Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Translate This Blog

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Humor Dan Tawa Sebagai Terapi

Written By Sugar Sugiyarto on Thursday, December 30, 2010 | 12/30/2010 09:37:00 PM

Tertawa terbahak-bahak, tertawa kecil, tertawa sinis? Mengapa sebenarnya manusia tertawa? Apakah tawa mempunyai tujuan tertentu?
Para ilmuwan berpendapat, tawa adalah salah satu cara manusia berkomunikasi. Sebelum manusia belajar bicara, ia sudah menggunakan tawa untuk mengungkapkan perasaannya. Kemampuan berbicara dan tertawa dihasilkan bagian otak yang berbeda. Jika pusat koordinasi bahasa manusia terdapat di bagian cortex atau bagian depan otak, maka tawa dihasilkan oleh sistem limbik yangÿmerupakan bagian emosional otak. Kedua bagian otak ini berhubungan dalam mengkoordinasi rasa humor seseorang. Menurut Barbara Wild, neurolog Universitas Tbingen, bagian depan otak dapat mengatur, apakah kita tertawa mendengar hal yang lucu atau tidak. Anak-anak lebih mudah tertawa lepas melihat kejadian lucu daripada orang dewasa, karena bagian depan otak yang mengatur hal ini berkembang lebih pelan daripada sistem limbik, yang menghasilkan tawa.

Makna sosial dan medis sebuah tawa
Tawa juga sering disebutkan mempunyai makna sosial. Tawa sinis atau mengejek menyebabkan orang yang menjadi bahan tertawaan tersisih dari kelompoknya. Sebaliknya, bila orang yang tak saling mengenal tertawa bersama, muncul rasa solidaritas dan kebersamaan. Tawa dan humor juga dapat digunakan untuk menentukan kedudukan seseorang dalam suatu kelompok. Teori ini disebut teori superioritas. Berbagai penelitian menunjukkan, bahwa para atasan lebih sering membuat lelucon daripada karyawannya. Dan para karyawan akan tertawa terbahak-bahak, walau mereka tidak mengerti lelucon atasannya. Wanita cenderung tertawa lebih banyak, bila ada laki-laki di dekatnya. Sebaliknya, laki-laki enggan tertawa terbahak-bahak bila ada kemungkinan tawanya didengar oleh seorang wanita.
Jo-Anne Bachorowski, peneliti Universitas Vanderbilt di Nashville, Amerika Serikat, mengatakan, tawa ibarat kode sangat kompleks, yang dapat berfungsi menyampaikan pesan tertentu kepada si pendengar. Sayangnya, sampai saat ini hanya sedikit ilmuwan yang meneliti tawa dan rasa humor sebagai sarana komunikasi manusia.
Tawa tidak hanya mempunyai aspek sosial sebagai sarana komunikasi antar manusia. Tawa dan rasa humor juga terbukti meningkatkan daya tahan tubuh terhadap rasa sakit. Hal ini dibuktikan Willlibald Ruch, seorang psikolog Universitas Zrich. Willibald Ruch mengundang beberapa peserta eksperimen untuk menonton pertunjukan lawak atau film komedi tua. Makin lepas para relawan itu tertawa, semakin bagus, Willibald Ruch menjelaskan:
Willibald Ruch: ?Kami bisa menunjukkan, orang yang lebih banyak tertawa saat menonton film komedi, setengah jam setelah menonton film lebih bisa tahan pada rasa sakit.?
Orang yang mengikuti eksperimen Willibald Ruch semuanya sehat. Untuk percobaan itu, para relawan bersedia merasakan sakit. Bagaimana Willibald Ruch menimbulkan rasa sakit?
Willibald Ruch: ?Ada beberapa metode standar yang semuanya kami tes dulu pada diri kami sendiri, dan itu tidak terlalu menyakitkan.?
Metode yang dimaksud di sini adalah tes ?Cold Pressure Test?. Caranya adalah dengan meminta peserta memasukkan tangannya dalam air es dan mengukur berapa lama orang itu tahan pada rasa dingin yang menusuk. Ternyata setelah tertawa terbahak-bahak para peserta eksperimen tahan jauh lebih lama pada rasa sakit. Apa penyebabnya?
Willibald Ruch: ?Itu yang aneh dalam penelitian ini. Ada beberapa teori, ada yang mengatakan itu karena perhatian yang teralih, ada yang mengatakan karena orang itu lebih relaks. Mungkin juga karena peningkatan hormon endorphin tetapi sebenarnya ketiganya belum dapat dibuktikan melalui studi terpisah.?
Relaksasiÿotot tertentu ataupun meningkatnya produksi hormon endorphin keduanya tidak dapat dibuktikan. Dan bila para peserta uji coba menonton film drama atau tragedi, toleransi terhadap rasa sakit mereka juga meningkat, sama seperti saat menonton film komedi. Jadi hiburan dapat mengurangi rasa sakit. Tapi hanya bila tes ini dilakukan langsung setelah peserta uji coba menonton film.
ÿWillibald Ruch: ?Bila tes ini dilakukan setengah jam setelah menonton film tragedi, sudah tidak ada pengaruhnya lagi. Tapi, setelah menonton film komedi, masih ada pengaruh. Berarti, efek itu terjadi dalam proses. Yang menarik di sini, setengah jam setelah menonton film komedi, orang memang sudah tidak tertawa, tetapi reaksi ototnya masih ada.?
Penemuan ini tentunya menarik juga untuk terapi mengatasi rasa sakit. Sampai saat ini belum ada tes yang melibatkan pasien yang dihimbau untuk tertawa terbahak-bahak dalam kondisi sakit parah. Tapi bila hipotesa Willibald Ruch terbukti benar, mungkin saja humor adalah salah satu jalan untuk mengurangi dosis obat penahan sakit.
Willibald Ruch: ?Itu studi yang sudah lama sekali ingin kami lakukan, tapi saya masih menunggu kerja sama dengan rumah sakit. Mungkin saja tertawa dapat membantu dalam mengatasi rasa sakit dan dosis obat penahan sakit pasien bisa dikurangi.?
Mungkin rasanya agak kejam, bila penderita yang sakit parah justru dianjurkan untuk menanggung penyakit mereka dengan rasa humor. Tapi di lain pihak, tersenyum dan tertawa meringankan hati setiap orang, selama bukan mereka yang menjadi bahan tertawaan. Dan ini sudah terbukti tanpa studi ilmiah.(muj)

Sumber : http://www.kelas-mikrokontrol.com/

0 komentar:

Post a Comment

Salam hangat....
Komentar anda adalah tanda jabat erat persahabatan di antara kita.