Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Translate This Blog

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Showing posts with label MANAJEMEN WAKTU. Show all posts
Showing posts with label MANAJEMEN WAKTU. Show all posts

SERIAL MANAJEMEN WAKTU 4 : Nasehat Para Ulama Tentang Waktu

Written By Unknown on Thursday, January 13, 2011 | 1/13/2011 10:23:00 AM

Dari DSH untuk DUNIA
Inilah nasehat berharga dari para ulama kita. Sungguh di zaman ini, kita akan melihat banyak orang yang menyia-nyiakan waktu dan umurnya dengan sia-sia. Kebanyakan kita saat ini hanya mengisi waktu dengan maksiat, lalai dari ketaatan dan ibadah, dan gemar melakukan hal yang sia-sia yang membuat lalai dari mengingat Allah. Padahal kehidupan di dunia ini adalah kehidupan yang sangat singkat, tetapi kebanyakan kita lalai memanfaatkan waktu yang telah Allah berikan. Banyak perkataan-perkataan ulama terdahulu mengenai pentingnya menjaga waktu.

Ketahuilah bahwa Engkau Seperti Hari-harimu


Hasan Al Bashri mengatakan, “Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Tatkala satu hari itu hilang, maka akan hilang pula sebagian dirimu.”

Waktu Pasti akan Berlalu, Beramallah

Ja’far bin Sulaiman berkata bahwa dia mendengar Robi’ah menasehati Sufyan Ats Tsauri,

“Sesungguhnya engkau adalah kumpulan hari. Jika satu hari berlalu, maka sebagian dirimu juga akan hilang. Bahkan hampir-hampir sebagian harimu berlalu, lalu hilanglah seluruh dirimu (baca: mati) sedangkan engkau mengetahuinya. Oleh karena itu, beramallah.”

Waktu Bagaikan Pedang

Imam Asy Syafi’i rahimahullah pernah mengatakan,
“Aku pernah bersama dengan orang-orang sufi. Aku tidaklah mendapatkan pelajaran darinya selain dua hal. Pertama, dia mengatakan bahwa waktu bagaikan pedang. Jika kamu tidak memotongnya (memanfaatkannya), maka dia akan memotongmu.”

Jika Tidak Tersibukkan dengan Kebaikan, Pasti akan Terjatuh pada Perkara yang Sia-sia

Lanjutan dari perkataan Imam Asy Syafi’i di atas, “Kemudian orang sufi tersebut menyebutkan perkataan lain:

Jika dirimu tidak tersibukkan dengan hal-hal yang baik (haq), pasti akan tersibukkan dengan hal-hal yang sia-sia (batil).”

Waktu Berlalu Begitu Cepatnya

Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan, “Waktu manusia adalah umurnya yang sebenarnya. Waktu tersebut adalah waktu yang dimanfaatkan untuk mendapatkan kehidupan yang abadi, penuh kenikmatan dan terbebas dari kesempitan dan adzab yang pedih. Ketahuilah bahwa berlalunya waktu lebih cepat dari berjalannya awan (mendung).

Barangsiapa yang waktunya hanya untuk ketaatan dan beribadah pada Allah, maka itulah waktu dan umurnya yang sebenarnya. Selain itu tidak dinilai sebagai kehidupannya, namun hanya teranggap seperti kehidupan binatang ternak.”

Kematian Lebih Layak Bagi Orang yang Menyia-nyiakan Waktu

Lalu Ibnul Qoyyim mengatakan perkataan selanjutnya yang sangat menyentuh qolbu, “Jika waktu hanya dihabiskan untuk hal-hal yang membuat lalai, untuk sekedar menghamburkan syahwat (hawa nafsu), berangan-angan yang batil, hanya dihabiskan dengan banyak tidur dan digunakan dalam kebatilan (baca: kesia-siaan), maka sungguh kematian lebih layak bagi dirinya.”

Janganlah Sia-siakan Waktumu Selain untuk Mengingat Allah

Dari Abdullah bin Abdil Malik, beliau berkata, “Kami suatu saat berjalan bersama ayah kami di atas tandunya. Lalu dia berkata pada kami, ‘Bertasbihlah sampai di pohon itu.’ Lalu kami pun bertasbih sampai di pohon yang dia tunjuk. Kemudian nampak lagi pohon lain, lalu dia berkata pada kami, ‘Bertakbirlah sampai di pohon itu.’ Lalu kami pun bertakbir. Inilah yang biasa diajarkan oleh ayah kami.”

Semoga dengan merenungkan nasehat para ulama berikut, kita dapat menjadi lebih baik dan tidak menjadi orang yang menyia-nyiakan waktu.

*Sampun*


Sumber : dompetsosialhidayah.com DARI my quran.com
1/13/2011 10:23:00 AM | 0 komentar | Read More

SERIAL MANAJEMEN WAKTU 3 : Berhati-Hati Dengan Waktu Senggang

Program Unggulan DSH, info lebih lanjut silakan klik banner !
Rasulullah saw. mewanti-wanti para sahabat agar berhati-hati dengan waktu senggang. Beliau saw. bersabda, “Ada dua kenikmatan yang membuat banyak orang terpedaya yakni nikmat sehat dan waktu senggang.” (HR. Bukhari)
Ada banyak cara menggusur letih dan jenuh. Letih dan jenuh kadang tidak cuma bisa disegarkan dengan santai. Ada banyak cara agar penyegaran bisa lebih bermakna dan sekaligus terjaga dari lalai.
Para sahabat Rasul biasa mengisi waktu kosong dengan tilawah, zikir, dan shalat sunnah. Itulah yang biasa mereka lakukan ketika suntuk saat jaga malam. Bergantian, mereka menunaikan shalat malam.
Bentuk lainnya adalah bermain dengan istri dan anak-anak. Rasulullah saw. pernah lomba lari dengan Aisyah r.a. Kerap juga bermain ‘kuda-kudaan’ bersama dua cucu beliau, Hasan dan Husein. Dari sini, santai bukan sekadar menghilangkan jenuh. Tapi juga membangun keharmonisan keluarga.
Rasulullah saw. mengatakan, “Orang yang cerdik ialah yang dapat menaklukkan nafsunya dan beramal untuk bekal sesudah wafat. Orang yang lemah ialah yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan muluk terhadap Allah.” (HR. Abu Daud)
Dan harus kita sadari betul, ada pihak lain yang mengintai kelengahan kita. Pertarungan antara hak dan batil tidak kenal istilah damai. Tetap dan terus berlangsung hingga hari kiamat. Dari situlah, saling mengintai dan saling mengalahkan menjadi hal lumrah. Dan kewaspadaan menjadi hal yang tidak boleh dianggap ringan.
Pihak yang jelas-jelas melakukan pengintaian adalah musuh abadi manusia. Dialah iblis dan para sekutunya. Allah swt. membocorkan itu dalam firman-Nya. “Iblis mengatakan, ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (Al-A’raf: 16-17)
Pihak lain adalah kelompok manusia yang tidak suka dengan perkembangan Islam. Mereka selalu mengintai kelemahan umat Islam, mengisi rumah-rumah umat Islam dengan hiburan yang melalaikan. Bahkan, mengkufurkan. Masih banyak upaya lain orang kafir untuk menghancurkan Islam.
Karena itu, berhati-hatilah dengan waktu luang. Kalau tidak bisa diisi dengan yang produktif, setidaknya, isilah dengan yang tidak melalaikan. Wallohualam bishowwab. 
Sumber : dompetsosialhidayah.com DARI dakwatuna , Rohis unsoed.
1/13/2011 10:21:00 AM | 0 komentar | Read More

SERIAL MANAJEMEN WAKTU 2 : Landasan Dalam Mengatur Waktu


Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengatur waktu diantaranya adalah:
1. Mengetahui cara mengoptimalkan waktu
Setiap muslim, hendaknya memahami tentang cara mengoptimalkan waktunya. Hal ini bertujuan untuk kebaikan dan kemaslahatan dirinya dan orang lain. beberapa orang luar biasa yang berhasil memanfaatkan waktunya untuk berjuang dijalan Allah seperti
:1. Rosulallah SAW : dalam waktu 23 tahun berhasil membangun peradaban islam yang masih kokoh berdiri sampai sekarang. Menjadi penglima 80 peperangan memerangi kaum kafir dalam kurun waktu kurang dari 10 tahun, kepala rumah tangga yang sangat menyanyangi keluarga dan yang luar bisa adalah beliau seorang kepala pemerintahan yang bisa membagi waktu untuk rakyat dan keluarga secara seimbang.
  1. 2. Zaid bin Tsabit : sanggup menguasai bahasa parsi hanya dalam waktu 2 bulan. Penghimpun ayat al-quran dalam sebuah musyaf.
  2. 3. Abu Hurairah : dapat meriwayatkan 5374 hadist rosulallah.
  3. 4. Abu Bakar Al-Anbari : Setiap pekan membaca sebanyak sepuluh ribu lembar.
2. Memiliki manajemen hidup yang baik
Setiap muslim haruslah pandai mengatur segala urusan hidupnya dengan baik, menghindari kebiasaan yang tak jelas, dan sia-sia. Seperti terlalu lama mengobrol santai, bersenda gurau berlebihan, menunda-nunda pekerjaan, dan melewatkan hari untuk hal yang membuang-buang waktu seperti cuci mata dipusat pertokoan, terlalu lama dan sering melihat hiburan, dll. Ternyata telah mampu melalaikan seseorang dari kewajiban-kewajibannya. Baik kewajiban pada Allah ta’ala ataupun kewajibannya dalam pekerjaan dan peran sosialnya. Karenanya setiap muslim harus berpikir, membuat program, mempersiapkan, mengatur dan melaksanakan setiap rencananya dengan baik.
3. Memiliki Wudhuhul Fikrah
Seorang muslim haruslah memiliki keluasan atau fleksibilitas dalam berpikir. Seorang yang berakal akan selalu berpikir jauh kedepan. Mempertimbangkan manfaat mudhorot dari setiap tindakan yang dilakukannya. Setiap muslim perlu memiliki wawasan atau ilmu yang luas sehingga mampu memahami satu masalah dengan baik dan berdasarkan ilmu Ilmu akan membuat orang menjadi bijak dalam bertindak. Tidak gegabah dan dangkal dalam melihat satu persoalan.
4. Visioner
Seorang muslim juga harus memiliki pandangan jauh ke depan, bisa mengantisipasi berbagai persoalan yag akan terjadi di tahun-tahun mendatang. Perencanaan hari ini, diperlukan karena kehidupan tidak hanya untuk hari ini namun untuk masa- masa yang akan datang. Termasuk didalamnya mempersiapkan keluarga dengan mendidik anak-anak, karena mereka adalah asset dunia akhirat bagi orang tuanya, sehingga berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi mereka, terlebih masalah bekal agama.
5. Mengetahui Perencanaan dan skala prioritas
Mengetahui urutan ibadah dan prioritas, serta mengklasifikasi berbagai masalah Dengan memahami skala prioritas seseorang akan mudah memilih mana yang harus segera diselesaikan, mana yang penting, kurang penting dan tidak penting untuk segera diselesaikan.
6. Tidak Isti’jal (tergesa-gesa) dalam mengerjakan sesuatu
Mengerjakan sesuatu dengan tidak tergesa-gesa dan berdasar pada ketenangan jiwa yang stabil merupakan landasan yang penting dalam mewujudkan hidup yang lebih baik.
Secara sunnah kauniyah yaitu hokum alam dan kebiasaan semua harus berjalan dengan sebuah proses. Kalau seandainya ada orang yang ingin dengan secepatnya mendapatkan hasil yang sebaik-baiknya, dengan cara yang instant, maka hasilnya pasti akan tidak baik dan ibarat buah seperti dikarbit. Misalnya untuk mendapatkan keberhasilan seseorang perlu proses berusaha dan berjuang uyntuk mendapatkannya. Begitulah sunnah kauniyah menetapkan.
7. Spesialisasi dan pembagian pekerjaan
Setiap muslim haruslah memiliki keahlian tertentu. Ia boleh memiliki pengetahuan luas, tetapi ia juga perlu memfokuskan pada keahlian tertentu. Setiap keahlian itu diarahkan untuk memberikan kemanfaatan bagi diri sendiri dan juga ummat.
Sumber : dompetsosialhidayah.com DARI dakwatuna , Rohis unsoed.
1/13/2011 10:20:00 AM | 0 komentar | Read More

SERIAL MANAJEMEN WAKTU 1 : Urgensi Waktu Bagi Kehidupan Seorang Muslim

KLIKEN WAE EMBUNE
Dalam Al-Qur’anul Karim Surat Al-Ashr (103): 1-3, Allah berfirman yang artinya sebagai berikut :
1. Demi masa. 2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, 3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
Waktu terus berjalan, tak pernah berhenti berputar sesuai dengan kehendakNya. Waktu adalah bagian dari kekuasaan Allah subhanahu wataala, hingga Dia berkenan untuk bersumpah atas waktu. Tentunya ada hikmah besar yang akan diberikan pada manusia atas waktu yang telah diberikan padanya.
Kalau beberapa hari yang lalu berjuta orang diseluruh dunia merasa perlu dan bersuka cita menyambut pergantian tahun, bahkan dengan suasana pesta pora dan hura-hura. Yang menjadi pertanyaan adalah sadarkah mereka bahwa semakin hari berarti semakin berkurang kesempatan kita untuk merasakan hidup dibumiNya? Sadarkah bahwa waktu yang disediakan hendaknya menjadi sarana untuk mencari bekal sebanyak-banyaknya menuju kampung keabadian diakhirat kelak? Tahukah kita berapa jatah waktu yang Allah ta’aala sediakan untuk kita? Waktu adalah perkara ghoib yang penuh misteri. Ia menyimpan misteri umur bagi setiap mahlukNya. Lalu bahgaimana seharusnya kita menyikapi waktu yang hanya 24 jam dalam sehari itu?
manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling.” (Al-Hajj: 1)Maha Kuasa Allah yang menciptakan arena bumi sebagai sarana ujian. Kekayaan alam yang begitu melimpah. Sungai-sungai jernih yang melahirkan kehidupan. Hujan yang membangkitkan harapan. Semua kenikmatan itu sebenarnya adalah bagian dari ujian yang Allah ta’ala berikan, apakah manusia menggunakannya dengan sia-sia ataukah mensyukurinya. Apabila manusia itu bersyukur atas karunia yang diberikan maka ia akan mampu menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya.
Sumber : dompetsosialhidayah.com DARI dakwatuna , Rohis unsoed.
1/13/2011 10:18:00 AM | 0 komentar | Read More