Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Translate This Blog

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Membangun Pencitraan Dakwah

Written By Sugar Sugiyarto on Wednesday, September 26, 2012 | 9/26/2012 09:34:00 AM

Membangun Pencitraan Dakwah

Oleh : Cahyadi Takariawan

dakwatuna.com - Dalam dinamika dakwah, kadang ada aktivitas tertentu yang
memerlukan publisitas dalam rangka memberikan informasi kepada
masyarakat tentang kinerja gerakan dakwah yang telah banyak melakukan
upaya perbaikan. Tidak bisa dipungkiri, media sangat mengendalikan persepsi
masyarakat saat ini. Suatu kejahatan bisa dicitrakan sebagai sosok pahlawan
karena bangunan media. Sebaliknya, para pelaku kebaikan bisa dicitrakan
sebagai sosok pecundang karena opini media.

Selain memberikan informasi, publisitas juga dimaksudkan sebagai upaya
memberikan pendidikan, inspirasi, dan motivasi bagi semua kalangan untuk
melakukan kebaikan dan berlomba-lomba memperbanyak kontribusi positif di
tengah kehidupan masyarakat. Sangat banyak pelajaran dan hikmah yang bisa
diambil dari para aktivis dakwah, namun seringkali tenggelam tidak banyak
diketahui publik, karena tidak adanya unsur publisitas. Sementara ada tokoh
politik tertentu yang sekali-kalinya naik kereta api atau bus kota, diberitakan
headline berhari-hari di berbagai media.

Saya sempat tertegun mendengar informasi tentang mahalnya pencitraan.
Seorang tokoh politik, karena ingin mendapatkan pencitraan tentang
kesederhanaan, maka ia rela mengeluarkan dana ratusan milyar rupiah guna
tampil di televisi dan media massa lainnya. Betapa ironis, citra sederhana
yang ingin didapatkan, dibangun dengan biaya ratusan milyar rupiah. Sudah
pasti, konstituen tidak pernah mengetahui hal itu. Mereka hanya memuji-muji
sang tokoh yang sederhana dan bersahaja, tanpa mengetahui berapa biaya
yang dikeluarkan untuk itu.

Banyak kalangan tokoh aktivis dakwah yang hidup dan kegiatannya jauh dari
publisitas. Mereka adalah orang-orang yang ikhlas berbuat dan bekerja karena
Allah, bukan berharap pujian manusia. Mereka menjaga diri agar tidak rusak
amal yang telah mereka lakukan, karena pengaruh perasaan riya yang
berkembang dalam jiwa. Untuk itu mereka lebih suka menjauhkan diri dari
publisitas, dan hidup dalam kesunyian walau kontribusi mereka untuk
perbaikan masyarakat sangat besar.

Namun di sisi lain, karena tidak terpublikasikan oleh media, maka
kesederhanaan, kebersahajaan, dan kesungguhan mereka dalam memperbaiki
masyarakat tidak diketahui banyak kalangan. Ketika muncul beberapa tokoh
politik yang menjadi ikon kesederhanaan, banyak masyarakat bertanya,
mengapa itu tidak muncul dari kalangan aktivis dakwah? Salah satu
jawabannya adalah karena faktor publisitas. Para aktivis dakwah sepi dari
publisitas sehingga kiprah mereka tidak diketahui masyarakat luas.

Muncul pertanyaan, apakah publisitas bertentangan dengan makna keikhlasan?
Apakah amal yang ikhlas harus selalu disembunyikan? Al Qur’an memberikan
gambaran dua kondisi shadaqah (sedekah), yang keduanya bernilai baik dan
lebih baik. Tidak ada yang dicela atau disalahkan.

Perhatikan ungkapan ayat berikut:

“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika
kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka
menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari
kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu
kerjakan” (Al Baqarah: 271).

Dari ayat di atas, kita mendapatkan beberapa pelajaran fiqih dakwah sebagai
berikut:

1. Dibolehkannya menampakkan amal

Al Qur’an menyatakan, “Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu
adalah baik sekali”. Suatu sedekah atau pemberian kepada orang-orang yang
memerlukan dengan menampakkan atau mempublikasikan adalah suatu
tindakan yang dibolehkan, tidak dilarang. Bahkan dikatakan sebagai “baik
sekali”, bukan saja baik. Dalam hal ini, sedekah yang ditampakkan bukanlah
sesuatu yang tercela atau dilarang.

Al Qur’an juga menyebut umat Nabi Saw sebagai sebaik-baik umat yang
dihadirkan untuk seluruh manusia:
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh
kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada
Allah” (Ali Imran: 110).

Kebaikan ini akan memiliki makna yang memberikan banyak dorongan
motivasi dan inspirasi bagi masyarakat luas, jika ditampakkan, bukan
disembunyikan.

2. Menyembunyikan amal karena menghindari riya’

Ada kalanya sedekah harus disembunyikan, jika dengan menampakkan akan
menimbulkan riya dan menyakiti perasaan orang-orang yang mendapatkan
bagian sedekah tersebut. Al Qur’an menyatakan, “Dan jika kamu
menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka
menyembunyikan itu lebih baik bagimu”.

Riya’ adalah berkembangnya motivasi semata-mata ingin mendapat pujian
dari manusia atas apa yang dilakukannya. Namun menyembunyikan amal tidak
identik dengan ikhlas, karena ikhlas bukanlah soal teknis menampakkan atau
menyembunyikan. Ikhlas adalah dorongan yang kuat dalam jiwa, yang menjadi
sumber motivasi dalam melakukan sebuah amal atau dalam meninggalkan
amal tersebut.

Sebagian ulama salaf menyatakan, “Beramal karena manusia itu syirik,
sedangkan meninggalkan amal karena manusia itu riya”. Ini menandakan
bahwa ikhlas itu bermakna dorongan yang menyebabkan melakukan atau
meninggalkan suatu amal semata-mata karena Allah, apakah amal itu
ditampakkan atau disembunyikan.

3. Keharusan bekerja dengan ikhlas

Semua aktivitas yang kita lakukan hendaknya didasari dengan niat yang ikhlas
karena mengharap ridha dan pahala dari Allah, bukan dari manusia. Cukuplah
kita yakin, bahwa semua yang kita lakukan berada dalam pengawasan dan
pengetahuan Allah, sebagaimana firmanNya, “dan Allah mengetahui apa yang
kamu kerjakan”.

Syaikh Hasan Al Banna menegaskan, “Yang dimaksud dengan ikhlas ialah
seorang muslim menunjukkan segala perkataan, amal dan jihadnya semata-
mata mencari ridha Allah dan ganjaran baik-Nya, tidak memandang
keuntungan duniawi, kedudukan, pangkat, gelar, dan semacamnya. Karena itu
ia akan menjadi manusia pembela cita-cita dan aqidah, bukan kepentingan
(interest) pribadi.”

4. Menampakkan amal tidak menghilangkan keikhlasan

Kebolehan menampakkan sedekah ini menandakan, amal yang ditampakkan
tidak berarti menghilangkan nilai keikhlasan atau merusakkannya. Yang
membuat rusaknya amal adalah sikap riya dan mengharap keridhaan manusia
dengan jalan memamerkan berbagai aktivitas kebaikan. Berbangga-bangga
dengan pujian manusia dan melalaikan hakikat niat yang tulus ikhlas
mengharap ridha Allah.

Sebagaimana telah dinyatakan di depan, bahwa menyembunyikan amal itu
tidak identik dengan ikhlas, maka menampakkan amal juga tidak identik
dengan riya atau tidak ikhlas. Dengan demikian, jika publisitas adalah upaya
untuk memberikan informasi yang positif, memberikan inspirasi kebaikan,
memberikan motivasi beramal shalih, dan memberikan pencitraan positif bagi
dakwah, maka hal itu adalah sebuah keharusan.

Berapa banyak tokoh yang diagungkan media ternyata kenyataannya jauh
panggang dari api yg akhirnya kekecewaan panjang lihat contoh SBY, Foke dan
lihat saja nanti bagaimana dengan akhir kredibilitas JOKOWI yg sebenarnya...

Wahai Aktifis Dakwah sudah saatnya kita tunjukan keindahan Islam yang
sebenarnya dan bagaimana bahagianya Hidup dalam naungan Al Qur'an dan
As Sunah dan pencitraan itu sepenuhnya milik kita secara lahir dan batin
tanpa ada kepura2an...

Semoga Allah memberikan kemudahan bagi kita dalam mewujudkan Pencitraan
Tokoh Aktifis Dakwah dan Tarbiyah yg diterima oleh segenap bangsa dan
negara ini.

Wallahu'alam Bishowab

0 komentar:

Post a Comment

Salam hangat....
Komentar anda adalah tanda jabat erat persahabatan di antara kita.