. Si ibu membawa papan tulis besar, dan juga gambar-gambar lucu, dan si anak harus memperagakan dalam bahasa isyarat untuk menjawab nama dari gambar tersebut. Luar biasa! Sedangkan si ayah membuat kotak-kotak. Jika salah seorang anak berhasil menjawab dengan benar (dengan bahasa isyarat, tentu), maka ia boleh maju selangkah. Maka ketiga anak tersebut berusaha semaksimal mungkin untuk menjawab dengan benar. Siapa yang paling cepat sampai pada kotak paling akhir, maka dialah yang menang dan berhak atas hadiah yang sudah dipersiapkan. Intinya adalah “Belajar sambil bermain. Bermain sambil belajar.”
6. Temani anak-anak sebelum tidur. Kita mungkin lupa bahwa menceritakan sesuatu sebelum anak tidur adalah sebuah cara yang luar biasa efektif untuk mendekatkan hubungan anak dengan orangtuanya. Suara ibu atau ayah yang pelan saat menceritakan dongeng sungguh sangat memikat pendengaran anak-anak. Ia akan meresapinya, membayangkannya dalam benaknya, sehingga membuatnya lelah. Dan tak lama ia pun tertidur. Selain itu, menceritakan dongeng sebelum tidur akan membuat jam tidur menjadi saat-saat yang menyenangkan buat seorang anak. (Saya jadi ingat saat-saat ibu saya menceritakan dongeng sebelum tidur. Jika ibu tidak sempat karena ketiduran, maka nenek yang akan menceritakannya kepada kami. Entah kenapa, cerita sebelum tidur ini merupakan momentum yang amat menarik dan sayang untuk dilewatkan.)
7. Berlibur. Berlibur di sini dalam artian memiliki waktu sehari penuh untuk menemani anak bermain-main. Ini tidak berarti harus pergi ke tempat-tempat tamasya. Yang terpenting adalah kreatifitas membuat sebuah suasana liburan. Saya kebetulan pernah melihat di tayangan Super Nanny tersebut dimana seorang ayah mengajak anak-anak berlibur dengan cara berguling-guling dan bermain kejar-kejaran di halaman rumput belakang rumahnya. Dan itu ternyata cukup membuat anaknya senang.

Ketika seorang anak merasa cukup mendapatkan kebahagian dari kedua orang tuanya, maka seolah-olah ia tidak membutuhkan apa-apa lagi di dunia ini selain kedua orang tuanya itu. Semoga bermanfaat.

Sumber : dinikawai dot blogspot

http://rolays.blogspot.com/

0 komentar:

Post a Comment

Salam hangat....
Komentar anda adalah tanda jabat erat persahabatan di antara kita.