Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Translate This Blog

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

FROM THE WORD TO THE SWORD

Written By Sugar Sugiyarto on Monday, October 1, 2012 | 10/01/2012 06:15:00 AM

Hamia’l wathis, perang telah berkobar! Ya, perang telah berkobar, di pusat-
pusat propaganda perdamaian dan kampanye hak asasi manusia, di halaman
koran-koran yang huruf-hurufnya menyala, di layar kaca yang penyiarnya
dengan enteng menyematkan gelar teroris bagi siapa saja yang tak sepikiran
dengan Bush, Sharon, dan sejenisnya.

Kekalahan telah menimpa sebagian umat ini, karena mereka percaya sebagian
dari mereka teroris, yang karenanya mereka harus selalu memikul dosa
kolektif. Kata imperialis dan kolonialis tak lagi populer, walaupun stigma teror,
jahat dan barbar, pemaksaan hutang luar negeri, dikte negara-negara donor,
sebenarnya telah menjadi ciri utama imperialisme dan kolonialisme baru.

Mereka telah takluk kepada kata, jauh sebelum takluk kepada senjata. Ada
sebahagian orang terkesiap dengan jargon masyarakat madani, demokrasi dan
hak asasi, lalu lupa kepada hakikat perang abadi antara haq dan bathil, antara
tauhid dan syirik, antara ikhlas dan nifaq. Mereka merasa betul-betul barbar
dan tak beradab, padahal guru sejati ilmu itu adalah barat sendiri, yang
menghajar kuba diteluk babi, membumihanguskan Vietnam, meluluhlantahkan
Afghanistan, bahkan menyerbu Indonesia paska bertekuk lututnya Nippon di
akhir PD II, untuk melancarkan kembalinya Kolonialis Belanda. Yang mengajar
rezim Hafez Assad meratakan Hamah dengan tanah, mengajarkan rezim Faruq
dan Nasser membuat jagal-jagal manusia sungguhan di Liman Thurrah dan
Sijn Askar. Yang mengajarkan Soekarno berkonfrontasi dengan sesama Melayu
(Malaysia), dan Soeharto membantai di Tanjung Priok, Lampung, Aceh, dan
Haur Koneng. Barat modern sama dengan para pendahulu mereka, kaum
kolonial yang memandang pribumi sebagai ekstrimis dan teroris. Apa bukan
dari Mahellan rezim-rezim timur merampasi tanah rakyat, seperti sang guru
merampasi tanah-tanah bangsa Maharlika (Philipina) dengan siasat licik Yang
Punya Surat Tanah ialah Pemilik Tanah. Bedanya Timur lama memandang
Muhammad Toha di Bandung Selatan, Diponegoro, Imam Bonjol, Hasanudin,
dan lain-lain; sebagai pahlawan dan Timur baru memandang Ahmad Yasin,
Muhammad bin Dirah, dan Khaled Misy’al sebagai biang kerok.

Sejumlah Ormas Islam, mengawal perayaan keagamaan segelintir umat
beragama lain yang sukses mengemas isyu dan merekayasa opini. Mereka
kerahkan para pemuda Islam dengan sukarela dan yakin diri yang dipaksakan
seakan mereka adalah kekuatan Khilafah yang kuat dan adil, yang karenanya
harus menjadi rahmatan lil ‘alamin. Padahal sampai hari ini umat tak pernah
merasa aman dari pembakaran masjid, pesantren, dan rumah milik oleh
sesama umat. Bahkan mereka tidak aman dari fatwa untuk tidak berbelanja di
toko sesama saudara Muslim yang berbeda Ormas. Mereka telah terasuki
dosa, perasaan berdosa bangsa Jerman modern yang setiap tahun harus
menangis-nangis merayakan hari penyesalan mereka atas tindakan yang
dilakukan rezim masa lalu, Hitler dan Partai Nazi-nya terhadap kaum (tidak
hanya) Yahudi lebih dari setengah abad silam. Semoga semua usaha ini
bertujuan mulia, melindungi umat yang tak henti-hentinya didera fitnah bom di
berbagai tempat dan di bantai di Maluku, Poso, dan Nangroe Aceh.

Menjadi “Fanatikus” yang Madani atau “Ashri” yang Salafi

Untuk menang, orang perlu kekuatan diri, modal informasi lapangan, data gerak
dan makar lawan serta berbagai kelengkapan. Bila itu semua belum di tangan,
pertolongan dan keajaiban masih dapat diraih. Instuisi berbanding lurus
dengan kecanggihan senjata lawan. Ini kerap dilupakan. Banyak perjuangan
bermodalkan fanatisme yang diejek dan dinaifkan, namun justru membawa
keberuntungan. Bukankah Barat begitu gencar memproduksi istilah,
stigmatisasi, dan jargon terhadap dunia Islam, tak lain sebabnya karena takut
realita umat ini. Mereka bekerja keras agar tubuh umat Islam ini tidak berjalan
ke arah yang mereka cemaskan. Mereka boleh jadi metafor tubuh singa dan
harimau, namun jangan diberi kesempatan berkepala singa dan harimau.

Rekayasa agar kepala itu kepala tikus atau kelinci bahkan ditransplantasikan
dengan kepala kecoak. Transplantasi moral telah berjalan jauh lebih dulu
daripada kemajuan transplantasi dan bedah plastik!

Siapa gerangan petarung yang tak bermoral fanatisme, hari ini dan sepanjang
sejarah! Bahkan orang yang begitu bangga tidak fanatik, sesungguhnya sangat
fanatik dengan ketidakfanatikannya. Ini bukan teror logika, karena sejarah
sekulerisme dan kaum sekuler membuktikan hal tersebut. Dari Kemal sampai
Bush, semua terlibat dalam sensor, penggusuran agama dengan dalih
reformasi, anti terorisme, penyebaran fitnah dan stigma-stigma. Apa ini bukan
fanatisme?

Kita diperintahkan untuk membangun keputusan di atas fakta-fakta, bayyinah
dan burhan serta dilarang membangunnya di atas waham, informasi sumir
kaum fasiq, su’uzhan dan kebencian. Tetapi kita juga dibekali intuisi iman
yang jernih, tajam dan penuh cinta.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam sangat fair ketika menyebut Najasyi
sebagai raja yang tidak membiarkan seorangpun dizhalimi di depan matanya,
bahkan menyuruh para sahabatnya untuk berhijrah ke Ethiopia, negeri Sang
Raja. Namun beliau juga sangat kritis dan sensitif ketika Ummu Salamah
menceritakan lukisan dan gambar para santo dan santi di gereja-gereja
mereka: “Mereka makhluk paling buruk di sisi Allah!” karena sikap kultus dan
pendewaan kepada orang-orang shalih, simbol-simbol umat untuk memproduk
dusta-dusta publik.

Kesadaran Bermusuh

Bukan hanya doktrin dan postulat keagamaan, bahkan pengalaman dan fakta
sejarah telah memberikan pelajaran berharga, bahwa musuh agama dan umat
itu benar-benar ada, permanen dan berpengalaman. Keberhasilan paling besar
mereka ketika berhasil menghilangkan kesadaran bermusuh dari ingatan
Muslimin. Umat didekatkan dengan musuh agar mudah ditikam tanpa rasa
curiga. Kenyataannya mereka lebih nyaman dan aman berdekatan dengan
musuh dan waswas terhadap saudara sendiri. Sebenarnya kesadaran
bermusuh tidak harus melenyapkan kelembutan dan kasih sayang, semangat
positif bagi teraihnya hidayah, bahkan oleh musuh paling keras. Sebaliknya
kelembutan dan kasih sayang tidak boleh melarutkan kewaspadaan terhadap
permusuhan permanen yang mengancam setiap saat. Dalam momen-momen
khusus Allah selalu memberikan bimbingan bagaimana musuh selalu
menginginkan kalian lengah terhadap senjata dan logistikmu (QS An
Nisa’:102), sebagaimana serangan permanen terus berlangsung sepanjang
tahun, sepanjang bulan, pekan, hari, menit dan detik. “Dan mereka terus
menerus akan memerangimu sampai berhasil mengembalikan (memurtadkan)-
mu dari agamamu seandainya mereka mampu…” (QS Al Baqarah:217).

Sudah saatnya semangat nahi munkar umat ditimbang secara adil dan
didudukkan secara proporsional. Kalau tidak nahi munkar akan berubah
menjadi permusuhan internal, dakwah berubah menjadi sumpah serapah dan
kebencian. Dan musuh terus melenggang tenang. Soal umat memang perkara
musykil, apakah mereka telah keluar dari islam atau belum masuk ke dalam
islam. Semoga Allah merahmati Ustadz Hasan Hudhaibi, Salim Bahnasawi,
Musthafa Hilmi, DR. Qardhawi dan yang seperti mereka seputar ulasan tuntas
mereka perkara pengkafiran sesama Muslim. Penyikapan yang benar lahir dari
aqidah yang benar. “Barang siapa yang menyembah Allah hanya dengan cinta
maka ia adalah Zindiq. Barang siapa menyembah Allah hanya dengan harapan
maka ia adalah Murji’ah. Barang siapa menyembah Allah hanya dengan khauf
(takut) maka ia adalah Haruri(Khawarij),” demikian pesan Ibnu Taimiyah.

=RAHMAT ABDULLAH=

0 komentar:

Post a Comment

Salam hangat....
Komentar anda adalah tanda jabat erat persahabatan di antara kita.