Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Translate This Blog

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Menulis Buku? Wow Serruu

Written By Sugar Sugiyarto on Wednesday, March 14, 2012 | 3/14/2012 02:53:00 PM

Oleh : Solikhin Abu Izzuddin
Inspirator dan Penulis Buku Best Seller Happy Ending full Barokah

Saya sejak SD sudah senang mengarang. Waktu SMP mulai bisa menuliskan ide-ide. SMA saya suka bikin proposal dan mengolah kata. Saat itu juga sebagai penjaga perpustakaan mushola mulai belajar dan membaca. Tapi rasa ingin tahu saya sangat besar misal tahu dan kalau mungkin baca apa yang dibaca pak Guru. Kebiasaan membaca dan menulis itu saya rawat sampai sekarang dan ada kebahagiaan tersendiri bila tulisan saya bisa menginspirasi diri dan orang lain untuk berprestasi lebih baik. Menulis sebagai dakwah yang mencerahkan dan menggerakkan itulah yang saya geluti ketika orang lain belum atau tidak terjun di dunia tersebut. Kalau pun sama-sama menulis dan trainer saya berupaya menemukan defferensiasi dan Blue Ocean Strategy, insya Allah.

Berangkat dari masalah saya mencoba merenungkan dan menemukan jalan atau solusi. Inilah yang menggugah saya untuk terus menulis. Semoga jadi warisan dan amal jariyah di sisi Allah. Menulis itulah bagian dari cara mewujudkan harapan, yakni dengan TEKAD:
  • Tuliskan ”cita-cita” dan apa yang mau engkau kerjakan
  • Kerjakan apa yang sudah ditulis
  • Dokumentasikan apa yang sudah kau kerjakan. (misal bikin laporan atau press release)
Motivasi saya menulis bidang motivasi adalah orang yang membaca tulisan saya termotivasi untuk memotivasi dirinya dan memotivasi orang lain. Motivasi inilah yang sangat mahal. Motivasi inilah inspirasi dahsyat untuk berbuat. Untuk menemukan motivasi ”carilah manfaat sebanyak-banyaknya” atas apa yang akan, sedang, hendak, akan terus dilakukan. Semakin menemukan dan merasakan banyak manfaat, maka semakit motivasi yang didapat. Bagi yang mau menulis misalnya, temukan manfaat nulis. Menuangkan ide, memberi ilmu, berbagi, menjadi amal jariyah, memotivasi, memberi contoh kebaikan, mengarahkan, sebagai dakwah, sebagai lahan perjuangan, sebagai publikasi sikap, dan masih banyak lagi.

Silakan diskusikan, berkumpul, masing-masing tulis manfaat menulis minimal 10 point. Kalau ada 10 orang kumpul akan dapatkan 100 manfaat dari menulis. Yakinlah, engkau bisa. Ok. Jangan Cuma dibaca, segera lakukan habis syuro atau yang lain, kalau nggak melakukan berarti nggak termotivasi. Motivator utama adalah Rasulullah yang telah memberi teladan. Ibuku yang telah melahirkan dan mendidikku. Keluargaku tempatku memberi dan mendapatkan kebahagiaan, insya Allah.

Menulis adalah pengalaman menantang dan mendebarkan. Proses quantum, akselerasi dan percepatan diri.Dari mana? Dari pembaca menjadi penulis. Dari tuku buku jadi kutu buku to penulis buku. Dakwah bil qolam.Dari dakwah terbatas ke dunia kertas mencuatkan gagasan secara lebih luas dan lugas. Ini bertitik tolak dari konsultasi pada seorang ustadz, ”Bagaimana cara memulai menulis resensi?” Beliau menasihatkan, ”Baca seluruh isi buku, temukan inti gagasan, kekhasannya dan tuliskan menjadi resensi.” Take action! Saya tulis dan kirim ke media. Resensi pertama berjudul Kebangkitan Islam karya Abdullah Azzam dimuat di majalah Ishlah. Saya yakin ada potensi.

Saya belajar menulis kepada siapa saja. Seorang teman menasihati, ”Belajarlah ketrampilan sekecil apapun kerena itu penting dalam hidup.” Saya terus mengasah ketrampilan dengan mengirim tulisan ke majalah Ishlah baik artikel I’dad, makalah tsaqofiyah, kolom hikmah, reportase kegiatan Islam maupun resensi buku. Juga ikut mengisi kolom hikmah Republika. Silaturrahim ke Wa Islama di Jogja, ikut pelatihan jurnalistik di Klaten dipandu Ustadz Cahyadi Takariawan, dan pelatihan di Islamic Center DDII Jogja tahun 1997.
Sambil menunggu, saya asyik menikmati inspirasi yang mengalirkan energi. Saya nangis saat menyimak cerpen ”Ketika Mas Gagah Pergi”. Padahal pas bazzar ramai di UNS.
Buku sebagai jalan hidayah, dan investasi amal jariyah yang luar biasa. Yang penting menulis dan terus menulis.
Saya beranikan diri menulis buku dan nggak tanggung-tanggung judulnya ”Menuju Muslimah Kaffah” diterbitkan Pustaka Amanah Solo dengan sistem royalti.

Saya menulis buku lebih karena didesak oleh kebutuhan. Eit tunggu. Maksudnya ”buku apa yang dibutuhkan zamannya”. Menulis Materi Ceramah Shubuh seharga Rp.500,- untuk memenuhi kebutuhan para penceramah Ramadhan agar kultumnya nggak monoton ”kutiba ’alaikumush shiyaam…” terus. Ada variasilah. Saya menulis Materi Ceramah Ramadhan Tarawih dan Shubuh yang saya jual putus Rp.500 ribu. Uang tersebut habis untuk bayar utang pengetikan buku tersebut di rental komputer. Namun, saya nggak kapok menulis meski royalti ada yang nggak lancar. Semoga rezeki yang saya terima itulah justru yang barokah.

Kendala yang saya hadapi?
Waktu sekolah saya suka mengarang. Panjang. Secara redaksional saya terasah karena waktu di Sekbid Ketaqwaan-Rohis SMA N 1 Purworejo saya terbiasa bikin proposal. Barangkali ini yang melancarkan aliran kata lewat tulisan. Menurut Malcolm Gladwell latihan sukses minimal 10.000 jam atau setara 10 tahun fokus dalam pilihan.

Sehingga kendala jelas ada. Ma’nawiyah, suasana hati yang tidak kondusif dan kekosongan yang hampa. Anehnya saat jarang kegiatan, terasa hambar untuk menulis. Nah saat super sibuk justeru tertantang untuk menulis. Karena orang yang sibuk itulah —kata Ustadz Anwar Jupri—yang produktif. Pernah blank antara 1999-2002 tanpa karya tulis riil. Padahal pekerjaan minim. Maka saat sibuk kerja di Solo tahun 2003-2006 justru banyak ide muncul, gagasan meluncur, karya pun pating jedul, he.. he…

Jadi kendala paling utama adalah ketiadaan kesibukan dan keuangan yang macet. Pas blong nggak ada pemasukan biasanya kurang konsentrasi. Alhamdulillah kini bisa teratasi dengan aneka kreasi mencari rezeki. Kendala lain bagaimana cara menuntaskan tulisan. Sebab inginnya tulisan itu bener-bener perfect sehingga nggak selesai-selesai. Saya merasa tidak plong apabila tulisan itu hampa sekedar mengejar setoran atau ikutan trend. Mati sebelum waktunya. Sayang ’kan? Dari kendala tersebut saya belajar sabar dan qona’ah dengan secara dinamis berbenah agar lahir karya menggugah.

Perubahan PENTING itu…?
Doktor Drajat Tri Kartono, pakar sosiologi UNS, pernah mengajak diskusi ”Bagaimana kalau yang kita tulis belum sesuai dengan diri kita?” Saya jawab, ”Begini Pak Drajat, justru dengan menulis kita berhati-hati untuk menyesuaikan dengan apa yang kita tuliskan. Tulisan itu jadi cermin.” Saya merasakan ada kekuatan energi perubahan yang luar biasa. Memilah dan memilih kata dalam meredaksikan keadaan secara lebih tepat dan bijak. Mendewasakan diri. Selalu instrospeksi dan berbenah. Membuka diri untuk dikoreksi.

Menurut Syaikh Ibnul Jauzi, ”Sebaik-baik kitab adalah yang di dalamnya terdapat sesuatu yang mampu menunjukkan manusia ke jalan yang benar.” Saya menemukan jalan perubahan itu untuk menjadi aktifis kreatif, dewasa positif, dan profesional solutif. Semangat memberi manfaat lewat tulisan itulah yang menjadi ruh untuk terus berkarya. Menggugah. Menginspirasi. Menggerakkan. Menyadarkan. Menginstall gagasan perubahan. Menulis nggak perlu rumit-rumit apalagi bikin ruwet. Cukup yang sederhana, mudah dipahami, dan aplikatif. Menggugah dengan kisah dan sejarah, menemukan diri dengan menggali potensi, menyentuh hati dengan diksi terseleksi.

http://blog.proumedia.co.id/

0 komentar:

Post a Comment

Salam hangat....
Komentar anda adalah tanda jabat erat persahabatan di antara kita.