Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Translate This Blog

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Semua Terpulang Ke Diri Sendiri

Written By Sugar Sugiyarto on Friday, July 20, 2012 | 7/20/2012 03:03:00 PM


Hidup adalah tentang menyadari kehadiran. Fenomena kehidupan dihadirkan kepada kita lewat pintu-pintu panca indera. Lalu dengan segala cara pemaknaan, kita mengubah kehadiran menjadi kenyataan. Siapapun kita, tentu berharap apa yang hadir dapat kita maknai sebagai keindahan, kebaikan, dan kebenaran menurut keyakinan kita. Dan jika semuanya terintegrasi dan selaras, kita menyebut kenyataan hidup kita sebagai hidup yang indah, baik, dan benar.

Mengapakah, bertemu dengan duri di tengah jalan dan lalu menyingkirkannya kita diimbali pahala? Bukankah kita bisa melewatinya tanpa menginjaknya dan lalu melupakannya? Sudah selesaikan urusan kita? Karena dengan melihatnya saja kita telah menghadirkannya ke dalam kehidupan. Lalu, pemaknaan kita memproyeksikan bagaimana orang lain yang mungkin tidak melihatnya tanpa sengaja menginjaknya dan menjadi celaka.

Cerdasnya akal dan pikiran kita memproyeksikan kemungkinan kenyataan buruk yang akan terjadi. Sekalipun itu terjadi pada orang lain, bayangan itu saja sudah menjadi sesuatu yang tidak indah, tak baik, dan tak benar sesuai keyakinan kita. Menyingkirkannya demi orang lain, bukanlah untuk orang lain, tapi untuk keindahan kenyataan hidup kita sendiri yang tak ingin mendengar kabar si Fulan menginjak duri. Artinya, kita telah berupaya mengindahkan, membaikkan, dan membenarkan apa yang akan menjadi isi dari kenyataan hidup kita.

Kita ingat, kita diajari tentang “kalimat yang baik”. Mendengar musibah ber-innalillahi. Melakukan kesalahan ber-istighfar. Mendapat nikmat bersyukur. Merasa dengki meminta ampun. Melihat kedahsyataan ber-Masya Allah. Mencium bau busuk begitu juga. Hanya dengan mendengar, melihat, merasakan, mencium, dan dengan segala cara lain untuk bereaksi terhadap kehadiran yang mungkin ada, kita telah mendatangkan berbagai bentuk potensi kenyataan kehidupan. “Kalimat yang baik” adalah cara pemaknaan terbaik yang dapat kita lakukan dengan mengingat Yang Maha Menghadirkan. Sekali lagi, kita mencoba mengindahkan, membaikkan, dan membenarkan hidup kita.

Itu sebabnya (maaf saya harus mengatakan ini), terkait pesawat Sukhoi yang kemarin jatuh itu, setiap kita punya porsi tanggungjawab tentangnya. Kok bisa? Ya, sebab dengan hanya melihat di televisi, membaca di koran, atau mendengar dari radio saja, kita telah menghadirkan berita buruk itu ke dalam hidup kita. Sekalipun hanya berita, keburukan adalah keburukan. Maka sekali lagi, “kalimat yang baik”, perasaan yang tepat serta proporsional, dan tindakan yang benar, adalah reaksi yang tepat demi tetap menjadikannya kenyataan hidup yang bermakna. Dan tanggungjawab itu, adalah tanggungjawab kita atas indah, baik, dan benarnya kenyataan hidup kita sendiri.

Itu sebabnya mereka yang bijak mengatakan, yang baik atau yang buruk, tentang pikiran, perasaan, dan perbuatan kita, tak pernah mengenai orang lain dan selalu terpulang kepada diri sendiri.
Si Fulanah mengalami musibah penjambretan. Benar bahwa dia berhak untuk bereaksi dengan membalas setimpal. Membalas setimpal adalah menegakkan keadilan, itu indah, baik, dan benar. Membalas melebihi porsinya, adalah memburukkan kenyataan hidup Fulanah sendiri sebanyak dua kali. Pertama, Fulanah mengklarifikasi kehadiran musibah itu menjadi kenyataan kehidupan yang mana musibah itu tak indah, tak baik, dan tak benar. Kedua, Fulanah membalas berlebihan adalah menghadirkan musibah untuk kedua kalinya, yaitu dengan menciptakan dendam dan dendam pastilah bukan sesuatu yang indah, baik, dan benar menurut keyakinan Fulanah.

Lepas dari siapa yang teraniaya dan siapa yang menganiaya, Fulanah tetap saja telah menghadirkan kenyataan buruk ke dalam hidupnya dengan pemaknaannya tentang kejadian itu sebagai “musibah”. Maka, hal terpenting yang perlu dilakukannya adalah justru meminta maaf kepada diri sendiri atas pemaknaan yang tak indah, tak baik, dan tak benar itu. Semua itu memang tak bisa dihindari kehadirannya sehingga kita “terpaksa” memaknainya sebagai keburukan. Itu sebabnya pula kita mengatakan “tak ada manusia yang sempurna”. Karena, di dalam koleksi makna hidup kita, kita juga tak bisa menghindari label-label buruk yang tak indah, tak baik, dan tak benar di mana setiap saat – kita sadari atau tidak, kita gunakan untuk memaknai (baca: menciptakan) kenyataan kehidupan.

Siapapun yang mengalami perampokan, lepas dari siapa yang dirampok dan siapa yang merampok, tetap saja si korban perampokan berhutang maaf pada diri sendiri, karena telah mengklarifikasi “telah terjadi perampokan di dalam hidup saya, dan itu bukan sesuatu yang indah, baik, dan benar”. Siapa yang mengklarifikasi, siapa yang memaknai, dan siapa yang merasakan? Dan klarifikasi itu, akan menjadi isi dari file memori, dan isi file memori adalah dasar-dasar mengambil keputusan di masa depan. Manusia memang tak sempurna. Keputusan seperti apa yang didasarkan pada informasi yang tak indah, tak baik, dan tak benar, plus ia sama sekali belum berdamai dan menetralisir makna itu?

Kita mungkin bertanya, bagaimana mungkin Beliau yang telah dijamin masuk surga, masih saja meminta ampun kepada Tuhan? Dan ketika ia ditanya, Beliau menjawab dengan lebih membingungkan, “tak bolehkah aku bersyukur?” begitu kata Beliau. Apa yang Beliau mintakan ampun dan apa yang beliau syukuri?
Beliau mensyukuri kesadarannya yang masih mampu memberi makna tentang kenyataan kehidupan. Beliau menyadari bahwa dirinya telah dijamin masuk surga, tapi pada saat yang sama Beliau mengerti bahwa Beliau sendiri masih menghadirkan segala ketidakindahan, ketidakbaikan, dan ketidakbenaran ke dalam kenyataan kehidupannya lewat segala pemaknaan, dengan mengklarifikasi “ada manusia jahiliyah”, “ada yang memusuhi saya”, “kejahatan masih berseliweran”, “kesyirikan merajalela”, dan seterusnya. Dan Beliau, meminta ampun kepada Tuhan dan meminta maaf kepada diri sendiri atas segala pemaknaan yang mengkreasi segala kenyataan hidup itu.

Jika kita kecewa tentang apapun dalam hidup kita, kita punya sedikit hak untuk bereaksi sebagai manusia normal. Lepas dari itu, apa yang akan kita lakukan terkait kenyataan bahwa diri kita sendiri jugalah yang menciptakan kekecewaan itu dan kita menyakini bahwa “kecewa” bukanlah sesuatu yang indah, baik, atau benar?

Maafkan aku wahai diri, aku tak bisa memaknai lain selain “kecewa”, dan aku tahu bahwa kekecewaan kuyakini tidak indah, tak baik, dan tak benar bagimu. Dengan terpaksa kuciptakan kenyataan hidup seperti ini bagimu. Maafkan aku, aku mencintaimu.

Jika engkau memusuhi orang, engkau memusuhi diri sendiri dengan mengklarifikasi (baca: menciptakan) permusuhan di dalam hidup. Bukankah “permusuhan” adalah musuh dari keyakinanmu?
Jika engkau menganiaya orang lain, engkau menganiaya diri sendiri, dengan menciptakan “penganiayaan” di dalam hidup, dan bukankah “penganiayaan” adalah sebentuk aniaya terhadap apa yang engkau yakini?
Jika engkau marah, bukankah dirimu sendiri mungkin marah atas kemarahan itu, sebab kemarahan itu mungkin tidak indah, baik, atau benar?

Jika engkau sinis, bukankah dirimu tak menyukai itu? Buktikan saja, dengan merasakan apa yang engkau rasakan saat orang lain sinis padamu.
Yang baik datang dari Tuhan dan yang buruk dari diri sendiri.
Yang baik dibalas kebaikan oleh Tuhan dan yang buruk akan terkena ke diri sendiri.


Sumber : http://blog.qacomm.com/semua-terpulang-ke-diri-sendiri/

0 komentar:

Post a Comment

Salam hangat....
Komentar anda adalah tanda jabat erat persahabatan di antara kita.