Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Translate This Blog

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Menikmati (Kemewahan) Demokrasi

Written By Sugar Sugiyarto on Saturday, March 10, 2012 | 3/10/2012 11:48:00 AM

Oleh : Rohsna La 'Afiys

"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu,  niscaya jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin, kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)." (Q.S 102. Ayat 1-8)


Menikmati Demokrasi, Merumuskan Strategi 
Di dalam buku "Menikmati Demokrasi, Strategi Dakwah Meraih Kemenangan" karya Anis Matta terbitan Insan Media publishing House, dirumuskan beberapa strategi dalam memenangkan agenda dakwah di era demokrasi.

Dikatakan bahwa dakwah juga bisa menikmati demokrasi. Para dai bebas berinteraksi dengan objek dakwah. Tapi, para pelaku kemungkaran pun bebas melakukan kemungkaran. Yang berlaku di sini bukan hukum benar – salah, tapi hukum legalitas. Sesuatu itu harus legal, walaupun salah. Sesuatu yang benar tapi tidak legal adalah salah. Begitulah aturan main demokrasi.

Yang kemudian harus kita lakukan adalah mengintegrasikan kebenaran dengan legalitas. Bagaimana membuat sesuatu yang salah dalam pandangan agama menjadi tidak legal dalam pandangan hukum positif? Maka, penetrasi kekuasaan harus dilakukan dengan urutan – urutan seperti ini.
Pertama, menangkanlah wacana publik agar opini publik berpihak kepada kita. Inilah kemenangan pertama yang mengawali kemenangan – kemenangan selanjutnya.
Kedua, formulasikan wacana itu ke dalam draft hukum untuk dimenangakan dalam wacana legislasi melalui lembaga legislatif. Kemenangan legislasi ini menjadi legitimasi bagi negara untuk mengeksekusinya.
Ketiga, pastikan bahwa para eksekutif pemerintahan melaksanakan dan menerapkan hukum tersebut.

Gerakan dakwah yang sengaja menyemplungkan diri di kancah pertempuran berlumpur dalam era 'demokrasi', harus memiliki imunitas tingkat tinggi dalam kungkungan bandit-bandit berkedok politikus yang menyebarkan virus penyakit AL WAHN. Dalam hal ini gerakan dakwah yang tentunya mempunyai special idealisme bisa dikatakan merupakan kelompok minoritas. Jamaknya sebagai kelompok minoritas harus menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar bila ingin mempertahankan eksistensinya. Masalahnya, cukup sulit memadukan antara menjaga kemurnian ideologi dengan  menjaga hubungan yang harmonis dalam lingkungan yang ada. Inilah salah satu PR besar yang selama ini tak henti selalu dirumuskan (ulang). Seharusnya berbagai eksperimen perumusan strategi tak boleh diletakkan di pundak orang yang pintar namun memiliki naluri keterburuan (Isti'jal). Idealnya seorang (atau beberapa orang) perumus adalah selain pintar dan cerdas namun juga harus memiliki aura kebijaksanaan tingkat tinggi. Memang kadang susah membedakan antara percepatan dengan keterburuan. Namun pastinya hati nurani si bijak akan bisa memilah dan memilih. Di sinilah letak keunggulan si bijak.
Kenapa begitu ? Karena si bijak tidak cukup hanya mengatakan bahwa pemimpin yang besar adalah yang cita-citanya telah mendahului langkah kakinya, namun si bijak selain mengatakan hal itu juga senantiasa membuat rumusan-rumusan yang mengkawal proses pencapaian cita-cita tersebut agar tidak terburu-buru dan terdistorsi

Siapa Yang (Telah) Memenangkan Wacana Publik ? 
Dalam hal memenangkan wacana publik, mengambil contoh Jokowi Walikota Solo dari PDIP telah cukup sukses melakukannya, dan bahkan PDIP sebagai sebuah partai telah lumayan sukses di tahapan ini. Mulai dari cara 'penggusuran' cantik terhadap para PKL, mempertahankan situs sejarah yg berbuntut 'permusuhan' nya dengan gubernur jateng, sampai memblow up mobil esemka sebagai mobil dinas sekaligus mewacanakannya sebagai mobil 'politik' nasional. Sampai di sini siapapun, bahkan musuh paling dengki sekalipun akan mengacungkan empat jarinya untuk kelihaian jokowi (dan PDIP tentunya).

Lantas bagaimana dengan gerakan dakwah (baca : partai Islam) dalam hal memenangkan wacana publik ? Sebut saja beberapa nama partai Islam yang sedikit banyak mewakili gerakan dakwah seperti PAN, PKB, PKS dan PPP. Kalau kita kembalikan kepada logika demokrasi, maka keempatnya belumlah layak dikatakan telah memenangkan wacana publik (secara nasional). Alih-alih memenangkan wacana publik, mereka terkesan jalan sendiri-sendiri dan ogah berkolaborasi bahkan beberapa di antaranya tak lebih dari partai sekuler berbaju muslim dengan cara berpolitik rendahan, semisal melakukan money politic demi kemenangan sesaat (ini rahasia umum yang mencoreng citra partai Islam). Bahkan hasil survey beberapa lembaga yang lagi-lagi menempatkan partai Islam diurutan buncit. Astaghfirullah. 

 

Jam Tangan Rolex Di Rumah Bertingkat Tiga VS Unta dan pedang Rasullullah

Abu Bakar Ash Shiddiq merelakan sebagian hartanya untuk menebus dan memerdekakan Bilal si budak belian. 
............................................
...............................................
................................................
Bersambung............................


Footnote :
- "Menikmati Demokrasi, Strategi Dakwah Meraih Kemenangan" karya Anis Matta terbitan Insan Media   publishing House.

0 komentar:

Post a Comment

Salam hangat....
Komentar anda adalah tanda jabat erat persahabatan di antara kita.