Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Translate This Blog

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Kejanggalan-Kejanggalan Dalam Kasus (Sandiwara) Terorisme

Written By Sugar Sugiyarto on Sunday, September 23, 2012 | 9/23/2012 10:57:00 PM

Kejanggalan-kejanggalan dalam Kasus (sandiwara) Terorisme

Oleh: AM. Muslih

KASUS pengerebekan terduga pelaku terror di Solo dan
meledaknya sebuah bom di rumah Yayasan Yatim Piatu Pondok
Bidara atau tepatnya di jalan Nusantara, Depok Jabar
menghantui pikiran saya, sebagaimana kasus-kasus
penggerebekan terduga teror lain yang selalu beraroma
sama.

Ada beberapa pertanyaan krusial yang belum bisa terjawab.
Berikut beberapa pertanyaannya;

Mengapa Tepat peringatan 11 September?

Entah kebetulan atau tidak, kasus pemberitaan Solo dan
bom di Depok, bertepatan dengan peringatan 11 September,
di mana Gedung WTC runtuh tahun 2001, yang telah melewati
waktu 11 tahun ini. Adakah kasus ini memiliki hubungan?
Mungkin, misalnya, sebagai bukti pada Amerika bahwa di
Indonesia masih menakutkan karena masih banyaknya ancaman
bom?

8. Anda tidak harus percaya. Tetapi dengarkan pernyataan
Mantan Komandan Satgas Intel Badan Intelijen Strategis,
(BAIS), Laksamana TNI, Purnawirawan, Mulyo Wibisono yang
dikutip itoday, Kamis (06/09/2012). Saat dimintai
komentar kasus penggerebekan di Solo yang menewaskan
Farhan dan Muksin mengatakan, bila keberadaan teroris di
Indonesia sengaja dipelihara institusi tertentu untuk
mendapatkan proyek dari Amerika Serikat (AS).

9. "Teroris itu sengaja dipelihara institusi tertentu yang
mempunyai kemampuan intelijen. Institusi ini mendapatkan
keuntungan dengan adanya teroris karena mendapatkan
kucuran dana dari AS," kata Mantan Komandan Satgas Intel
di BAIS ini), Laksamana TNI, Purnawirawan, Mulyo Wibisono
kepada itoday, Kamis (6/9/2012).

10. Menurut Mulyo, kemunculan teroris disengaja dengan
memprovokasi untuk melakukan kegiatan teror. "Dalam
intelijen ini penyusupan itu hal yang biasa. Sebetulnya
aparat sudah tahu, tetapi dibiarkan saja. Dan pelaku
teroris ini akibat provokasi intelijen," paparnya.

11. Kata Mulyo, teroris Solo semakin mencurigakan karena
aparat kepolisian menyebutkan para pelakunya melakukan
pelatihan di Gunung Merbabu. "Polisi harus mengungkap
siapa yang melatih para teroris itu, atau jangan-jangan
intelijen sendiri. Menggunakan senjata terlebih lagi umur
mereka masih muda itu sangat aneh sekali dan mampu
membunuh polisi," jelasnya.

12. Kecurigaan Mulyo bertambah, korban aparat kepolisian yang
tertembak di Solo tidak diotopsi dan adanya pertemuan
sebelum terjadinya "teror" Solo,yang dilakukan secara
tertutup di markas Kopassus Kartosuro antara Direktur
Penindakan BNPT, Brigjen (Pol) Petrus R Golose dengan
jajaran Dandim, Komandan Kopassus Grup 2, Kapolres se-
Solo Raya dan dan perwakilan dari Detasemen Khusus
(Densus) 88 Antiteror.

13. "Saya baca di media, tiga bulan sekitar bulan Juni
sebelum ada 'teror' Solo, ada pertemuan petinggi BNPT
dengan pejabat militer dan polisi seluruh Jawa Tengah di
markas Kopassus Kartosuro yang katanya membahas
penanggulangan antiteror. Apa gunanya pertemuan itu kok
tiba-tiba ada 'teror'," kata mantan Komandan Satgas Intel
Badan Intelijen Strategis (BAIS) Laksamana Pertama TNI
Purn Mulyo Wibisono kepada itoday, Sabtu (8/9/2012).

14. Menurut Mulyo, pertemuan sudah pasti mengetahui adanya
jaringan "teroris".

15. "Pertemuan BNPT di Kartosuro masih wilayah Solo yang
katanya sumber "teroris", masih juga kecolongan. Saya
minta pertemuan itu dibongkar saja, apa sih isinya, biar
masyarakat tahu dan tidak curiga sepak terjang BNPT dan
Densus," ungkap Mulyo.Mulyo mencurigai kemunculan
"teroris" Solo kemungkinan rekayasa pihak BNPT untuk
mendapatkan kucuran dana. "Kemunculan 'teroris' itu
menguntungkan polisi dan BNPT. Mereka mendapatkan
keuntungan dari proyek 'teroris'," jelasnya.

16. "Memunculkan 'teror' itu biasa dalam operasi intelijen
agar orang-orang yang diduga 'teroris' itu muncul. Dan
dengan munculnya 'teroris' akan memberikan keuntungan
bagi polisi dan BNPT," pungkasnya.

17. Namun bertepatan dengan tuduhan Muyo, tiba-tiba Ketua
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Dr Said Aqil
Siradj tiba-tiba mendesak agar anggaran dana Badan
Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) ditingkatkan,
sehingga bisa maksimal dalam melaksanakan program kerja.

18. Kurangnya anggaran yang dikucurkan oleh pemerintah,
menurutnya diduga menjadi penyebab maraknya gerakan
teroris di tanah air yang pada akhirnya tidak bisa
ditanggulangi BNPT.

19. "Anggarannya BNPT barangkali dan kerjasamanya dengan
civil society harus ditingkatkan," ujar Ketua Umum PBNU,
Said Aqil Siradj di Jakarta, Rabu (05/09/2012), dikutip
Pelitaonline.

20. Pertanyaannya, mungkinkah dengan tepat peringan 11
September ini drama penggerebekan ini dimaksudkan sebagai
laporan kepada Amerika, sebagaimana dugaan Mulyo
Wibisono? Atau memang benar sebagai proyek mencari dana?

21. Selalu Bertepatan dengan Adanya Kasus Besar

22. Tahun 2009, bom terjadi di hotel JW Mariott dan Ritz
Carlton di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, tepat
ketika pihak-pihak yang sedang mempermasalahkan jumlah
kecurangan pemilu melalui saksi-saksi yang tergabung
dalam timsukses JK-Win dan Mega-Pra (pada tanggal 20 Juli
saksi JK-Win menolak menandatangani kesaksiannya, dan
tanggal 21 Juli menyusul saksi Mega-Pra juga menolak
kesaksiannya),

23. Sebelumnya tahun 2010, kesuksesan penumpasan Dulmatin
oleh Densus 88 juga pas dengan suhu politik sedang panas.
Hasil Pansus Century yang dikukuhkan dalam Paripurna DPR,
di mana Wapres Boediono dan Menkeu Sri Mulyani pun
dinilai sebagai pihak yang harus bertanggung jawab.
Akibatnya, isu pemakzulan pun bertiup kencang.

24. Nah, Kasus penggerebekan di Solo dan bom di Depok,
bertepatan dengan kasus Syiah di Sampang.

25. Selalu menjadi Reality Show di TV

26. Yang menjadikan selalu hebat berita tuduhan terorisme
adalah, beberapa kali penggerebekan dilakukan secara
LIVE, layaknya sebah reality show. Selama hampir 18 jam
aksi “sok gagah” Densus 88 melakukan penggerebekan di
sebuah rumah di Temanggung tanggal 7 Agustus tahun 2009
hingga besoknya lagi 8 Agustus 2009, masyarkat dihibur
suara tembakan dar! der! dor! Di TVOne. Perntanyaannya,
untuk apa 200 juta lebih warga Indonesia perlu tayangan
live sebuah operasi yang boleh dikatakan rahasia? Atau
memang aksi-aksi Densus sudah bukan rahasia lagi? Dan
untuk kepentingan apa mengajak stasiun TV?

27. Terlalu naïf jika masyarakat lebih 200 juta percaya
pernyataan GM Current Affair TVOne, Solaeman Sakib yang
pernah menyatakan siaran langsung penggerebekan sebuah
rumah yang diduga tempat persembunyian Noordin M Top di
Dusun Beji, Temanggung, Jawa Tengah, hanya untuk
meningkatkan rating.

28. Apalagi dalam banyak acara diskusi terorisme yang
diselenggarakan TVOne—para reporter yang ada di lapangan
atau di studio—sering memberikan asumsi atau mengarahkan
pada sebuah opini tertentu.

29. Lagi pula, masyarakat, tidaklah cukup buta melihat
keadaan. Siapapun tahu, siapa Karni Ilyas (Pimred TVOne).
Karni Ilyas adalah jurnalis yang juga dikenal anggota
Kompolnas. Sebelum di TVOne, ia lebih dulu memulai karir
sebagai wartawan Suara Karya (1972), Tempo (1978), Forum
(1991-1999) lalu hijrah ke SCTV untuk memimpin Liputan 6
dan terakhir di TVOne yang baru saja diambil alih
Keluarga Bakrie.

30. Karni dikenal telah akrab dengan Gories Mere (GM)
semenjak baru setahun lulus Akpol, kala itu pangkatnya
masih Letda. Persahabatan Karni dan GM sangat harmonis
dan terjalin sampai sekarang.

31. Seperti diketahui, GM bersama dua perwira Aryanto Sutadi
dan Pranowo pernah mendapat keistimewaan memeriksa Omar
Al Faruq, langsung dari penjara khusus milik AS di Teluk
Guantanamo, Kuba.

32. Ada hal menarik tentang #KulTweets Mas Ridlja tentang
sosok Pimred TVOne berjudul “Karni Ilyas wartawan Senior
TVOne” [http://nurudin.jauhari.net/karni-ilyas-wartawan-
senior-tvone.jsp]

33. Dalam situs itu disebutkan, buah persahabatan itu terjadi
tatkala 5 November 2002, di mana satuan polisi (dipimpin
GM) melakukan sebuah operasi rahasia di Tenggulun,
Kecamatan Solokuro, dan berhasil menciduk Amrozi, ikut
mengajak wartawan SCTV (dibawah pimpinan Karni Ilyas saat
itu), hingga membuat salah paham Kepala Dinas Penerangan
Polda Jawa Timur, yang rupanya tidak diberitahu adaya
operasi. Sungguh hebat, Polda Jatim saja tidak tahu,
Karni bisa tahu.

34. Saat penangkapan Imam Samudera di Merak, SCTV juga berada
di depan. Saat penangkapan Abu Dujana tahun 2007, Karni
dan ANTV malah dapat hak siar ekslusif pengakuan Dujana
yang direkam, di kala semua media tidak diberi akses.

35. Yang menarik, setiap acara diskusi terorisme di TVOne,
sumber-sumber yang didatangkan selalu monoton. Jika tidak
Kepala BNPT Ansyaad Mbai, Mantan Mantan Kepala Badan
Intelejen Negara (BIN), Hendro Priyono. Jika ada sumber
lain, biasanya selalu orang-orang uang sudah dibina BIN
atau BNPT. Jarang dalam masalah terorisme TVOne
menghadirkan pakar Syariah atau anak Abubakar Ba’syir.
Ba’asyir hanya disudutkan tanpa ada pembelaan.

36. Ada motivasi lain apa antara Gories, Karni, BNPT dan
Hendro yang didukung TVOne? Alangkah naifnya jika
alasannya hanya sekedar ratting?

37. Selalu mengarah Syariah Islam

38. Beberapa hari pasca meledaknya bom di hotel JW Mariott
dan Ritz Carlton di kawasan Mega Kuningan, Jakarta
Selatan, tepat 22 Juli 2009 TVOne menggelar acara special
yang membahas akar teroris di Indonesia. Nara sumbernya
adalah Brigjen. Surya Dharma Salim (Mantan Ketua Densus
88) yang membahas tuntas akar permasalahan peledakan bom
di Indonesia yang terjadi dalam sepuluh tahun terakhir.
Dua hal yang sering diulang-ulang Suryadharma Salim
adalah, Syariah dan Dualah Islam.

39. Menariknya, untuk diskusi dengan mantan Komandan Densus
88 ini, TVOne harus mengulang beberapa kali di lain
waktu. Ini sama persis dengan dialog Ansyasd Mbai atau
Hendro yang selalu mengarah juga pada gerakan Islam atau
Syariat Islam. Seolah-oleh, Syariah atau Daulah Islamiyah
menjadikan orang berperilaku teroris.

40. Dalam sebuah tayangan liputan di lokasi kediaman terduga
kasus teror, Yusuf Rizaldi di daerah Petojo Utara,
Gambir, Jakarta Pusat, tiba-tiba seorang reporter sebuah
TV swasta secara sengaja men-shoot gambar poster logo HTI
berisikan kalimat “Dengan Syariah Indonesia Lebih
Bermartabat.” Oleh sang reporter, tulisan tersebut
dikaitkan dengan poster jihad. Apa hubungannya poster
dengan teror

41. Mengapa tidak sekalian wartawan menyebutkan bahwa telah
ditemukan al-Quran di rumahnya? Mengerti apa Hendro atau
Ansyaad tentang Syariat Islam?

42. Pertanyaan lain, ada apa pula TVOne dengan Syariat Islam
yang selalu dijadikan penyebab (alasan) dalam kasus
terorisme? Generalisasi ini, sudah pasti difasilitasi TV
tersebut

43. Selalu Ngruki dan pesantren

44. Salah satu komentar paling jelas dari Hendro dalam setiap
diskusi masalah terror adalah mengarahkan pada PP Al-
Mukmin, Ngruki. Seolah-olah ribuan santri alumni
pesantren itu pelaku teror. Ada komentar dari pengamat
media,asal Surabaya, Sirikit Syah dalam akun Twitter-nya,
“Mengapa media mudah memberi label Ngruki sarang teroris,
tapi tdk pernah nyebut pulau key (di maluku) sarang
preman? Sikonnya mirip!,” ujarnya.

45. Dalam kasus yang berbeda, pasukan pendukung G-30-S-PKI
tahun 1965, dikenal para perwira militer. Mereka bahkan
dibagi dalam tiga kelompok tugas, Komando Penculikan dan
Penyergapan (dipimpin oleh Letnan Satu Dul Arif), Komando
Penguasaan Kota (dipimpin oleh Kapten Suradi), Komando
Basis (dipimpin Mayor(udara) Gatot Sukresno).

46. Pertanyaanya, mengapa kita tidak ajarkan saja secara
terbuka di anak-anak atau masyarakat bahwa pelaku-
pelakunya teror G 30 S PKI adalah perwira militer dari
TNI? Sebagaimana ketika BNPT atau Hendro (yang dikuti
media) selalu suka mengaitkan kasus terror bom di
Indonesia dengan Abubakar Ba’asyir, Ngruki atau
pesantren?

47. Adakah yang bisa menjawabnya?

48. Sebagian Anda mungkin ada yang bingung, namun mungkin
juga paham akan arah keanehan-keanehan ini.

49. Semoga kita terhindar dari fitnah zaman dan fitnah
Dajjal!

50. Penulis aktif di Institut Pemikiran dan Peradaban Islam

(InPas) Surabaya

0 komentar:

Post a Comment

Salam hangat....
Komentar anda adalah tanda jabat erat persahabatan di antara kita.