Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Translate This Blog

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Showing posts with label motivasi islam. Show all posts
Showing posts with label motivasi islam. Show all posts

Anantomi Gerakan Wudhu Menurut Pandangan Medis

Written By Unknown on Friday, January 10, 2014 | 1/10/2014 08:37:00 PM

1. Rahasia Jumlah Tulang Manusia dan Ritual Wudhu

Jumlah tulang manusia dewasa ada 206 ruas (Henry Netter, 1906).Akan tetapi secara embriologis pusat penulangan semasa kehidupan janin dalam kandungan itu ada 350-an pusat penulangan (Leslie Brained Arey, 1934), yang kemudian banyak pusat –pusat penulangan yang menyatu, membentuk tulang dewasa. Bilangan pusat penulangan itu dekat dengan bilangan hari dalam satu tahun. Dalam kajian penulis, didapatkan adanya rahasia matematis tersebut. Ada dua premis (dari hadits dan atsar) :
a. Apabila kamu ditimpa demam satu hari, kemudian kamu bersabar, kamu akan mendapat pahala seperti ibadah satu tahun (Atsar dari Ali bin Abi Thalib)
b. Tiap – tiap ruas tulang anak adam itu ada sedekahnya setiap harinya (HR Bukhari Muslim, termasuk Hadits Arbain)
Dari dua premis tersebut dapat dihubungkan, bahwa tubuh ini mengandung sejumlah tulang yang mendekati bilangan hari dalam setahun. Tulang – tulang penyusun anggota wudhu jumlahnya tertentu,
dikalikan masing – masing dengan jumlah kali pembasuhan pada ritual wudhu, akan menghasilkan sama dengan bilangan keseluruhan jumlah tulang manusia.
Coba kita perhatikan jumlah tulang penyusun bagian – bagian tubuh yang dibasuh saat wudhu :
a. Lengan dan tangan : 30 buah
b. Tungkai dan kaki : 31 buah
c. Wajah : 12 buah
d. Rongga mulut dan hidung : 41 buah
e. Kepala : 12 buah

Bagian tubuh poin a – d dijumlahkan menghasilkan angka 114. Angka tersebut dikalikan 3 oleh karena pembasuhan waktu melakukan wudhu sebanyak 3 kali, menghasilkan angka 342. Poin e tidak dikalikan 3 karena memang hanya dibasuh 1 kali. Angka 342 dijumlahkan dengan 12, didapatkan angka 345, yakni sama dengan jumlah hari dalam 1 tahun hijiriyah, sekaligus sama dengan jumlah seluruh tulang manusia.

2. Wudhu dan Aliran Darah Perifer 
 
Dalam hadits riwayat empat Imam (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad Hambali) diterangkan
“Sempurnakanlah dalam berwudhu dan gosoklah sela – sela jari kalian...” perintah ini secara medis sangat bermakna. Mengapa sela – sela jari yang disebut?, ternyata di bagian itulah berjalan serabut saraf, arteri, vena, dan pembuluh limfe. Penggosokan daerah sela – sela jari itu sudah barang tentu memperlancar
aliran darah perifer (terminal) yang menjamin pasokan makanan dan oksigen. Kita tahu berapa banyak pasien yang mengalami sumbatan aliran darah dan berakibat pembusukan jari – jari. Tidak jarang diantara mereka harus menjalani amputasi.
Selain itu, serabut saraf juga secara langsung distimulasi oleh perbuatan kita menggosok sela – sela jari. Ujung jari sampai telapak tangan adalah bagian yang paling sensitif, karena paling banyak mengandung simpul reseptor saraf. Tiam 1 cm2 kulit di daerah itu, terdapat 120 – 230 ujung saraf peraba.

3. Titik – titik penting terdapat di Anggota Wudhu 

Kita dapat memahami bahwa anggota wudhu yang dibasuh adalah bagian – bagian tubuh yang biasanya banyak bersentuhan dengan dunia luar. Bagian – bagian tersebut umumnya tidak tertutup pakaian, abhakan memang menjadi alat kontak tubuh kita dengan lingkungan, sehingga paling banyak mengalami kontaminasi (kotoran), dan oleh karena secara logis paling perlu dibasuh. Inilah aspek higine dalam ritual wudhu.
Disisi lain, daerah ujung lengan (siku ke bawah) dan ujung tungkai
(lutut kebawah) terdapat titik – titik penting dalam akupuntur. Seluruh organ bagian dalam memiliki lima buah titik penting apabila dilakukan stimulasi akam memperbaiki fungsinya. Beberapa gangguan fungsi organ juga bisa dinormalkan dengan cara menstimulasi titik – titik penting tersebut.
“berwudhu dan gosoklah sela – sela jari kalian...”
perintah ini secara medis sangat bermakna. Mengapa sela – sela jari yang disebut?, ternyata di bagian itulah berjalan serabut saraf, arteri, vena, dan pembuluh limfe. Penggosokan daerah sela – sela jari itu sudah barang tentu memperlancar aliran darah perifer (terminal) yang menjamin pasokan makanan dan oksigen. Kita tahu berapa banyak pasien yang mengalami sumbatan aliran darah dan berakibat pembusukan jari – jari. Tidak jarang diantara mereka harus menjalani amputasi.
Selain itu, serabut saraf juga secara langsung distimulasi oleh perbuatan kita menggosok sela – sela jari. Ujung jari sampai telapak tangan adalah bagian yang paling sensitif, karena paling banyak mengandung simpul reseptor saraf. Tiam 1 cm2 kulit di daerah itu, terdapat 120 – 230 ujung saraf peraba.

4. Ear Acupunture 

Akupuntur telinga berkembang menjadi suatu cabang spesialis kedokteran di China. Menurut ilmu akupuntur telinga adalah representasi dari tubuh manusia. Bentuk telinga serupa dengan bentuk tubuh saat masih berupa janin yang meringkuk dalam rahim ibu. Kepalanya adalah bagian sering dipasan anting. Daerah lubang adalah rongga tubuh tempat tersimpanya organ – organ dalam. Melakukan stimulasi seperti wudhu akan berpengaruh baik terhadap fungsi organ dalam. Adapun lingkaran luar menggambarkan punggung. Pemijatannya juga seakan – akan melakukan stimulasi daerah punggung dan ruas – ruas tulang belakang.
Ilmu Brain Gym juga menjelaskan gerakan pasang telinga. Caranya, telinga digosok – gosok sendiri dengan lembut, hingga timbul warna kemerahan dan dirasakan dengan sensasi yang lebih hangat. Metode ini menambah konsentrasi dan daya serap belajar anak disekolah. Akibatnya prestasi juga meningkat. Sebaiknya anak – anak diajari untuk melakukan ini secara sadar, saat memulai belajar, baik di sekolah maupun dirumah.

· Dirangkum dari Buku Mukjizat Gerakan Sholat oleh dr. Sagiran, M.Kes, Sp.B
· Selengkapnya ada juga ANANTOMI GERAKAN SHOLAT MENURUT PANDANGAN MEDIS



Berita terkait :

MANFAAT WUDHU DAN SHOLAT DARI SEGI KESEHATAN MODERN

- See more at: http://rolays.blogspot.com/2014/01/manfaat-wudhu-dan-sholat-dari-segi.html#sthash.fF4A4OXx.dpuf
- MANFAAT WUDHU
- MANFAAT GERAKAN SHOLAT

MANFAAT WUDHU DAN SHOLAT DARI SEGI KESEHATAN MODERN

- See more at: http://rolays.blogspot.com/2014/01/manfaat-wudhu-dan-sholat-dari-segi.html#sthash.fF4A4OXx.dpuf
1/10/2014 08:37:00 PM | 0 komentar | Read More

MANFAAT WUDHU DAN SHOLAT DARI SEGI KESEHATAN MODERN (Bagian 2)

Sambungan dari Manfaat Wudhu

MANFAAT GERAKAN SHOLAT

a. Berdiri lurus
Berdiri lurus adalah pelurusan tulang belakang, dan menjadi awal dari sebuah latihan pernapasan, pencernaan dan tulang.
b. Takbir
Takbir merupakan latihan awal pernapasan, Paru-paru adalah alat pernapasan, Paru kita terlindung dalam rongga dada yang tersusun dari tulang iga yang melengkung dan tulang belakang yang mencembung. Susunan ini didukung oleh dua jenis otot yaitu yang menjauhkan lengan dari dada (abductor) dan mendekatkannya (adductor). Takbir berarti kegiatan mengangkat lengan dan merenggangkannya, hingga rongga dada mengembang seperti halnya paru-paru. Dan mengangkat tangan berarti meregangnya otot-otot bahu hingga aliran darah yang membawa oksigen menjadi lancar.
c. Ruku
Dengan ruku’, memperlancar aliran darah dan getah bening ke leher oleh karena sejajarnya letak bahu dengan leher. Aliran akan semakin lancar bila ruku’ dilakukan dengan benar yaitu meletakkan perut dan dada lebih tinggi daripada leher. Ruku’ juga mengempiskan pernapasan. Pelurusan tulang belakang pada saat ruku’ berarti mencegah terjadinya pengapuran. Selain itu, ruku’ adalah latihan kemih (buang air kecil) untuk mencegah keluhan prostat. Pelurusan tulang belakang akan mengempiskan ginjal. Sedangkan penekanan kandung kemih oleh tulang belakang dan tulang kemaluan akan melancarkan kemih. Getah bening (limfe) fungsi utamanya adalah menyaring dan menumpas kuman penyakit yang berkeliaran di dalam darah.
d. Sujud
Sujud Mencegah Wasir, mengalirkan getah bening dari tungkai perut dan dada ke leher karena lebih tinggi. Dan meletakkan tangan sejajar dengan bahu ataupun telinga, memompa getah bening ketiak ke leher. Selain itu, sujud melancarkan peredaran darah hingga dapat mencegah wasir. Sujud dengan cepat tidak bermanfaat. Ia tidak mengalirkan getah bening dan tidak melatih tulang belakang dan otot. Tak heran kalau ada di sebagian sahabat Rasul menceritakan bahwa Rasulullah sering lama dalam bersujud. Selain itu sujud adalah manifestasi ketotalan kita dalam berpasrah diri kepada Allah, bahwa manusia adalah mahluk yang lemah, seorang hamba yang sudah bisa menikmati sholatnya, maka jiwanya dalam titik nol, dalam kondisi yang paling pasrah dan stabil, seseorang yang dilanda stres akan terlepas segala beban di jiwa dalam posisi ini.selain secara fisik otot2 leher yang kaku karena stres akan diulur, sehingga seorang hamba yang beriman dan pandai memaknai sholatnya tidak akan pernah dilanda keputusasaan (Stress)

e. Duduk antara 2 sujud
Duduk di antara dua sujud dapat mengaktifkan kelenjar keringat karena bertemunya lipatan paha dan betis sehingga dapat mencegah terjadinya pengapuran. Pembuluh darah balik di atas pangkal kaki jadi tertekan sehingga darah akan memenuhi seluruh telapak kaki mulai dari mata kaki sehingga pembuluh darah di pangkal kaki mengembang. Gerakan ini menjaga supaya kaki dapat secara optimal menopang tubuh kita.


f. Salam
Gerakan salam yang merupakan penutup sholat, dengan memalingkan wajah ke kanan dan ke kiri bermanfaat untuk menjaga kelenturan urat leher. Gerakan ini juga akan mempercepat aliran getah bening di leher ke jantung.
Sholat Lebih Canggih dari Yoga “Apakah pendapatmu sekiranya terdapat sebuah sungai di hadapan pintu rumah salah seorang di antara kamu dan dia mandi di dalamnya setiap hari lima kali. Apakah masih terdapat kotoran pada badannya?”. Para sahabat menjawab : “Sudah pasti tidak terdapat sedikit pun kotoran pada badannya”. Lalu beliau bersabda : “Begitulah perumpamaan sholat lima waktu. Allah menghapus segala kesalahan mereka”. (H.R Abu Hurairah r.a).
Sangat disayangkan tidak ada universitas yang berani atau sengaja mengembangkan teknik gerakan sholat ini secara ilmiah. Belum lagi manajemen yang terkandung dalam bacaan sholat. Seperti doa iftitah yang berarti mission statement (dalam manajemen strategi). Sedangkan makna bacaan Alfatihah yang kita baca berulang sampai 17 kali adalah objective statement. Tujuan hidup mana yang lebih canggih dibandingkan tujuan hidup di jalan yang lurus, yaitu jalan yang penuh kebaikan seperti diperoleh orang-orang shaleh seperti nabi dan rasul.
Dr. Gustafe le Bond mengatakan bahwa Islam merupakan agama yang paling sepadan dengan penemuan-penemuan ilmiah. Perkembangan ilmu pengetahuan dan etika sains harus didukung dengan kekuatan iman.
Ajaran Muhammad begitu mulia dan ilmiah, beliau bukan saja dokter ruhani tapi lebih dari itu, adalah seorang dokter modern.pemimpin negara, pemimpin dunia dan akhirat,ahli strategi perang. Meski banyak orang yang membenci,menghina,mencemooh (karena kebodohan dan ketidak tahuan tentangmu) tapi itu semua tidak akan mengurangi kemuliaannya [pen]. 

( dikutip dari : Tabloid Nurani )

1/10/2014 08:29:00 PM | 18 komentar | Read More

MANFAAT WUDHU DAN SHOLAT DARI SEGI KESEHATAN MODERN

MANFAAT WUDHU
Dr. Bahar Azwar, SpB-Onk, seorang dokter spesialis bedah-onkologi ( bedah tumor ) lulusan FK UI dalam bukunya “ Ketika Dokter Memaknai Sholat “ mampu menjabarkan makna gerakan sholat. Bagaimana sebenarnya manfaat sholat dan gerakan-gerakannya secara medis? Selama ini sholat yang kita lakukan lima kali sehari, sebenarnya telah memberikan investasi kesehatan yang cukup besar bagi kehidupan kita. Mulai dari berwudlu ( bersuci ), gerakan sholat sampai dengan salam memiliki makna yang luar biasa hebatnya baik untuk kesehatan fisik, mental bahkan keseimbangan spiritual dan emosional. Tetapi sayang sedikit dari kita yang memahaminya. Berikut rangkaian dan manfaat kesehatan dari rukun Islam yang kedua ini.

a. Manfaat secara umum
Kulit merupakan organ yang terbesar tubuh kita yang fungsi utamanya membungkus tubuh serta melindungi tubuh dari berbagai ancaman kuman, racun, radiasi juga mengatur suhu tubuh, fungsi ekskresi ( tempat pembuangan zat-zat yang tak berguna melalui pori-pori ) dan media komunikasi antar sel syaraf untuk rangsang nyeri, panas, sentuhan secara tekanan.
Begitu besar fungsi kulit maka kestabilannya ditentukan oleh pH (derajat keasaman) dan kelembaban.
Bersuci merupakan salah satu metode menjaga kestabilan tersebut khususnya kelembaban kulit.
Kalau kulit sering kering akan sangat berbahaya bagi kesehatan kulit terutama mudah terinfeksi kuman. Dengan bersuci berarti terjadinya proses peremajaan dan pencucian kulit, selaput lendir, dan juga lubang-lubang tubuh yang berhubungan dengan dunia luar (pori kulit, rongga mulut, hidung, telinga). Seperti kita ketahui kulit merupakan tempat berkembangnya banya kuman dan flora normal, diantaranya Staphylococcus epidermis, Staphylococcus aureus, Streptococcus pyogenes, Mycobacterium sp (penyakit TBC kulit). Begitu juga dengan rongga hidung terdapat kuman Streptococcus pneumonia (penyakit pneumoni paru), Neisseria sp, Hemophilus sp.
Seorang ahli bedah diwajibkan membasuh kedua belah tangan setiap kali melakukan operasi sebagai proses sterilisasi dari kuman. Cara ini baru dikenal abad ke-20,sebagaimana kita tahu jepang membutuhkan 100 tahun untuk membiasakan cuci tangan, kapanye2 cuci tangan juga sedang gencar2nya di media massa, padahal umat Islam sudah membudayakan sejak abad ke-14 yang lalu. Luar Biasa!

b. Keutamaan Berkumur –kumur
Berkumur –kumur berarti membersihkan rongga mulut dari penularan penyakit. Sisa makanan sering mengendap atau tersangkut di antara sela gigi yang jika tidak dibersihkan ( dengan berkumur-kumur atau menggosok gigi) akhirnya akan menjadi mediasi pertumbuhan kuman. Dengan berkumur-kumur secara benar dan dilakukan lima kali sehari berarti tanpa kita sadari dapat mencegah dari infeksi gigi dan mulut.
Penelitian modern membuktikan bahwa berkumur dapat menjaga mulut dan tenggorokan dari radang dan menjaga gusi dari luka. Berkumur juga dapat menjaga dan membersihkan gigi dengan menghilangkan sisa-sisa makanan yang terdapat di sela-sela gigi setelah makan. Manfaat berkumur lainnya yg juga penting adalah menguatkan sebagian otot-otot wajah dan menjaga kesegarannya. Berkumur merupakan latihan penting yang diakui oleh pakar dalam bidang olahraga, karena berkumur jika dilakukan dengan menggerakkan otot-otot wajah dengan baik dapat menjadikan jiwa seseorang tenang.

c. Istinsyaq
Istinsyaq berarti menghirup air dengan lubang hidung, melalui rongga hidung sampai ke tenggorokan bagian hidung (nasofaring). Fungsinya untuk mensucikan selaput dan lendir hidung yang tercemar oleh udara kotor dan juga kuman.Selama ini kita ketahui selaput dan lendir hidung merupakan basis pertahanan pertama pernapasan.
Dengan istinsyaq mudah-mudahan kuman infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dapat dicegah.
Penelitian ilmu modern yang dilakukan oleh tim kedokteran Universitas Aleksandria membuktikan bahwa kebanyakan orang yg berwudhu secara kontinyu, maka hidung mereka bersih dan bebas dari debu, bakteri dan mikroba. Tidak diragukan lagi bahwa lubang hidung merupakan tempat yg rentan dihinggapi mikroba dan virus, tetapi dengan membasuh hidung secara kontinyu den melakukan istinsyaq (memasukan dan mengeluarkan air ke dan dari hidung di saat berwudhu), maka lubang hidung menjadi bersih dan terbebas dari radang dan bakteri, dan ini mencerminkan kesehatan tubuh secara keseluruhan. Proses ini dapat menjaga manusia akan bahaya pemindahan mikroba dari hidung ke anggota tubuh yg lain
d. Membasuh Wajah dan Kedua Telapak Tangan
Membasuh wajah dan kedua telapak tangan sampai ke siku memiliki manfaat yang sangat besar dalam menghilangkan debu dan mikroba, lebih dari membasuh hidung. Membasuh wajah dan kedua telapak tangan sanpai ke siku juga daat menghilangkan keringat dan permukaan kulit dan membersihkan kulit dari lemak yg dipartisi oleh kelenjar kulit, dan ini biasanya menjadi tempat yg ideal untuk berkembang biaknya bakteri.
Begitu pula dengan pembersihan telinga sampai dengan pensucian kaki beserta telapak kaki yang tak kalah pentingnya untuk mencegah berbagai infeksi cacing yang masih menjadi masalah terbesar di negara kita
e. Membasuh Kedua Telapak Kaki
Membasuh kedua telapak kaki dengan memijat secara baik danpat mendatangkan perasaan tenang dan nyaman, karena telapak kaki merupakan cerminan seluruh perangkat tubuh. Orang yang berwudhu seakan-akan memijat seluruh tubuhnya satu-persatu, padahal ia hanya membasuh kedua telapak kakinya dengan air dan memijatnya dengan baik. Ini merupakan salah satu rahasia timbulnya perasaan tenang dan nyaman yang dirasakan oleh seorang muslim setelah berwudhu.

Sumber :  http://smkn3pacitan.sch.id

Bersambung ke......
1/10/2014 08:23:00 PM | 0 komentar | Read More

KEAJAIBAN SABAR

Written By Unknown on Tuesday, October 16, 2012 | 10/16/2012 04:46:00 PM

Keajaiban Sabar▬

Bismillahirr Rahmanirr Rahim ...

1.> Apakah ada keajaiban sabar?
2.> Apakah benar dengan bersabar, hidup kita menjadi lebih tenang?
3.> Lalu, apa bedanya sabar dengan pasrah?
4.> Mengapa kita harus bersabar, sementara kita masih punya kemampuan
untuk berbuat sesuatu?

Bentuk-bentuk Kesabaran

Para ulama membagi kesabaran menjadi tiga:

1. Sabar dalam ketaatan kepada Allah

Lho, apakah untuk taat menjalankan ibadah, taat menjalankan perintah Allah,
orang harus bersabar? Oh, ternyata memang begitu. Misalnya, ketika berpuasa,
jika tidak sabar maka rasa laparpun tidak akan terbendung. Ketika shalat
malam, jika tidak sabar menahan kantuk dan rasa malas, pasti tidak akan
sanggup melakukannya.

Dengan demikian, untuk sekadar bisa melaksanakan ketaatan kepada Allah,
kita membutuhkan kesabaran. Bagaimana bisa? Ya, karena secara tabiat dan
naluri, jiwa manusia enggan untuk beribadah dan berbuat ketaatan. Ya kan
lebih enak bersantai ria, dibandingkan harus sibuk untuk ibadah.

Apa yang menyebabkan orang, seperti saya, sulit bersabar dalam ketaatan?
Setidaknya ada tiga hal yang menyebabkan insan sulit untuk bersabar.

Pertama karena malas, seperti dalam melakukan ibadah sholat. Lha, wong
sedang nikmat-nikmatnya nonton TV, kok ya harus berhenti untuk pergi ke
mesjid. Pasti akan sulit. Di sini kita diminta untuk bisa bersabar, bukan?

Kedua, karena bakhil (kikir, pelit). Yang kedua ini lebih banyak terkait dengan
hal-hal yang dianggap bisa mengurangi harta dan kekayaan, seperti
menunaikan zakat dan infak. Coba, kita lebih rela merogoh kantong untuk
menonton bioskop seharga Rp 25,000 per orang, tapi saat diminta
menyumbang untuk renovasi mesjid, kita hanya mengeluarkan satu lembar
uang ribuan.

Coba, kita lebih rela merogoh kantong untuk menonton bioskop seharga Rp
25,000 per orang, tapi saat diminta menyumbang untuk renovasi mesjid, kita
hanya mengeluarkan satu lembar uang ribuan.

Ketiga, karena keduanya, (malas dan kikir), seperti haji dan jihad. Untuk bisa
pergi haji, seseorang harus rela dengan berbagai ujian. Hidup jauh dari
keluarga selama satu bulan lebih, tentu tidak mudah. Belum lagi, biayanya juga
tidak sedikit. Rp 30 juta bisa untuk uang muka membeli mobil, atau cukup
untuk membeli motor, daripada di buang percuma hanya untuk pergi ke
mekah? Nah, jika tidak sabar dalam ketaatan, perasaan demikian pasti ada.

2. Sabar dalam meninggalkan kemaksiatan

Hidup bergelimang uang, terkadang membuat banyak orang lupa. Dengan
uang, bisa melakukan kemaksiatan apa saja. Secara hakiki, semua
kemaksiatan selalu menyenangkan. Mabuk, membuat orang merasa bisa
melepaskan beban hidup. Berzina, untuk melampiaskan nafsu syahwat.

Korupsi, bisa membuat kaya raya dan dihormati orang. Bukankah semua itu
nikmat, sangat nikmat?

Jika tidak punya kesabaran, tentu sulit meninggalkan segala kenikmatan
duniawi seperti itu. Sama halnya dengan meninggalkan kemaksiatan juga
membutuhkan kesabaran yang besar. Bahkan lebih besar. Tidak usah berpikir
meninggalkan kemaksiatan yang besar, yang kecilpun terasa berat juga.

Maksiat kecil itu relatif mudah dilakukan, dan tidak perlu modal banyak.
Misalnya, ghibah (ngerumpi, bergosip), dusta, atau menjaga mata dari sesuatu
yang haram.

3. Sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan dari Allah.

Ini yang sering terjadi. Misalnya, ketika ada saudara kita yang meninggal, jika
tidak sabar maka kita bisa pingsan, bahkan bisa langsung menyalahkan Allah.

Sebaliknya, jika kita sabra, justru akan melihat segala musibah itu sebagai
rahmat. Ya, minimal kita bisa melihat ada hikmah di balik musibah atau
cobaan itu.

Kiat-kiat untuk Meningkatkan Kesabaran :

1. Mengikhlaskan hidup dan niat semua ibadah kepada Allah

2. Memperbanyak tilawah (membaca) Al-Qur’an, baik pada pagi, siang, sore,
dan malam hari. Akan lebih optimal lagi manakala bacaan tersebut disertai
perenungan dan pentadabur-an.

3. Memperbanyak puasa sunah. Puasa merupakan ibadah yang memang
secara khusus dapat melatih kesabarn.

4. Mujahadatun nafs, yaitu sebuah usaha kerasa dan giat yang dilakukan
seseorang untuk mengalahkan nafsu yang cenderung menyukai hal-hal negatif,
seperti malas, marah, dan kikir.

5. Mengingat-ingat kembali tujuan hidup kita di dunia karena hal ini akan
memacu diri kita untuk beramal secara sempurna.

6. Perlu mengadakan latihan-latihan sabar secara pribadi seperti saat sedang
sendiri dalam rumah, hendaklah mengutamakan beribadah daripada menonton
televisi atau kegiatan hiburan lainnya. Kemudian, melatih diri untuk
menyisihkan sebagian rezeki untuk infaq fisabilillah.

7. Membaca kisah-kisah kesabaran para sahabat, tabi’in, maupun tokoh-tokoh
islam lainnya.

Sumber: FP FB Strawberry

10/16/2012 04:46:00 PM | 0 komentar | Read More

FROM THE WORD TO THE SWORD

Written By Unknown on Monday, October 1, 2012 | 10/01/2012 06:15:00 AM

Hamia’l wathis, perang telah berkobar! Ya, perang telah berkobar, di pusat-
pusat propaganda perdamaian dan kampanye hak asasi manusia, di halaman
koran-koran yang huruf-hurufnya menyala, di layar kaca yang penyiarnya
dengan enteng menyematkan gelar teroris bagi siapa saja yang tak sepikiran
dengan Bush, Sharon, dan sejenisnya.

Kekalahan telah menimpa sebagian umat ini, karena mereka percaya sebagian
dari mereka teroris, yang karenanya mereka harus selalu memikul dosa
kolektif. Kata imperialis dan kolonialis tak lagi populer, walaupun stigma teror,
jahat dan barbar, pemaksaan hutang luar negeri, dikte negara-negara donor,
sebenarnya telah menjadi ciri utama imperialisme dan kolonialisme baru.

Mereka telah takluk kepada kata, jauh sebelum takluk kepada senjata. Ada
sebahagian orang terkesiap dengan jargon masyarakat madani, demokrasi dan
hak asasi, lalu lupa kepada hakikat perang abadi antara haq dan bathil, antara
tauhid dan syirik, antara ikhlas dan nifaq. Mereka merasa betul-betul barbar
dan tak beradab, padahal guru sejati ilmu itu adalah barat sendiri, yang
menghajar kuba diteluk babi, membumihanguskan Vietnam, meluluhlantahkan
Afghanistan, bahkan menyerbu Indonesia paska bertekuk lututnya Nippon di
akhir PD II, untuk melancarkan kembalinya Kolonialis Belanda. Yang mengajar
rezim Hafez Assad meratakan Hamah dengan tanah, mengajarkan rezim Faruq
dan Nasser membuat jagal-jagal manusia sungguhan di Liman Thurrah dan
Sijn Askar. Yang mengajarkan Soekarno berkonfrontasi dengan sesama Melayu
(Malaysia), dan Soeharto membantai di Tanjung Priok, Lampung, Aceh, dan
Haur Koneng. Barat modern sama dengan para pendahulu mereka, kaum
kolonial yang memandang pribumi sebagai ekstrimis dan teroris. Apa bukan
dari Mahellan rezim-rezim timur merampasi tanah rakyat, seperti sang guru
merampasi tanah-tanah bangsa Maharlika (Philipina) dengan siasat licik Yang
Punya Surat Tanah ialah Pemilik Tanah. Bedanya Timur lama memandang
Muhammad Toha di Bandung Selatan, Diponegoro, Imam Bonjol, Hasanudin,
dan lain-lain; sebagai pahlawan dan Timur baru memandang Ahmad Yasin,
Muhammad bin Dirah, dan Khaled Misy’al sebagai biang kerok.

Sejumlah Ormas Islam, mengawal perayaan keagamaan segelintir umat
beragama lain yang sukses mengemas isyu dan merekayasa opini. Mereka
kerahkan para pemuda Islam dengan sukarela dan yakin diri yang dipaksakan
seakan mereka adalah kekuatan Khilafah yang kuat dan adil, yang karenanya
harus menjadi rahmatan lil ‘alamin. Padahal sampai hari ini umat tak pernah
merasa aman dari pembakaran masjid, pesantren, dan rumah milik oleh
sesama umat. Bahkan mereka tidak aman dari fatwa untuk tidak berbelanja di
toko sesama saudara Muslim yang berbeda Ormas. Mereka telah terasuki
dosa, perasaan berdosa bangsa Jerman modern yang setiap tahun harus
menangis-nangis merayakan hari penyesalan mereka atas tindakan yang
dilakukan rezim masa lalu, Hitler dan Partai Nazi-nya terhadap kaum (tidak
hanya) Yahudi lebih dari setengah abad silam. Semoga semua usaha ini
bertujuan mulia, melindungi umat yang tak henti-hentinya didera fitnah bom di
berbagai tempat dan di bantai di Maluku, Poso, dan Nangroe Aceh.

Menjadi “Fanatikus” yang Madani atau “Ashri” yang Salafi

Untuk menang, orang perlu kekuatan diri, modal informasi lapangan, data gerak
dan makar lawan serta berbagai kelengkapan. Bila itu semua belum di tangan,
pertolongan dan keajaiban masih dapat diraih. Instuisi berbanding lurus
dengan kecanggihan senjata lawan. Ini kerap dilupakan. Banyak perjuangan
bermodalkan fanatisme yang diejek dan dinaifkan, namun justru membawa
keberuntungan. Bukankah Barat begitu gencar memproduksi istilah,
stigmatisasi, dan jargon terhadap dunia Islam, tak lain sebabnya karena takut
realita umat ini. Mereka bekerja keras agar tubuh umat Islam ini tidak berjalan
ke arah yang mereka cemaskan. Mereka boleh jadi metafor tubuh singa dan
harimau, namun jangan diberi kesempatan berkepala singa dan harimau.

Rekayasa agar kepala itu kepala tikus atau kelinci bahkan ditransplantasikan
dengan kepala kecoak. Transplantasi moral telah berjalan jauh lebih dulu
daripada kemajuan transplantasi dan bedah plastik!

Siapa gerangan petarung yang tak bermoral fanatisme, hari ini dan sepanjang
sejarah! Bahkan orang yang begitu bangga tidak fanatik, sesungguhnya sangat
fanatik dengan ketidakfanatikannya. Ini bukan teror logika, karena sejarah
sekulerisme dan kaum sekuler membuktikan hal tersebut. Dari Kemal sampai
Bush, semua terlibat dalam sensor, penggusuran agama dengan dalih
reformasi, anti terorisme, penyebaran fitnah dan stigma-stigma. Apa ini bukan
fanatisme?

Kita diperintahkan untuk membangun keputusan di atas fakta-fakta, bayyinah
dan burhan serta dilarang membangunnya di atas waham, informasi sumir
kaum fasiq, su’uzhan dan kebencian. Tetapi kita juga dibekali intuisi iman
yang jernih, tajam dan penuh cinta.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam sangat fair ketika menyebut Najasyi
sebagai raja yang tidak membiarkan seorangpun dizhalimi di depan matanya,
bahkan menyuruh para sahabatnya untuk berhijrah ke Ethiopia, negeri Sang
Raja. Namun beliau juga sangat kritis dan sensitif ketika Ummu Salamah
menceritakan lukisan dan gambar para santo dan santi di gereja-gereja
mereka: “Mereka makhluk paling buruk di sisi Allah!” karena sikap kultus dan
pendewaan kepada orang-orang shalih, simbol-simbol umat untuk memproduk
dusta-dusta publik.

Kesadaran Bermusuh

Bukan hanya doktrin dan postulat keagamaan, bahkan pengalaman dan fakta
sejarah telah memberikan pelajaran berharga, bahwa musuh agama dan umat
itu benar-benar ada, permanen dan berpengalaman. Keberhasilan paling besar
mereka ketika berhasil menghilangkan kesadaran bermusuh dari ingatan
Muslimin. Umat didekatkan dengan musuh agar mudah ditikam tanpa rasa
curiga. Kenyataannya mereka lebih nyaman dan aman berdekatan dengan
musuh dan waswas terhadap saudara sendiri. Sebenarnya kesadaran
bermusuh tidak harus melenyapkan kelembutan dan kasih sayang, semangat
positif bagi teraihnya hidayah, bahkan oleh musuh paling keras. Sebaliknya
kelembutan dan kasih sayang tidak boleh melarutkan kewaspadaan terhadap
permusuhan permanen yang mengancam setiap saat. Dalam momen-momen
khusus Allah selalu memberikan bimbingan bagaimana musuh selalu
menginginkan kalian lengah terhadap senjata dan logistikmu (QS An
Nisa’:102), sebagaimana serangan permanen terus berlangsung sepanjang
tahun, sepanjang bulan, pekan, hari, menit dan detik. “Dan mereka terus
menerus akan memerangimu sampai berhasil mengembalikan (memurtadkan)-
mu dari agamamu seandainya mereka mampu…” (QS Al Baqarah:217).

Sudah saatnya semangat nahi munkar umat ditimbang secara adil dan
didudukkan secara proporsional. Kalau tidak nahi munkar akan berubah
menjadi permusuhan internal, dakwah berubah menjadi sumpah serapah dan
kebencian. Dan musuh terus melenggang tenang. Soal umat memang perkara
musykil, apakah mereka telah keluar dari islam atau belum masuk ke dalam
islam. Semoga Allah merahmati Ustadz Hasan Hudhaibi, Salim Bahnasawi,
Musthafa Hilmi, DR. Qardhawi dan yang seperti mereka seputar ulasan tuntas
mereka perkara pengkafiran sesama Muslim. Penyikapan yang benar lahir dari
aqidah yang benar. “Barang siapa yang menyembah Allah hanya dengan cinta
maka ia adalah Zindiq. Barang siapa menyembah Allah hanya dengan harapan
maka ia adalah Murji’ah. Barang siapa menyembah Allah hanya dengan khauf
(takut) maka ia adalah Haruri(Khawarij),” demikian pesan Ibnu Taimiyah.

=RAHMAT ABDULLAH=

10/01/2012 06:15:00 AM | 0 komentar | Read More

Manhaj Wasathiyah (Pertengahan)

Written By Unknown on Friday, September 21, 2012 | 9/21/2012 11:29:00 AM

MANHAJ WASATHIYAH (Pertengahan)
(Implementasi Sikap Wasathiyah Dalam Fiqih)
Oleh : Ust. Anwar Sarwat,Lc

Kata al-wasathiyah ( ﺍﻟﻮﺳﻄﻴﺔ ) dalam bahasa Arab adalah dari kata al-wasath
( ﺍﻟﻮﺳﻂ ) yang diterjemahkan secara bahasa dengan makna pertengahan. Maka
manhaj wasathiyah sering dimaknai sebagai pendapat pertengahan di antara dua
atau lebih pendapat yang berbeda. Dan sering juga dianggap sebagai pendapat
moderat.

Mazhab Al-Wasathiyah di Masa Lalu

Kalau kita menengok ke zaman awal mula berdirinya mazhab-mazhab fiqih besar,
kita akan bertemu dua kutub fiqih yang berbeda. Pertama adalah mazhab ahlur-
ra'yi, yaitu mazhab Al-Hanafiyah yang berpusat di Kufah.

Tokoh besarnya adalah Al-Imam Abu Hanifah rahimahullah (80-150 H). Kekuatan
yang paling menonjol dari mazhab ini memang pada penggunaan nalar dan logika
(manthiq), meski bukan berarti meninggalkan nash dan atsar .

Seandainya tidak ada qiyas yang dikembangkan mazhab ini, boleh jadi bangsa
Indonesia hari ini kita masih membayar zakat al-fithr dengan kurma dan gandum.
Bahkan mungkin khamar masih sebagai air perasan buah kurma dan anggur
semata.

Kedua adalah mazhab ahli hadits yang berpusat di Madinah, tokoh besarnya Al-
Imam Malik rahimahullah (93 – 179 H). Mazhab ini bukan berarti tidak
menggunakan qiyas atau logika, namun penggunaan nash dan atsar sangat
dominan. Bahkan pendapat dan fatwa shahabat (qaul shahabi) termasuk ke
dalam sumber fiqih mereka, termasuk praktek penduduk Madinah (amalu ahlil-
madinah), walau pun dari bukan level shahabat, juga dijadikan salah satu dasar
pengambilan fatwa.

Lalu posisi yang boleh dibilang agak di tengah dari keduanya adalah mazhab Asy-
Syafi'iyah. Al-Imam Asy-Syafi'i rahimahullah (150-204 H) sering disebut-sebut
sebagai pendiri mazhab wasathiyah yang menjadi jembatan penghubung di antara
kedua mazhab itu.

Beliau sendiri awalnya berguru kepada Al-Imam Malik di Madinah, namun
kemudian juga berguru kepada murid-murid Al-Imam Abu Hanifah di Kufah.
Sampai akhinya beliau menjadi mujtahid mutlak, dan mendirikan mazhab baru
yang terpisah dari dua mazhab sebelumnya.

Namun keistimewaan yang ada pada kedua mazhab yang agak berbeda itu malah
menyatu di dalam mazhab Asy-Syafi'iyah. Di satu sisi mazhab itu punya dasar
kekuatan nash yang cukup fundamental, sementara ketika bicara nalar dan logika,
juga punya kekuatan yang nyaris sama.

Nampaknya Al-Imam Asy-syafi'i rahimahullah memandang bahwa masing-
masing mazhab yang sudah ada sebelumnya memang punya kekuatan dan
keistimewaan yang tidak bisa dinafikan. Lalu mengapa tidak digunakan masing-
masing kekuatan itu.

Walau pun perlu dicatat bahwa mazhab Asy-Syafi'iyah sendiri bukan hasil
'kanibalisasi' dari kedua mazhab sebelumnya. Mazhab itu didirikan di atas
sumber-sumber yang muktamad, hasil ijtihad dari sang pendiri, Al-Imam Asy-
Syafi'i sendiri.

Al-Wasathiyah di Masa Kini

Para ulama kontemporer yang benar-benar memahami ilmu fiqih dan ushul, rata-
rata sepakat bahwa kita ini semua tidak berada pada level mujtahid, dalam arti
sebagai mujtahid mutlak. Kapasitas kita bukan sebagai orang yang berhak untuk
mendirikan mazhab baru, di luar keempat mazhab yang sudah eksis sebelumnya.
Oleh karena itu, wujud al-wasathiyah di masa modern ini barangkali bukan lagi
seperti yang dilakukan oleh Al-Imam Asy-Syafi'i 1300-an tahun yang lalu. Hari ini
kita tidak perlu membangun mazhab baru, karena selain para ulama Islam di masa
kini tidak punya kapasitas, juga sebenarnya kita memang tidak terlalu
memerlukannya.

Sikap Wasathiyah

Yang bisa kita lakukan hari ini kurang lebih adalah bagaimana kita sebagai orang
awam dan bukan mujtahid, bisa bersikap wasathiyah, yaitu sikap dan posisi yang
pertengahan, moderat, adil, seimbang di antara sekian banyak perbedaan
pendapat fiqih.

Kalau pun seseorang cenderung pada suatu pendapat dan meyakininya sebagai
lebih rajih, maka sikapnya tidak harus menyalahkan atau menafikan pendapat
yang lain. Pendapat yang lain perlu juga diakui, bahkan diberikan fasilitas yang
layak, agar wujud harmonisasi benar-benar nyata.

Qunut Shalat Shubuh

Katakanlah dalam masalah khilafiyah qunut shubuh, dimana mazhab Al-
Hanafiyah membid'ahkannya, namun mazhab As-Syafi'iyah malah
mengatakannya sunnah muakkadah.

Tidak mungkin posisi kita yang bukan mujtahid ini menjadi semacam hakim atau
dewan juri, yang merasa berhak untuk meloloskan suatu pendapat dan
membatalkan pendapat yang lain.

Biarlah kedua mazhab itu berbeda, karena masing-masing punya dalil yang amat
kuat dan sulit untuk diruntuhkan begitu saja. Dan biarlah kedua pendapat itu
diikuti oleh masing-masing pengikutnya, tanpa harus kita pojokkan atau kita
persalahkan.

Sikap wasathiyah kita adalah bagaimana agar pengikut qunut dan anti qunut bisa
shalat shubuh berjamaah dengan harmonis dengan satu imam. Kalau imamnya
dari kalangan anti qunut misalnya, maka sikap wasathiyah yang diperlukan
adalah memberi pengumuman sebelum shalat dimulai, bahwa para makmum yang
ingin berdoa qunut tetap diberikan kesempatan qunut sendiri-sendiri, sementara
sang imam akan memperlama i'tidalnya.

Sebaliknya, kalau imamnya dari kalangan qunut, maka imam mempersilahkan
makmum yang tidak qunut untuk tidakc mengucapkan amin dan tidak perlu
mengangat tangan.

Zakat Al-Fithr : Uang atau Beras

Demikian juga dalam hal perbedaan membayar zakat al-fithr dengan uang atau
beras, kita juga bisa bersikap wasathiyah. Sebagaimana kita tahu bahwa jumhur
ulama menetapkan bahwa zakat al-fithr itu sesuai dengan namanya yang
bermakna makanan, maka harus diberikan dalam bentuk makanan, yaitu bahkan
makanan yang masih mentah dan merupakan makanan pokok bagi penduduk
suatu negeri (quut balaidihi).

Sementara mazhab Al-Hanafiyah membolehkan zakat itu diganti dengan uang
yang senilai dengan makanan. Dan kedua pendapat ini tidak mudah disatukan
begitu saja.

Maka bentuk sikap wasathiyah bagi panitia zakat misalnya dengan memberikan
fasilitas penjualan beras, sehingga buat mereka yang tetap ingin membayar
dengan beras, bisa membeli dulu beras kepada panitia, lalu beras itu diserahkan
kepada panitia untuk disalurkan kepada fakir miskin.

Tentu panita tidak perlu belanja beras dulu dan memenuhi kantor sekretariat
dengan karung beras. Karena jual beli itu bisa menggunakan sistem akad salam
(salaf), dimana uang diserahkan namun penyerahan barangnya ditangguhkan.

Inti Sikap Wasathiyah

Kalau boleh disimpulkan, inti dari sikap wasathiyah adalah sikap tawadhu' dan
rendah hati, khususnya bagi mereka yang belajar ilmu agama. Ilmu yang
dipelajarinya tidak membuat dirinya merasa paling pintar, lalu bersikap orang lain
harus berada dalam posisi selalu salah.

Semakin dalam ilmunya, maka semakin menunduk karena merasa semakin
bodoh. Sebaliknya, semakin dangkal ilmunya, memang biasanya semakin over
acting memperlihatkan kebodohannya.

Sikap wasathiyah ini akan lebih mudah terbangun manakala seseorang belajar
ilmu fiqih secara lebih dalam dari para ulama yang ahli di bidangnya. Karena
dengan itu akan terbuka cakrawala keilmuannya. Maka belajar fiqih kalau perlu
tidak hanya dari satu guru, dan juga perlu punya kitab yang beragam dari berbagai
mazhab, serta melakukan berbagai kajian perbandingan mazhab.

Sebab mereka yang belajar ilmu fiqih secara benar, pasti akan menemukan bahwa
perbedaan pendapat itu sebuah realita yang tidak mungkin dihindari, dan selalu
akan terus muncul dalam setiap momen kehidupan. Maka tidak mungkin di masa
keterbukaan ini, kita masih saja asyik untuk meributkan khilafiyah, sampai ke titik
saling caci, saling ejek, atau saling melecehkan.

Yang dibutuhkan adalah sikap wasathiyah, dimana kita tetap menghormati para
ulama dengan masing-masing pendapat mereka, lalu kita memberikan kebebasan
kepada umat untuk memilih mana yang sekiranya mereka pilih. Tugas kita justru
memberi informasi yang selengkap-lengkapnya dan sejujurnya, dan bukan
memaksakan satu pendapat dan melecehkan yang lain.

Intinya, menghindari perbedaan pendapat itu harus dengan cara mempelajarinya
secara menyeluruh, dan bukan dengan meninggalkan atau malah membuang ilmu
fiqih.

Wallahua'lam bishshawab.

-------------------------
Motivasi, Ilmu dan Bisnis
-------------------------

9/21/2012 11:29:00 AM | 0 komentar | Read More

Bergeraklah dan Bersihkan Hati

Written By Unknown on Thursday, August 30, 2012 | 8/30/2012 08:20:00 PM

Sebuah Motivasi Diri......

"Jika engkau telah selesai dalam satu urusan, maka bersiaplah untuk bersungguh-sungguh menyambut datangnya urusan selanjutnya." 

 Oleh : Sugar Rolays

Hati yang bersih, jernih. Memancarkan cahaya di gulitanya malam. Sang musafirpun tak lagi tertatih, merangkak mencari pegangan. Hanya saja, kejernihan harus dijaga. Agar cahaya itu tak pudar dan.......
.............gelap lagi.

Itulah hidup. Harus ada gerak. Ada perjuangan. Tiada henti !
Hingga mautlah yang hanya mampu membuatnya diam. Lantas apa yang pantas disandangkan sebagai julukan untuk orang yang secara fisik hidup namun kenyataannya ia berhenti berjuang.... berhenti bergerak ?
Mayat hidupkah ? Benalukah ?? Tak tega rasanya mengatakannya.

Namun demikian, seharusnyalah kita lebih sering menuduh diri sendiri saja. Mencari kekurangan diri untuk kemudian membenahinya.
Meminjam istilah Aa' Gym :
Tiga (3) M inilah yang akan mengantarkan hati kita menjadi lebih bersih, jernih dan suci.
Hingga cahaya akan memancar darinya. Lisan hanya akan menebar bunga.
Fikir hanya akan merekan keindahan. Tindakanpun hanya akan menyelamatkan.
Tiada yang tersakiti, tiada yang terdzolimi.
Bagaikan lebah madu yang tercipta untuk kebaikan.
Sampai-sampai orang yang dihatinya ada permusuhan dengan kita, akan segan menampakkan permusuhannya.
Alangkah indahnya !

Ya Rabb yang membolak-balikkan hati, tetap teguhkanlah hati ini dalam penghambaan hanya kepada-MU.
La illaha illa anta subhanaka inni kuntu minadh dholimin.

Wisma Cinta ; Sunday, July 22nd, 2007 ; 00.35 wib

Reff. :
  1.  QS. 94:7
  2. QS. Fushshilat : 34
  3. Fiqih Dakwah jilid 1 - Syaikh Musthafa Masyhur - Al I'tishom Cahaya Umat,2000hal102-114
  4. HR.Tirmidzi 3522, Ahmad 4/302, al-Hakim 1/525, Lihat Shohih Sunan Tirmidzi III no.2792
_______________________________________________________________________________

PENTING !!! 

Pahala sedekah HANYA dengan KLIK dan SHARE !

Syawal adalah bulan peningkatan.. Jika Anda ingin bersama-sama mendapatkan pahala sedekah maka tak ada alasan untuk menolak meng-KLIK link ini dan tentu saja juga men-SHARE ke sahabat-sahabat Anda. Apa alasannya ??? Karena link artikel ini
sedang diikutkan lomba SEO BLOG CONTEST dengan hadiah total 16 juta. Kabar baiknya jika menang juara berapapun maka 50% akan DI-SEDEKAH-KAN !! Ini beneran dan tidak main-main. Karena memang kita sedang belajar berjual beli dengan Allah.... yang pahalanya? Anda pasti lebih paham :-)
Mari bersama meraih pahala semudah meng-klik dan men-share link ini....
http://rolays.blogspot.com/2012/08/lakucom-belanja-online-grosir-eceran.html

_______________________________________________________________________________


8/30/2012 08:20:00 PM | 0 komentar | Read More

Keluarga Sakinah, Modal Untuk Reuni Di Surga [Bagian-2]

Written By Unknown on Friday, August 3, 2012 | 8/03/2012 01:25:00 PM

Keluarga Sakinah, Modal Untuk Reuni Di Surga [Bagian-2]
Oleh: Shalih Hasyim


Menjadi Imam Yang Adil


Saudaraku, dengan izin Allah Subhanahu Wata’ala jualah Anda sampai pada saat yang paling indah, paling bahagia, tetapi juga paling mendebarkan dalam kehidupan Anda. Saat paling indah, sebab mulai sejak sekarang cinta tidak lagi berbentuk khayalan dan impian. Saat yang paling bahagia, sebab akhirnya Anda berhasil mendampingi wanita yang Anda cintai. Saat yang paling mendebarkan, sebab mulai saat ini Anda memikul amanat untuk menjadi pemimpin (qowwam) keluarga.

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah Subhanahu Wata’ala telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu maka wanita yang salehah, ialah yang taat kepada Allah Subhanahu Wata’ala lagi memelihara diri [tidak berlaku curang serta memelihara rahasia dan harta suaminya] ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah Subhanahu Wata’ala telah memelihara (mereka) [mempergauli istrinya dengan baik]. wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya [meninggalkan rumah tanpa izin suami], maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala Maha Tinggi lagi Maha besar.” (QS. An Nisa (4) : 34)

Menyusahkannya, maksudnya  untuk memberi peljaran kepada isteri yang dikhawatirkan pembangkangannya haruslah mula-mula diberi nasehat, bila nasehat tidak bermanfaat barulah dipisahkan dari tempat tidur mereka, bila tidak bermanfaat juga barulah dibolehkan memukul mereka dengan pukulan yang tidak meninggalkan bekas. bila cara pertama telah ada manfaatnya janganlah dijalankan cara yang lain dan seterusnya.

Kalau pada saat ini dada Anda berguncang, darah Anda berdebur, dan suara Anda bergetar, itu adalah pertanda Anda tengah memasuki babak baru dalam kehidupan Anda. Dahulu Anda adalah manusia bebas yang boleh pergi sesuka Anda. Tetapi sejak hari ini Anda belum juga pulang setelah larut malam, di rumah Anda ada seorang wanita yang tidak bisa tidur karena mencemaskan Anda. Kini, bila berhari-hari Anda tidak pulang tanpa berita, di kamar Anda ada seorang perempuan lembut yang akan membasahi bantalnya dengan linangan air mata. Dahulu bila Anda mendapat musibah, Anda hanya mendapat ucapan ‘turut berduka cita’ dari sahabat-sahabat Anda. Tetapi kini, seorang istri akan bersedia mengorbankan apa saja agar Anda meraih kembali kebahagiaan Anda. Anda sekarang mempunyai kekasih yang diciptakan Allah Subhanahu Wata’ala untuk berbagi suka dan duka, berbagi rasa dan empati dengan Anda.

Saudaraku, wanita yang duduk di samping Anda bukanlah segumpal daging yang dapat Anda kerat dengan tidak semena-mena, dan bukan pula budak belian yang dapat Anda perlakukan sewenang-wenang. Ia adalah wanita yang dianugerahkan Allah Subhanahu Wata’ala untuk membuat hidup Anda lebih indah dan lebih bermakna. Ia adalah amanat Allah Subhanahu Wata’ala yang akan Anda pertanggungjawabkan di hadapan-Nya.

“Ada dua dosa yang akan didahulukan Allah Subhanahu Wata’ala siksanya di dunia ini juga, yaitu al baghyu dan durhaka kepada orangtua.” (HR. Turmudzi, Bukhari dan Thabrani).

Al baghyu adalah berbuat sewenang-sewenang, berbuat zalim dan menganiaya orang lain. Dan al-baghyu yang paling dimurkai Allah Subhanahu Wata’ala ialah berbuat zalim terhadap istri sendiri. Termasuk al-baghyu ialah menterlantarkan istri, menyakiti hatinya, merampas kehangatan cintanya, merendahkan kehormatannya, mengabaikannya dalam mengambil keputusan, dan mencabut haknya untuk memperoleh kebahagiaan hidup bersama Anda. Karena itulah Rasulullah Saw. mengukur tinggi rendahnya martabat seorang laki-laki dilihat dari cara ia bergaul dengan istrinya.

“Tidak memuliakan wanita kecuali laki-laki yang mulia. Tidak merendahkan wanita kecuali laki-laki yang rendah juga.”


“Laki-laki yang tidak sukses dalam mengendalikan keluarganya, membiarkannya berbuat maksiat, ia termasuk dayyus (bencong). Tidak akan masuk surga orang yang bencong (la yadkhulul jannata dayyusan).”
(al-Hadits).

Rasulullah Muhammad adalah manusia yang paling mulia. Ia melayani keperluan istrinya, memasak, menyapu lantai, memerah susu, dan membersihkan pakaian, cerita Aisyah. Dia memanggil istrinya dengan gelaran yang baik. Ya humaira (wahai yang memiliki pipi kemerah-merahan).

Sepeninggal Rasulullah ada beberapa orang menemui Aisyah, memintanya agar menceritakan perilaku Rasulullah saw. Aisyah sesaat tidak menjawab pertanyaan itu. Air matanya berderai, kemudian dengan nafas panjang, Ia berkata : semua perilakunya mengagumkan.

Ketika didesak untuk menceritakan perilaku Rasul yang paling mempesona, Aisyah kemudian mengisahkan bagaimana Rasulullah yang mulia bangun di tengah malam dan meminta izin kepada Aisyah untuk shalat malam. Izinkan aku menyembah Tuhanku, ujar Rasulullah kepada Aisyah. Bayangkan, sampai shalat malam saja diperlukan izin istrinya. Disitu terhimpun kemesraan, kesucian, kesetiaan dan penghormatan.

Muliakan istri saudara sedemikian rupa sehingga kelak, bila Allah Subhanahu Wata’ala menakdirkan Anda meninggal dahulu, lalu kami tanyai istri Anda tentang perilaku Anda, ia akan menjawab seperti Aisyah : Ah ………… semua perilakunya indah, mengagumkan.

Dapatkan Ebook GRATIS 
Klik gambar di bawah ini...



 Menjadi Makmum Yang Taat

Saudariku, Rasulullah saw pernah bersabda :
   
“Seandainya aku boleh memerintahkan manusia bersujud kepada manusia lain, akan aku perintahkan istri untu bersujud kepada suaminya karena besarnya hak suami yang dianugerahkan Allah Subhanahu Wata’ala atas mereka.” (HR. Abu Daud, Al Hakim, dan At Turmudzi)

Banyak istri yang menuntut agar suaminya membahagiakan mereka. Jarang terpikirkan bagaimana ia berupaya membahagiakan suami. Mawaddah dan rahmah tumbuh berkembang dalam suasana memberi bukan mengambil. Cinta adalah sharing – saling berbagi.

Saudariku, Anda boleh memberi apa saja yang Anda miliki kepada pasangan Anda. Tetapi, bagi suami, tiada suatu pemberian istri yang paling membahagiakan selain hati yang selalu siap berbagi rasa, berbagi kesenangan dan penderitaan.

Di luar rumah ia menemukan wajah-wajah tegar, mata-mata tajam, ucapan kasar, pergumulan hidup yang berat, digoncangkan dengan berbagai kesulitan. Ia ingin kembali ke rumah, disitu ditemukan wajah yang ceria, penerimaan yang tulus, ucapan yang lembut, pAndangan mata yang sejuk, yang bersumber dari keteduhan kasih sayang Anda. Suami saudari ingin mencairkan seluruh beban jiwanya dengan kehangatan air mata yang keluar dari telaga kasih sayang Anda.

“Istri yang paling baik ialah yang membahagiakanmu bila kamu memandangnya, yang mematuhimu bila kamu menyuruhnya, dan memelihara kehormatan dirinya dan hartamu bila kamu tidak ada.” (HR. Thabrani).

Allah Subhanahu Wata’ala membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), Maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah Subhanahu Wata’ala; dan dikatakan (kepada keduanya): "Masuklah ke dalam Jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)." (QS. At-Tahrim (66) : 10).

Artinya, nabi-nabi sekalipun tidak dapat membela isteri-isterinya atas azab Allah Subhanahu Wata’ala apabila mereka menentang agama.

“Dan Allah Subhanahu Wata’ala membuat isteri Fir'aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: "Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah Aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah Aku dari kaum yang zhalim. Dan (Ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, Maka kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-KitabNya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat.” (QS. At-Tahrim (66) : 11-12).

Surga itu terletak di bawah telapak kaki kaum ibu, kata Rasulullah. Apakah rumah tangga yang Anda bangun hari ini akan menjadi surga dan neraka tergantung Anda sebagai ratu rumah tangga (rabbatul bait). Rumah tangga akan menjadi surga (baitii jannatii) bila di dalamnya ada hiasan kesabaran, kesetiaan dan kesucian.

“(Wahai kaum wanita), ingatlah ayat-ayat Allah Subhanahu Wata’ala dan al-hikmah yang dibacakan di rumah-rumah kamu. Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala Maha Penyayang dan Maha Mengetahui.” (QS. Al Ahzab (33) : 34).

Saudariku, kelak bila perahu rumah tangga Anda bertubrukan dengan kerikil tajam, bila impian ketika remaja menjelma menjadi kenyataan yang pahit, bila bukit-bukit pulau idaman di guncang badai, kami ingin melihat Anda tetap teguh, tegar di samping suami Anda. Anda tetap tersenyum walaupun langit berawan tebal. Sedotlah haul dan kekuatan Allah Subhanahu Wata’ala, dengan bangun malam. Jika pada saat yang bersamaan suami Anda mengaminkan doa yang Anda panjatkan, insya Allah Subhanahu Wata’ala harapan Anda akan segera dikabulkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala Swt. Tiada pemAndangan yang terindah bagi suami Anda kecuali Anda berdoa dengan suara lirih untuk kebahagiaannya.

Aisyah pernah cemburu kepada kepada Khadijah, dan berkata :


“Aku tidak pernah menaruh cemburu terhadap seorang perempuan sebagaimana aku cemburu terhadap Khadijah.” Rasulullah senantiasa terkenang dengan istri pertamanya itu, sekalipun secara fisik telah berpisah. Beliau bersabda :


“Khadijah beriman kepadaku pada saat orang mendustakan daku. Dan Khadijah membantuku dengan harta kekayaannya pada saat orang menghentikan pertolongan kepadaku.”

Saudariku, seandainya ditakdirkan Allah Subhanahu Wata’ala Anda meninggal dunia lebih dahulu, lalu kami menemui suami Anda dan kami tawarkan pengganti Anda, pada saat itu suami Anda akan marah seperti Rasulullah yang mulia berkata, ketika Aisyah merasa cemburu dengan Khadijah. Ia berkata: “Demi Allah Subhanahu Wata’ala, tidak ada yang dapat menggantikan dia. Dia yang memperkuat hatiku ketika aku hampir berputus asa. Dia mempercayaiku ketiak semua orang menjauhiku. Dia memberikan ketulusan hati ketika semua orang mengkhianatiku.”

“Bila seorang wanita meninggal dunia, sedangkan suaminya ridha sekali dengan tingkah lakunya ketika ia masih hidup, maka wanita itu masuk surga.”

Jika suami dalam keluarga berhasil menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana, disupport dengan sami’na wa ‘atha’na istri (sendiko dhawuh), dan diteladani oleh anak keturunannya, mereka akan reuni di surga, kelak.

“dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath Thur (52) : 21)

Alhasil,  anak cucu mereka yang beriman itu ditinggikan Allah Subhanahu Wata’ala derajatnya sebagai derajat bapak- bapak mereka, dan dikumpulkan dengan bapak-bapak mereka dalam surga. Itulah sebaik-baiknya reuni di surga.

Marilah arahkan pasangan kita atau kita antarkan pernikahan kita untuk mengayuh kapal rumah tangga dengan bekal taqwa. Semoga dengan tiket dari Allah Subhanahu Wata’ala ini akan menyelamatkan keduanya dari gelombang yang akan menerpa dinding-dinding kapal (QS. Al Baqoroh : 197).

Selamat berlabuh untuk menempuh batera kehidupan baru, semoga selamat dan bahagia sampai pulau idaman.*




Sumber : http://www.hidayatullah.com/read/22785/23/05/2012/keluarga-sakinah%2C-modal-untuk-reuni-di-surga-%5B2%5D.html

Customer Relation PKPU Bandung
Jl. Gatot Subroto No. 46 B Bandung
Telp. 022-7316764 Hotline 022-76300200
SMS Centre 0812 204 8454
Twitter : @PKPU_Bandung
8/03/2012 01:25:00 PM | 0 komentar | Read More

Keluarga Sakinah, Modal Untuk Reuni Di Surga [Bagian-1]

Written By Unknown on Thursday, July 26, 2012 | 7/26/2012 02:45:00 PM

Keluarga Sakinah, Modal Untuk Reuni Di Surga [Bagian-1]

Oleh: Shalih Hasyim


MAHA SUCI Allah Subhanahu Wata’ala yang telah menciptakan makhluk-Nya berpasang-pasangan. Berjenis laki-laki dan perempuan. Ada kutub positif dan kutub negatif. Ada siang dan malam. Suka dan duka. Sedih dan gembira. Jika bisa dikelola dengan baik, perputaran dan pergiliran dua keadaan yang saling kontradiktif, kehidupan manusia menjadi dinamis dan romantis.

Allah Subhanahu Wata’ala juga telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui. (QS. Yasin (36) : 36)

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak. Di antara tanda-tanda keagungan Allah ialah, Dia menciptakan bagimu, dari jenismu sendiri, pasangan-pasangannya, supaya kamu hidup tenteram bersamanya, dan dijadikan Allah bagimu cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya dalam hal itu ada tanda-tanda bagi orang-orang yang mau berfikir.” (QS. Ar Rum (30) : 20-21).

Mitsaqan Ghalizha


Ayat ini ditempatkan Allah Subhanahu Wata’ala pada rangkaian ayat tentang tanda-tanda kebesaranNYA di alam semesta -  tegaknya langit, terhamparnya bumi, turunnya air hujan, gemuruhnya suara halilintar, dan keajaiban penciptaan manusia. Dengan ayat di atas Allah Subhanahu Wata’ala ingin menegaskan dan mengajarkan kepada kita betapa Ia dengan sengaja menciptakan kekasih yang menjadi pasangan/pendamping setia hidup manusia.



Diciptakan Allah Subhanahu Wata’ala bumi dengan segala yang ada di atasnya – samudera luas, bukit tinggi, rimba belantara – untuk kebahagiaan manusia. Diedarkan Allah Subhanahu Wata’ala mentari, rembulan, gugusan bintang-gemintang, dijatuhkan-Nya hujan, ditumbuhkan-Nya pepohonan, dan disirami-Nya tetanaman, semua karunia itu untuk kebahagiaan manusia.


Tetapi, Allah Subhanahu Wata’ala Yang Maha Mengetahui memberikan lebih daripada itu. Diketahui-Nya getar dada kerinduan hati. Yaitu bersanding sehidup semati dengan si jantung hati. Betapa sering kita memerlukan seseorang yang mau mendengar bukan saja kata yang diucapkan, melainkan juga jeritan hati yang tidak terungkapkan, yang bersedia menerima segala perasaan – tanpa pura-pura, prasangka, dan pamrih. Karena itu diciptakan-Nya seorang kekasih. Allah Subhanahu Wata’ala tahu, pada saat kita diharu biru, diempas ombak, diguncang badai, dan dilanda duka, kita memerlukan seseorang yang mampu meniupkan kedamaian, mengobati luka, menopang tubuh yang lemah, dan memperkuat hati – tanpa pura-pura, prasamgka, dan pamrih. Karena itu diciptakan-Nya seorang kekasih. Allah Subhanahu Wata’ala tahu, kadang-kadang kita berdiri sendirian lantaran keyakinan atau mengejar impian. Kita memerlukan seseorang yang bersedia berdiri di samping kita tanpa pura-pura, prasangka dan pamrih. Karena itu diciptakan-Nya seorang kekasih.


Supaya hubungan antara pencinta dan kekasihnya itu menyuburkan ketentraman, cinta, dan kasih sayang, Allah Subhanahu Wata’ala menetapkan suatu ikatan suci, yaitu aqad nikah. Dengan ijab (penyerahan) dan qobul (penerimaan) terjadilah perubahan besar: yang haram menjadi halal, yang masiat menjadi ibadat, kekejian menjadi kesucian, dan kebebasan menjadi tanggung jawab. Nafsu pun berubah menjadi cinta (mawaddah) dan kasih (rahmah) dan ulfah (hubungan yang jinak).


Begitu besarnya perubahan itu sehingga Al Quran menyebut aqad nikah sebagai mitsaqan ghalizha (perjanjian yang berat). Hanya tiga kali kata ini disebut di dalam Al Quran.


Pertama, ketika Allah Subhanahu Wata’ala membuat perjanjian dengan para Nabi – Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad saw.

“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri), dari Nuh, Ibrahim, musa, dan Isa putera Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang berat.” (QS: Al Ahzab (33): 7).

Kedua, ketika Allah Subhanahu Wata’ala mengangkat Bukit Thur di atas kepala bani Israil dan menyuruh mereka bersumpah setia di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala



“Dan telah Kami angkat ke atas (kepala) mereka bukit Thursina karena (mengingkari) perjanjian (yang telah Kami ambil dari) mereka. Dan Kami perintahkan kepada mereka : Masukilah pintu gerbang itu sambil bersujud, dan Kami perintahkan (pula) kepada mereka : Janganlah kamu melanggar peraturan mengenai hari Sabtu, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang berat.” (QS: An Nisa (4) : 154).

Ketiga, ketika Allah Subhanahu Wata’ala menyatakan hubungan pernikahan (QS. An Nisa (4) : 21).

“Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.”

Mitsaqan ghalizha
berarti kita sepakat untuk menegakkan dinul islam dalam rumah, sepakat untuk membina rumah tangga sakinah, mawaddah dan rahmah serta ulfah. Sepakat meninggalkan maksiat. Sepakat saling mencintai karena Allah Subhanahu Wata’ala. Menghormati dan menghargai. Saling menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing. Saling menguatkan keimanan. Saling menasihati dalam menetapi kebenaran dan saling memberi nasihat dengan kasih sayang. Saling setia dalam suka dan duka, kefakiran dan kekayaan, sakit dan sehat.



Pernikahan juga bermakna sepakat meniti hari demi hari dengan kebersamaan. Sepakat untuk saling melindungi dan menjaga. Saling memberikan rasa aman. Saling mempercayai dan menutup aib. Saling mencurahkan dan menerima keluhan dan perasaan. Saling berlomba dalam beramal. Saling memaafkan kesalahan. Saling menyimpan dendam dan amarah.

Pernikahan berarti pula sepakat untuk tidak melakukan penyimpangan. Tidak saling menyakiti perasaan dan fisik. Juga sepakat untuk mengedepankan sikap lemah lembut dalam ucapan, santun dalam pergaulan, indah dalam penampilan, mesra dalam mengungkapkan keinginan. 

Ijab Qabul, Bukan Peristiwa Kecil

Karena itu peristiwa aqad nikah bukanlah kejadian kecil di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala. Akad nikah sama tingginya dengan perjanjian para rasul, sama dahsyatnya dengan perjanjian bani Israil di bawah bukit Thursina yang bergantung diatas kepala mereka.

Peristiwa aqad nikah tidak saja disaksikan oleh kedua orangtua, sudara-saudara, dan sahabat-sahabat, sanak famili, handai taulan, tetangga, tetapi juga disaksikan oleh para malaikat di langit yang tinggi, dan terutama sekali disaksikan oleh Allah Subhanahu Wata’ala Penguasa alam semesta.

Bila perjanjian ini disia-siakan, diceraikan ikatan tali hubungan yang sudah terbuhul, diputuskan janji setia yang telah terpatri, kita tidak saja harus bertanggung jawab kepada semua yang hadir menyaksikan peristiwa yang berkesan itu, tetapi juga bertanggung jawab di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala.

“Laki-laki adalah pemimpin di tengah keluarganya, dan ia harus mempertanggungjawabkan kepemimpinannya. Wanita adalah pemimpin di rumah suaminya, dan ia harus mempertanggungjawabkan kepemimpinannya.” (HR. Bukhari Muslim).

Kata Rasulullah, “Yang paling baik di antara kamu adalah yang paling baik dan paling lembut terhadap keluarganya.” (Al Hadits).

Mengapa Kita Memelihara Ikatan Itu ?

Mengapa Allah Subhanahu Wata’ala dan Rasul-Nya mewasiatkan agar kita memelihara aqad nikah yang sakral ini? Mengapa kebaikan manusia diukur dari cara dia memperlakukan keluarganya? Mengapa suami dan isteri harus mempertanggungjawabkan peran yang dilaksanakan di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala?



Jawabannya sederhana: Karena Allah Subhanahu Wata’ala Maha Mengetahui bahwa kebahagiaan dan penderitaan manusia sangat tergantung pada hubungan mereka dengan orang-orang yang dicintai mereka, yakni dengan keluarganya. Bila di dunia ini ada surga, kata Marie von Ebner Eschenbach, surga itu adalah pernikahan yang bahagia. Tetapi, bila di dunia ini ada neraka, neraka itu adalah pernikahan yang gagal. Para psikolog menyebutkan persoalan rumah tangga sebagai penyebab stress yang paling besar dalam kehidupan manusia.


Karena itulah, Islam dengan penuh perhatian mengatur urusan rumah tangga. Sebuah ayat pernah diturunkan dari langit hanya untuk mengatur urusan pernikahan antara Zainab dan Zaid bin Haritsah. Sebuah surat turun untuk mengatur urusan rumah tangga seluruh kaum muslimin. Ribuan tahun yang silam, di Padang Arafah, di hadapan ratusan ribu ummat islam yang pertama, Rasulullah saw. menyampaikan khotbah perpisahan.

“Wahai manusia, takutlah kepada Allah Subhanahu Wata’ala akan urusan wanita. Sesungguhnya kamu telah mengambil mereka sebagai istri dengan amanat Allah Subhanahu Wata’ala. Kami halalkan kehormatan mereka dengan kalimah Allah Subhanahu Wata’ala. Sesungguhnya kamu mempunyai hak atas istrimu, dan istrimu pun mempunyai hak atasmu. Ketahuilah, aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik terhadap istri kalian. Mereka adalah penolong kalian. Mereka tidak memilih apa-apa untuk dirinya, dan kamu pun tidak memilih apa-apa dari diri mereka selain itu. Jika mereka patuh kepadamu, janganlah kamu berbuat aniaya terhadap mereka.” (HR. Muslim dan Turmudzi).*



Sumber : http://www.hidayatullah.com/read/22765/22/05/2012/keluarga-sakinah,-modal-untuk-reuni-di-surga-%5B1%5D.html


Customer Relation PKPU Bandung
Jl. Gatot Subroto No. 46 B Bandung
Telp. 022-7316764 Hotline 022-76300200
SMS Centre 0812 204 8454
Twitter : @PKPU_Bandung
7/26/2012 02:45:00 PM | 0 komentar | Read More

Jaga Aurat dari Maut

Written By Unknown on Monday, July 2, 2012 | 7/02/2012 03:02:00 PM

Suatu kali, seorang akhwat dengan senyum tak enak berkata, “Mo gimana lagi, ane sebelum pake jilbab udah tinggal sama ipar. Jadi nggak enak aja kalo sekarang dengan dia pake tutupan segala.”

Yang mendengar tentu langsung lemas. Masa’ ketika di luar, dari atas sampai bawah tertutup, giliran di rumah dibuka begitu saja.

Kejadian di atas adalah fakta yang penulis temui sekitar satu tahun lalu—mudah-mudahan akhwat tersebut kini berubah pikiran—dan kenangan itu kembali lagi setelah seorang siswi SMA menanyakan status iparnya pada penulis. Sebelumnya, seseorang juga pernah berkata, saudara ipar adalah mahram karena ikatan perkawinan. Hm, siapa bilang?

“Hindarilah berkhalwat (berduaan) dengan kaum wanita!” Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah dengan saudara ipar?” Rasulullah menjawab, “Berkhalwat dengan saudara ipar itu adalah maut!” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi).

Rasulullah saw menyebut kata ‘maut’ karena besarnya bahaya yang ditimbulkan dari tindakan berduaan (khalwat). Saudara ipar, dalam kehidupan sehari-hari, memang lebih terkesan seperti keluarga. Statusnya di masyarakat tak beda dengan sepupu yang menurut sebagian orang adalah mahram. Padahal, ipar maupun sepupu (yang berlainan jenis), tanpa sebab tertentu tidak termasuk deretan mahram yang Allah sebutkan dalam al-Quran.

Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu istrimu (mertua); anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An-Nisa [4]: 23).

Juga tidak termasuk golongan orang-orang yang dibolehkan melihat aurat seorang perempuan.

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara lelaki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. An-Nuur [24]: 31).

Para ulama mengklasifikasikan mahram berdasarkan sebabnya menjadi 3 golongan (laki-laki sebagai subjek):
  1. Mahram karena nasab
    1. Ibu kandung, nenek, buyut, dst.
    2. Anak perempuan, cucu, dst.
    3. Saudara kandung.
    4. ‘Ammat/bibi (saudara wanita ayah).
    5. Khaalaat/bibi (saudara wanita ibu).
    6. Banatul akh/anak perempuan dari saudara laki-laki.
    7. Banatul ukht/anak perempuan dari saudara perempuan.
  2. Mahram karena mushaharah (besanan)
    1. Ibu dari istri (mertua).
    2. Anak perempuan dari istri (anak tiri).
    3. Istri dari anak laki-laki (menantu).
    4. Istri dari ayah (ibu tiri).
  3. Mahram karena penyusuan
    1. Ibu yang menyusui.
    2. Ibu dari wanita yang menyusui.
    3. Ibu dari suami yang istrinya menyusuinya.
    4. Anak perempuan dari ibu yang menyusui (saudara sepersusuan).
    5. Saudara perempuan dari suami perempuan yang menyusui.
    6. Saudara perempuan dari ibu yang menyusui.

Selain dari hal-hal yang disebutkan di atas, ada pula mahram yang semata-mata diharamkan menikahinya saja, tapi tidak membuat seorang laki-laki dibolehkan melihat aurat, bepergian berdua, atau berkhalwat dengannya. Mereka adalah: istri orang lain, saudara ipar, perempuan dalam masa iddah (baik dicerai suaminya maupun yang ditinggal wafat), istri yang telah ditalak tiga, istri yang telah dili’an (dicerai dengan cara dilaknat), perempuan dalam keadaan ihram, perempuan budak (padahal mampu menikahi yang merdeka), perempuan pezina, perempuan musyrik, dan perempuan non-Muslim yang bukan kitabiyah.

Sebagai Muslimah dengan al-Quran dan sunnah sebagai pedoman, maka wajib bagi kita menaati aturan di dalam kedua peninggalan Rasul tersebut. Jangan menjadikan pandangan manusia sebagai tolok ukur untuk menjaga aurat. Mereka yang belum paham, sebaiknya diberitahu, bukan dimaklumi dengan melonggarkan syariat yang sudah ditentukan Allah. Karena tidak ada kepatuhan pada siapa pun dalam bermaksiat!


Sumber:
http://www.dakwatuna.com/2012/03/19431/jaga-aurat-dari-maut/#ixzz1piv4hvvf


Customer Relation PKPU Bandung
Jl. Gatot Subroto No. 46 B Bandung
Telp. 022-7316764 Hotline 022-76300200
SMS Centre 0812 204 8454
Email : cr.bandung@pkpu.or.id
YM / FB : cr_pkpujabar@yahoo.com
Twitter : @CR_PKPU_Bandung
7/02/2012 03:02:00 PM | 0 komentar | Read More