Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Translate This Blog

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Showing posts with label MENDIDIK ANAK. Show all posts
Showing posts with label MENDIDIK ANAK. Show all posts

Konsep mendidik anak ala Supernanny

Written By Unknown on Friday, December 9, 2011 | 12/09/2011 02:15:00 PM

Ini bukan serial drama The Nanny, hehe. Tapi ini adalah reality show yang Nanny-nya akan datang pada anak bermasalah dan mencoba memberikan solusi-solusi supaya si anak ga bandel lagi. Berikut beberapa yang dianjurkan The Nanny pada orang tua :
  • Mengajarkan anak untuk tidur sendiri. Ini gampang-gampang susah. Pertama sebelum tidur, dipamitin (mengucapkan selamat tidur), didongengin juga bisa. Kalau parah banget, ada cara khusus. Yaitu orang tuanya duduk di dekat tempat tidur sampe anaknya tertidur. Tapi tiap malam jarak antara tempat tidur dan jaraknya duduk semakin jauh, dan kalo sudah duduknya di dekat pintu, malam selanjutnya bisa ditinggal, hehe.
  • Mengajarkan ke toilet sendiri (bagi anak yang suka ngompol), khususnya untuk anak cowo. Sebaiknya ayahnya yang mengajarkan ke toilet, kalau anaknya cowo. Lalu dibuatkan toilet untuk cowok dari kaleng di dekat tempat tidurnya. Jadi dibilangin, kalau mau buang air kecil di tempat ini. Tenang saja, ini mengajarkan untuk tidak ngompol. Karena mungkin saja kalau malem kebelet pipis, dia ga mau ke toilet karena dingin. Jadi sifatnya ini sementara. Kalau sudah tidak ngompol baru kalengnya diambil dan diajarin pergi ke toilet sendiri.
  • Kalau bilang sesuatu ke anak dengan menggunakan kalimat positif saja. Jadi usahakan meminimalisir penggunaan, “Jangan..nanti mama marah”. Kalau bisa diganti jadi, “Biar mama senang, gini saja…” Kan terdengarnya pun lebih bagus Karena anak kecil itu mudah sekali meniru. Saya juga berencana ga ngatain yang jelek-jelek ke anak. Misalnya bilang nakal atau bandel, bilang aja gemesin, hehe Karena sebenarnya anak juga ga bermaksud nakal kan? Mereka cuma rasa ingin tahunya besar, hehe. Masak iya sih anak sendiri mau dikata-katain jelek? hoho....
  • Mengajarkan untuk membantu pekerjaan rumah. Jadi siapa yang membantu akan dikasih point. Point yang terkumpul sampai yang ditentukan, akan mendapat hadiah.
  • Kalau nakaaaal sekali, baru didudukkan di kursi nakal sebagai hukuman. Dan setelahnya anak itu dinasehati dan diajarkan untuk bilang, “maaf”. Satu hal lagi, kalau menasehati anak kecil, tinggi orang tuanya harus sama dengan anaknya. Jadi orang tuanya ya jongkok gitu. Kenapa? karena katanya “The Nanny” kalau orang tua lebh tinggi saat menasehati anak, akan tidak bagus untuk psikologi anak. Anak akan menganggap orang tua seperti monster, hoho.....
 Sumber : childrengarden dot wordpress
12/09/2011 02:15:00 PM | 3 komentar | Read More

Mendidik anak ala Super Nanny

Written By Unknown on Sunday, October 2, 2011 | 10/02/2011 10:23:00 PM

Mendidik anak itu tentunya bukan persoalan yang mudah, tapi jangan pula dikatakan sulit. Kenakalan saat masih kanak-kanak itu muncul karena orang tua yang gagal mendidiknya. Anak-anak itu seperti sebuah cetakan, dimana yang membuat cetakan itu adalah orang tuanya sendiri. Apakah cetakannya berbentuk bulat, petak, lonjong, dan sebagainya, itu terserah dari orang tua masing-masing. Jika demikian, tentunya kita ingin tahu tehnik membuat cetakan terbaik agar memberikan hasil yang terbaik, mengingat bahwa anak-anak itu adalah manusia-manusia kecil yang kelak akan tumbuh dewasa dan melanjutkan keturunan. Apa jadinya jika manusia-manusia kecil ini gagal mendapatkan pendidikan yang baik?

Hal yang pertama terlintas dalam benak orang tua tentunya adalah perihal hukuman. Ya, itulah yang pertama sekali terlintas. Hukuman berupa kurungan di dalam kamar, menghentikan uang jajan, tidak boleh main, tidak boleh nonton TV, tidak boleh main game, dan sebagainya diterapkan dengan harapan bahwa hal itu akan membuat anak sadar. Tapi sadarkah kita bahwa sebelum anak-anak mengambil langkah untuk berubah, ia akan melihat orang tuanya dulu : Apakah sifat orang tuanya sudah berubah atau tidak? Jika sifat orang tuanya tidak berubah, maka dia pun tidak akan mau berubah. Ini akan ditunjukkannya dengan sikap membangkang.

Bandel dan nakal adalah 2 cara yang sering digunakan anak-anak untuk menarik perhatian orang tuanya. Sering kali anak yang baik tidak begitu menarik perhatian orang tua, tapi malah anak yang nakal yang paling sering mendapatkan perhatian, semisal ucapan, sentuhan, dan sebagainya. Anak-anak membutuhkan itu walaupun ia mendapatkannya dengan cara yang kurang wajar. Walaupun orang tuanya membentak, ia malah tertawa senang karena yang diinginkannya adalah orang tuanya ‘berbicara’ dengannya, tak peduli apakah itu kata-kata kasar ataupun kata-kata yang halus. Ia tidak peduli itu. Seringkali anak-anak baik merasa cemburu dengan anak lain yang bandel karena anak yang bandel ternyata lebih diperhatikan oleh orang tua.

Kita akan coba mengulas tentang tehnik yang digunakan Jo Frost dalam reality show Super Nanny. Berikut ini ulasannya :
1. Menemukan masalah. Masalah utama umumnya berasal dari orang tua itu sendiri. Anak yang bandel dan tidak patuh disebabkan ia melihat orang tuanya sebagai sosok yang lemah, tidak berdaya, bodoh, dan tidak tegas. Ada juga yang melihat orang tuanya sebagai sosok pendiam, sulit mengakrabkan diri, dan pemarah, sehingga satu-satunya cara untuk membuat orang tuanya berbicara padanya adalah dengan memancing emosinya. Ini tentunya kurang baik. Dan ini tentunya bisa dihindari asalkan orang tua tersebut menyadari kekeliruannya selama ini dan mau memperbaikinya. Langkah pertama ini disebut Parent Education.

2. Memberlakukan aturan. Logikanya, anak-anak menjadi bandel karena tidak tahu aturan apa yang harus dipatuhinya. Karena itu mesti ada tolok ukur yang jelas dan TERLIHAT. Kita akan melihat Jo membawa sebuah papan berisi aturan-aturan yang harus dipatuhi. Aturan-aturan ini beragam macamnya disesuaikan dengan masalah yang dihadapi. Contohnya : masalah jam tidur yang tidak teratur maka diatasi dengan pemberlakuan jadwal tidur; masalah anak-anak suka masuk kamar kakak atau abangnya seenaknya diatasi dengan memasang tanda di depan pintu yang menjadi sinyal kapan boleh masuk dan kapan tidak; masalah senang membuat ruangan berantakan dijawab dengan membuat sebuah permainan ‘meletakkan benda-benda pada tempatnya’. Yang berhasil meletakkan dengan benar, ia boleh mengambil bola biru dan dimasukkan ke dalam tabung. Jika tabung itu penuh dengan bola biru, maka ia pun mendapatkan penghargaan. Jika ia memberantakkannya, ia harus mengambil bola merah. Jika tabung penuh dengan bola merah, maka ia harus siap dengan hukuman yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Anehnya, kita akan melihat anak-anak yang nakal itu bersikeras tidak mau mengambil bola merah padahal dia berbuat kesalahan, tapi ia akhirnya mengambilnya lalu memasukkan ke dalam tabung sambil menangis terisak-isak. Ini akan membuatnya kapok. Karena apa? Karena ia tidak ingin terlihat buruk di depan orang tuanya dan bola merah itu membuatnya terlihat sangat buruk.
3. Memberlakukan hukuman. Syarat utama menggunakan cara ini adalah orang tua tetap tenang, bisa meredam emosi, sabar, dan jangan menyerah. Tidak boleh ada kata-kata kasar, bentakan, apalagi makian, saat seorang anak berbuat salah. Tidak boleh ada kekerasan fisik seperti pukulan, cubitan, atau jeweran, karena anak-anak tidak membutuhkan itu. Ingat! Kenakalan itu awalnya karena didikan orang tua yang salah, jadi jangan sampai diperparah dengan adanya kekerasan secara fisik. Hukuman yang digunakan adalah memisahkan anak dari tempatnya dan membawanya ke sebuah tempat tertentu seperti sudut ruangan, kursi, dan sebagainya. Jika ia lari dari tempat tersebut, maka jemput ia dan letakkan lagi di sudut hukuman. Lakukan berkali-kali, dan biasanya si anak akan menyerah juga pada akhirnya. Ia akan menangis merengek-rengek tanpa beranjak dari sudut hukuman. Jangan mengunci pintu, karena ini justru akan memperburuk keadaan. 

Mengunci pintu saat hukuman dijalankan akan membuat anak senang menyimpan rahasia dalam hatinya nanti, tampak manis di depan, tapi tidak demikian saat tidak terlihat. Jika si anak meronta-ronta sambil berguling-guling di lantai, yang harus dilakukan orang tua adalah duduk dengan dua lutut menyentuh lantai (bukan sekedar berdiri sambil membungkukkan badan), mendekatkan wajah ke wajah si anak, lalu menasehatinya dengan nada rendah (bukan suara tinggi). Tehnik “mendekat dan bersuara rendah” ini ternyata ampuh buat membuat seorang anak patuh dan tunduk. Ini juga yang menjelaskan mengapa rata-rata anak lebih segan kepada ayahnya ketimbang ibunya. Ya karena suara ayahnya lebih rendah, lebih berat, ketimbang suara ibunya.
4. Mengajari anak meminta maaf karena kesalahannya, lalu orang tua pun meminta maaf karena telah menghukumnya. Lalu jelaskan kenapa kita menghukumnya. “Maafkan ibu, sayang. Ibu menghukummu karena kamu tidak patuh pada ibu.” Dengan cara demikian, si anak mendapat contoh secara langsung bahwa meminta maaf itu bukanlah sebuah hal yang memalukan, gengsi, bukan pula sebuah hal yang sulit. Jo kadang mengajari mereka untuk saling mengatakan “I’m sorry, Mom. I love you.” Lalu, dibalas dengan pelukan hangat sang ibu sambil berkata, “I love you, too.” Atau Jo memancing mereka dengan pertanyaan, “How much do you love your daughter? How much do you love your mom?” secara bergantian.
5. Ajari sambil bermain, lalu berikan apresiasi. Untuk yang satu ini saya terkesan dengan orang tua yang tuli yang berusaha mengajari bahasa isyarat kepada 3 orang anaknya sambil bermain. Si ibu membawa papan tulis besar, dan juga gambar-gambar lucu, dan si anak harus memperagakan dalam bahasa isyarat untuk menjawab nama dari gambar tersebut. Luar biasa! Sedangkan si ayah membuat kotak-kotak. Jika salah seorang anak berhasil menjawab dengan benar (dengan bahasa isyarat, tentu), maka ia boleh maju selangkah. Maka ketiga anak tersebut berusaha semaksimal mungkin untuk menjawab dengan benar. Siapa yang paling cepat sampai pada kotak paling akhir, maka dialah yang menang dan berhak atas hadiah yang sudah dipersiapkan. Intinya adalah “Belajar sambil bermain. Bermain sambil belajar.”
6. Temani anak-anak sebelum tidur. Kita mungkin lupa bahwa menceritakan sesuatu sebelum anak tidur adalah sebuah cara yang luar biasa efektif untuk mendekatkan hubungan anak dengan orangtuanya. Suara ibu atau ayah yang pelan saat menceritakan dongeng sungguh sangat memikat pendengaran anak-anak. Ia akan meresapinya, membayangkannya dalam benaknya, sehingga membuatnya lelah. Dan tak lama ia pun tertidur. Selain itu, menceritakan dongeng sebelum tidur akan membuat jam tidur menjadi saat-saat yang menyenangkan buat seorang anak. (Saya jadi ingat saat-saat ibu saya menceritakan dongeng sebelum tidur. Jika ibu tidak sempat karena ketiduran, maka nenek yang akan menceritakannya kepada kami. Entah kenapa, cerita sebelum tidur ini merupakan momentum yang amat menarik dan sayang untuk dilewatkan.)
7. Berlibur. Berlibur di sini dalam artian memiliki waktu sehari penuh untuk menemani anak bermain-main. Ini tidak berarti harus pergi ke tempat-tempat tamasya. Yang terpenting adalah kreatifitas membuat sebuah suasana liburan. Saya kebetulan pernah melihat di tayangan Super Nanny tersebut dimana seorang ayah mengajak anak-anak berlibur dengan cara berguling-guling dan bermain kejar-kejaran di halaman rumput belakang rumahnya. Dan itu ternyata cukup membuat anaknya senang.

Ketika seorang anak merasa cukup mendapatkan kebahagian dari kedua orang tuanya, maka seolah-olah ia tidak membutuhkan apa-apa lagi di dunia ini selain kedua orang tuanya itu. Semoga bermanfaat.

Sumber : dinikawai dot blogspot

http://rolays.blogspot.com/
10/02/2011 10:23:00 PM | 0 komentar | Read More

Penyebab Anak Menjadi Nakal

Written By Unknown on Friday, September 9, 2011 | 9/09/2011 02:26:00 PM

Bejo in Action
Kenakalan, sebenarnya adalah hal yang normal bagi anak-anak dalam tahap perkembangan kanak-kanak. Mereka sedang belajar untuk mengontrol tubuh mereka sendiri, memahami lingkungan sekitarnya, serta belajar nilai-nilai dalam keluarga dan masyarakat. Mereka banyak melakukan percobaan (eksperimen) terhadap sesuatu yang menarik perhatian dan belum mereka ketahui: bagian tubuh, hewan-hewan, perkakas di rumah, tumbuh-tumbuhan dan obyek-obyek lainnya. Sayangnya, dalam bereksperimen mereka sering lalai dan ceroboh, hasilnya, eksperimen mereka sering kali membuat orang tua dan orang di sekitarnya menjadi jengah dengan ulah mereka: kotoran berserakan, perkakas berantakan, baju belepotan, perabot pecah, jatuh saat berlari, sampai konflik sesama anak-anak.

Terang saja, menurut Jean Piaget, seorang tokoh psikologi, mereka masih berada dalam tahap perkembangan kognitif pra-operasional (sekitar usia 2—7 tahun). Pada tahap ini anak sering kali secara kognitif salah dan irasional dalam memahami sesuatu, kemampuan kognitif (pikiran) mereka masih belum sempurna. Misalnya, anak yang mendapati pakaiannya semakin lama semakin kecil dan tidak pas dipakai, biasanya akan berpikir secara irasional bahwa pakaian itu bisa mengecil jika lama dipakai, padahal sebenarnya bukan pakaian yang menjadi kecil, akan tetapi dialah yang semakin membesar tubuhnya. Mereka juga sering salah dalam menentukan mana yang dapat diterima dan yang tidak dapat diterima secara moral. Kohlberg yang juga seorang tokoh psikologi menyebut anak-anak masih berada dalam tahapan moral pra-konvensional (terjadi kira-kira sebelum usia 9 tahun). Pada tahap ini anak tidak memperlihatkan internalisasi nilai-nilai moral, penalaran moral anak dikendalikan oleh imbalan/hadiah dan hukuman internal. Anak-anak taat karena orang dewasa menuntut mereka untuk taat, karena jika tidak mereka akan mendapat hukuman. Apa yang benar adalah apa yang dirasakan baik dan apa yang dianggap menghasilkan hadiah dan kesenangan.
Namun, anak yang sering menunjukkan ketidakpatuhan, suka melanggar aturan perilaku baik di rumah maupun di sekolah, seperti suka berkelahi, berbuat rusuh, sulit bekerja sama, kurang ajar, sering gelisah dan berbohong, serta sering menunjukkan temper tantrum (marah, menolak dengan menjerit-jerit) tidak dapat dikatakan normal dalam level perkembangan di mana mestinya ia bisa mematuhi aturan yang ada, yang telah ia ketahui. Anak yang menunjukkan perilaku seperti ini patut diwaspadai oleh orang tua khususnya dan orang yang ada di sekitarnya agar mendapatkan perhatian khusus, dan mendapat penanganan, sehingga anak tersebut tidak terus berkembang menjadi anak yang menyusahkan anggota keluarga lainnya dan lingkungan sekitar. Selain itu anak yang tidak mendapat penanganan yang tepat, besar kemungkinan perilaku tersebut akan di bawa sampai dewasa, jika demikian, maka ia berpotensi menjadi orang yang anti-sosial (suka melawan norma masyarakat, seperti melakukan tindakan kriminal) dan perilakunya menjadi sangat sulit untuk bisa diubah.

Orang tua tidak boleh menganggap anaknya yang sering melakukan ciri-ciri perilaku di atas sebagai sesuatu yang wajar, dan terus-menerus menolerir tindakan yang merugikan bagi dirinya sendiri dan juga orang lain. Orang tua, karena berbagai sebab (misalnya karena terlalu sayang), seringkali membuat-buat alasan (rasionalisasi) yang sebenarnya tidak logis agar dapat menerima perilaku anaknya yang melanggar aturan atau perintah itu. Cara orang tua dalam menangani masalah (coping problem) seperti ini akan manjadi bomerang tidak hanya bagi diri orang tua (karena ia akan terus-menerus terusik dan mendapat perlawanan), tetapi juga bagi anaknya. Anak menjadi tidak paham terhadap mana yang boleh/baik/harus dilakukan dan yang mana yang tidak boleh, buruk dan harus ditinggalkan. Alhasil, orang tua turut serta membentuk anaknya menjadi pribadi sulit dikontrol.

Apa Sebabnya?

Sebenarnya perilaku anak yang suka melanggar norma tersebut dipelajari secara terpaksa/tidak sengaja, sebagai cara untuk menunjukkan kontrol anak terhadap perilaku orang tua mereka. Perilaku pembangkangan pada anak memang tidak dapat lepas dari cara orang tua memperlakukan anaknya. Pembentukan perilaku-perilaku pembangkangan oleh anak tersebut terjadi dalam beberapa cara, antara lain:

Pertama. Orang tua memberikan penguat negatif (negative reinforcer; yang justru befungsi memperkuat respon) kepada anak agar ia menghentikan respon negatif akibat adanya stimulus eversif (tidak menyenangkan) yang diberikan orang tua sebelumnya. Keadaan semacam ini disebut “perangkap akibat penguat negatif” (negative reinforcer trap).

Contoh: Orang tua menyuruh anaknya membuang sampah, anak menolak dengan cara menunjukkan temper tantrum (kemarahan yang meledak-ledak, menolak dengan menjerit-jerit), orang tua manarik perintahnya. Maka anak akan mempelajari perilaku membangkang tersebut, kapan-kapan ia akan mengulangi perilaku yang sama untuk melawan perintah orang tua, yaitu dengan cara temper tantrum.

(klik gambar untuk memperbesar)

Contoh lain: ketika berada di tempat perbelanjaan anak melihat ada mainan yang disukainya, ia merengek-rengek kepada ibunya minta dibelikan. Ibunya merasa tak tahan dengan rengekan anaknya dan malu pada orang lain bila anaknya terus-menerus merengek, akhirnya ia mengabulkan permintaan anaknya. Maka anak akan mempelajari perilaku merengek sebagai senjata untuk memaksa orang tuanya menuruti kehendaknya. Kapan-kapan kalau ia menginginkan sesuatu ia akan merengek-rengek agar mendapatkan yang ia inginkan.

Kedua. Terjadi akibat adanya penguat positif (positive reinforcer) yang diberikan oleh orang tua untuk mengatasi respon anak. Biasanya ini akibat pola-pola perhatian dari orang tua: mencari-cari alasan untuk menerima perilaku anak, berusaha memahami dengan cara mendiksusikan hal tersebut pada anak. Keadaan seperti ini disebut sebagai “perangkap penguat positif” (positive reinforcer trap).

Contoh: orang tua menyuruh anaknya mandi, anak menolak, dan ngambek, agar anak tidak ngambek dan bersedia mandi, orang tua merayu anak dengan berjanji akan membelikan sesuatu pada anak, misalnya makanan yang disukai. Maka anak akan mempelajari perilaku membangkang tersebut, kapan-kapan ia akan mengulangi perilaku yang sama untuk melawan perintah orang tua, yaitu dengan mengajukan syarat kepada orang tua.

(klik gambar untuk memperbesar)

Ketiga. Adanya ketidakselarasan dalam pengasuhan (inconsistant parenting). Keadaan ini terjadi sebagai akibat perbedaan standar dalam menilai perilaku anak dari orang-orang yang terlibat dalam pengasuhan. Seperti antara ibu dan ayah, atau kalau pengasuhan tersebut dipegang oleh kakek-nenek si anak, biasanya ketidak-selarasan terjadi antara orang tua dengan kakek-nenek. Pada umumnya standar orang tua lebih ketat bila dibanding dengan kakek-nenek. Pola pengasuhan kakek-nenek kepada cucunya cenderung permisif (serba membolehkan), karena rasa sayang yang lebih besar.

Contoh: anak berkelahi sampai melukai temannya, ayah marahinya dan menghukum anaknya dengan melarangnya bermain selama beberapa hari. Ibu tidak sepakat dengan keputusan ayah, justru membela dan memberikan kasih sayang kepada anaknya, kadang-kadang kalau ayah tidak ada, ia membiarkan anaknya keluar untuk bermain. Kalau demikian keadaannya, maka anak kapan-kapan akan melawan perintah atau hukuman ayahnya karena merasa memiliki pendukung, yaitu ibunya.

Saran untuk Orang Tua

Orang tua harus pandai-pandai mencari cara-cara alternatif agar perintahnya dapat dituruti oleh anak. Orang tua harus berjuang keras memastikan anak melakukan perintah. Orang tua tidak disarankan menarik kembali (membatalkan perintahnya) atau mengurangi beban yang perintahkan, ini akan mempengaruhi persepsi anak kepada orang tua, anak menjadi kurang hormat pada orang tua karena dianggap kurang kewibawaannya. Orang tua yang mudah dikontrol oleh kemauan anaknya, akan menyebabkan terbentuknya karekter anak yang kurang mandiri, egois, kurang toleran dan kurang bisa berempati pada orang lain (empati: menempatkan diri dalam posisi orang lain agar dapat merasakan perasaan, penderitaan atau kesulitan orang lain).

Tentu saja dalam melakukan cara-cara untuk membuat anak melakukan perintah, orang tua perlu melihat keadaan anak, misalnya, anak yang sedang sakit/menunjukkan tanda-tanda sakit atau sangat lelah akibat perjalanan jauh, tidak dapat disamakan dengan anak yang berpura-pura sakit atau berpura-pura kelelahan. Jika demikian, orang tua perlu mempertimbangkan tiga hal, yaitu (1) harus melihat situasi dan kondisi sebelum memberi perintah kepada anak, pastikan anak sanggup melaksanakannya, (2) dalam melakukan cara guna membuat anak menuruti perintahnya, orang tua perlu mempertimbangkan kondisi anak dan mengambil cara yang paling ringan efek sampingnya, (3) tidak perlu memupuk rasa kasihan dalam membebankan tugas tertentu pada anak dalam hal-hal yang dipastikan tidak akan membahayakan jiwa maupun fisik anak, seperti contoh di atas, memerintahkan anak membuang sampah. Selain itu penyamaan persepsi mengenai standar dalam mengasuh anak juga penting untuk dibicarakan antara ayah dan ibu, perlu ada kesepakatan mengenai apa yang boleh/baik/harus dilakukan dan yang mana yang tidak boleh, buruk dan harus ditinggalkan oleh anak. Wallahu a’lam bish-shawaab.

Renungan

Setelah Anda membaca tulisan di atas, maka ada baiknya merenungkan dua terjemahan hadits berikut, semoga ada pelajaran yang dapat diambil.

“Seorang laki-laki adalah penggembala di dalam keluarganya, dan ia bertanggung jawab terhadapa gembalaannya itu. Dan seorang wanita adalah pengembala di dalam rumah suaminya, dan ia bertanggung jawab terhadap gembalaannya itu.” (riwayat al-Bukhari dan Muslim).

“Seseorang yang mendidik anaknya lebih baik daripada bersedekah satu sha’.” (riwayat at-Tirmidzi).

Kamudian setelah Anda telah cukup merenungkannya, maka tuliskanlah hasil renungan Anda itu di atas kertas, simpanlah kertas tersebut, dan jadikan sebagai pengingat di kala Anda mulai lelah dengan keseharian Anda.

Semoga bermanfaat.
Sumber : forget-hiro dot blogspot
9/09/2011 02:26:00 PM | 0 komentar | Read More

Cara Mengatasi Anak Yang Suka Berbicara Jorok dan Kasar

Written By Unknown on Tuesday, September 6, 2011 | 9/06/2011 08:24:00 AM


Pernahkah Anda mendapati atau mendengar kata-kata kasar dan kotor meluncur begitu saja dari mulut si kecil? Kemudian Anda berpikir, padahal tidak ada yang memberikan contoh seperti itu, baik di rumah maupun teman-temannya di sekitar rumah. Apa yang harus Anda lakukan untuk menghadapinya?

Banyak orangtua yang merasa sudah memerhatikan perkembangan dan lingkungan si kecil dengan seksama, tapi tiba-tiba menemukan si kecil melontarkan kata-kata yang kasar dan jorok di hadapan kita. Hal ini tentu sangat mengejutkan karena Anda merasa di rumah tak ada yang berlaku seperti itu. Orangtua pun akan khawatir jika si kecil akan mendapat pengaruh buruk dari lingkungan yang lain dan mulai mencari solusi agar si kecil tak terkontaminasi lebih parah.

Mengapa anak-anak bisa mengatakan kata-kata kasar dan jorok?

1. Karena secara tidak langsung anak-anak menikmati reaksi orang-orang di sekitarnya dan mencontohnya, seperti ia ditertawakan seolah-olah itu lucu dan menghibur, atau diperhatikan dengan rasa kaget dan ingin tahu dari lingkungannya.

2. Anak berkata kasar atau jorok bisa juga karena ia menirunya dari teman di sekolah, sekadar iseng, atau saat ia merasa marah dan mengetahui bahwa kata tadi bisa memancing kekesalan orang lain.

3. Bisa juga karena si kecil sedang mempelajari kata-kata yang baru dan senang dengan bunyi kata itu tanpa mengetahui artinya.
Sangat kaget ketika pulang sekolah, anakku mengucapkan kata-kata seperti itu. Ketika ditanya: "Tahu artinya tidak?" Ia jawab: "Tidak". Kemudian bercerita bahwa anakku hanya ikut-ikutan temannya mengatakan kata tersebut. Dan Alhamdulillah...akhirnya ia mau melupakan kata tersebut meski pelan-pelan.

Ada banyak alasan mengapa anak kita berkata kasar atau jorok.  

Cara mengatasi anak yang suka berbicara kasar dan jorok, yaitu:

1. Perhatikan saat kapan dan apa yang terjadi setelah anak berkata kasar atau jorok. Ini agar kita bisa mengerti alasan si anak.Dengan mengetahui itu, kita akan lebih mudah mengatasinya.

2. Saat anak mengucapkan kata kasar dan jorok, kita bisa bertanya kepada anak, misalnya darimana ia mendapatkan kata tersebut, kata tersebut artinya apa, juga misalnya akibat apa jika kata tersebut diucapkan kepada orang lain, dan sebagainya.

3. Jika anak tidak mengetahui arti dari kata kasar atau jorok tadi, kita dapat memberi tahu artinya secara singkat dan jelas, juga mengenalkan akibatnya jika ia mengucapkan kata-kata itu kepada orang lain.
Anak usia 4 tahun pada umumnya senang mempelajari kata-kata baru, apalagi di usia ini kemampuan berbahasa dan menyerap informasi anak-anak sedang berkembang dengan pesat.

4. Bila ia mengucapkan kata kasar atau jorok karena marah, Anda bisa mengajarkannya dengan memberi tahu kata-kata apa yang boleh diucapkannya ketika ia sedang marah. Anda juga bisa memberi tahu kepada si kecil bahwa kata-kata itu tidak boleh digunakan di dalam keluarga.

5. Ketimbang Anda memberikan hukuman atau peringatan keras kepada anak saat mengucapkan kata kasar atau jorok, lebih baik berikan perhatian saat ia mengucapkan kata-kata yang sopan sehingga ia lebih sering dan senang mengucapkan kata-kata yang baik.

6. Jika kata-kata kasar atau jorok yang diucapkan oleh anak berasal dari sekolah, memindahkannya ke sekolah yang lain tak akan menyelesaikan masalah. Anda tak mungkin menemukan sekolah dan teman-teman yang steril bagi si kecil karena sekolah dan teman merupakan lingkungan sosialisasi anak, di sana pula hal-hal yang dinilai baik dan buruk sangat sulit dipisahkan.

Apalagi pada anak usia 4 tahun, minat untuk mencoba dan mengeksplorasi hal baru sangat tinggi, termasuk mencoba-coba hal yang negatif tanpa ia sadari.

Percayakan ia mengeksplor, mengetahui hal baru, dan melakukan apa yang dapat ia lakukan secara mandiri di lingkungan sosialnya. Batasan-batasan dan aturan, kasih sayang dan perhatian, dukungan dan kepercayaan yang diberikan oleh keluarga setiap harinya justru menjadikan anak untuk tumbuh secara kuat dan baik di lingkungan luar rumah.

Diadaptasi dari tabloid Nova.
Semoga bermanfaat!

Sumber : seputarduniaanak dot blogspot
9/06/2011 08:24:00 AM | 0 komentar | Read More