Lalu, bagaimana cara membangun karakter anak sejak usia dini?
Deru Sang Angin mengajakku bangkit dari keengganan untuk berkelana menelisik cahaya. Dan akupun luluh oleh lihai rayunya. Hingga kamipun bersahabat, erat. Dan kata-kata, inilah pisau bermata dua. Melengkapi kembaraku agar aku bisa merobek dada durjana. Membasuh jantung dan hatinya untuk kembali tunduk pada Yang Maha Kuasa.
HypnoPareting: Anchor Peluk vs Gendong
Oleh Idzma Mahayattika
“Sini, peluk sama Ayah”
Kalimat yang selalu saya katakan ketika Gaza dan Filan sedang
menangis atau merasa tidak nyaman. Kemudian, saya memeluk mereka
dengan penuh kasih saying untuk menenangkan dan membuat nyaman. Saya
menggunakan kata peluk untuk meng-anchor kata “peluk” di pikiran bawah
sadar saya, Gaza dan Filan. Sehingga ketika saya bilang “peluk”, maka
pikiran bawah sadar saya akan mengakses “kondisi” atau “state” diri saya
yang “penyayang, menenangkan dan melindungi”. Disisi lain kata “peluk” akan
membuat pikiran bawah sadar Gaza dan Filan mengakses kondisi “disayang,
ditenangkan dan dilindungi”. Jadi buat saya, kata peluk sama dengan
“menenangkan, menyayangi dan melindungi”. Dan buat Gaza&Filan kata
“peluk” sama dengan “disayang, ditenangkan dan dilindungi”.
Kenapa saya menggunakan kata peluk? Bukan gendong? Padahal yang
saya lakukan seringkali mirip menggendong atau bahkan sebenarnya
menggendong. Betul, sebenarnya posisi pelukan saya juga seringkali berbeda-
beda tergantung maunya Gaza dan Filan. Walaupun saya juga punya posisi
pelukan andalan, Gaza atau Filan saya peluk di dada dengan tangan saya
mendekap punggungnya :)
Kalau saya menggunakan kata gendong, saya akan kesulitan ketika
anak-anak sudah besar. Hei! Kan berat kalo harus gendong anak kalo dia
sedang menangis. Apalagi kalo dia meronta-ronta! Susaaah! Sekarang saja
saya kesulitan, kalo keduanya nangis dan minta gendong. Nah kalo peluk? Kan
tidak harus digendong/diangkat. Pelukan bisa dilakukan sambil berdiri,
jongkok, duduk, bahkan tiduran. Bisa dilakukan dimana saja, di rumah, di
kamar, di luar ruangan bahkan di dalam mobil. Kalo Gendong? Emang bisa
gendong anak di mobil?
Itulah alasan kenapa saya menggunakan kata peluk ketika menenangkan
anak-anak ketika menangis, tidak nyaman atau tidak aman. Sederhana dan
mudah. Contoh Gaza (3thn) menangis ketika terbangun dari tidurnya, saya pun
sedang tidur. Karena tidur di kamar yang terpisah, Ia lari menuju saya. Saya
yang sedang tidur nyenyak pasti akan pusing ketika terbangun dan langsung
berdiri mendengar tangisan Gaza. Dengan kata sakti “sini, peluk sama Ayah”
dan pelukan sambil tiduran, ia pun kembali tenang dan tertidur. Sederhana
kan?
Nah setelah membaca penjelasanku diatas, pasti timbul pertanyaan apa
itu “anchor”? lalu bagaimana membuat atau menanamnya? “anchor” adalah
tombol pikiran-perasaan. Sesuatu yang akan membuat kita memunculkan
sebuah pikiran atau perasaan. “Anchor” ini bisa berupa suara, sentuhan atau
sesuatu yang kita lihat. Contoh : setiap melihat lampu lalu lintas menyala
warna merah, apa yang anda pikirkan? Berhenti bukan?. Atau ketika anda
mendengar kata “sayang”, tiba-tiba muncul perasaan ketika disayang oleh istri
atau suami di rumah. Misalnya lagi ketika ada yang menyentuh punggung
anda, maka muncul perasaan ketika disayang sambil diusap punggungnya oleh
orang tua. Nah “lampu merah” itu anchor untuk “berhenti”, kata “sayang” itu
anchor untuk perasaan disayang istri atau suami dan “sentuhan punggung” itu
anchor untuk perasaan disayang orang tua. Nah Anchor ini berbeda di masing-
masing orang, karena kan pikiran dan perasaannya berbeda.
Bagaimana membuat atau menanamnya? Caranya sederhana, yaitu
dengan memberikan perlakuan yang sama pada sebuah hal berulangkali. Misal
Saya memberikan perlakuan sama ketika anak saya menangis. Yaitu dengan
mengatakan “sini, peluk sama ayah” dan memeluknya. Sehingga kata peluk ini
akan menjadi anchor buat anak-anak saya. Anchor ini juga bisa terbentuk
secara tidak sengaja, misal setiap kali marah, ayah&bunda marah pada anak
sambil menunjuknya. Bisa jadi, ketika ada orang yang menunjuknya ia akan
mengakses pikiran atau perasaan dimarahi,karena ditunjuk menjadi anchor
untuk dimarahi. Anchor juga bisa ditanam ketika intensitas perasaannya
sedang tinggi, atau ketika dilekatkan dengan sebuah emosi yang dalam. Misal
ketika anak sedang sangat sedih ketika orang tuanya meninggal, kemudian ia
saat itu sedang menggunakan sebuah Topi. Topi itu bisa menjadi anchor dari
perasaan sedih tersebut. Sekarang sudah siap mempraktekannya kan? Anchor
apa yang akan ayah&bunda tanam di ananda? Oh iya…Sssst…anchor ini jg
bisa ditanam untuk mencapai kepuasan suami istri lho #uhuk :)
Untuk Senyum Anak Indonesia
@K_IDZma
HypnoStoryteller-Family hypnotherapist-coach-trainer
www.kidzsmile.info
dakwatuna.com – “Anak saya ini nakal sekali”, kata seorang ibu.
“Kamu itu memang anak nakal”, kata seorang bapak.
Kalimat itu sering kita dengarkan dalam kehidupan sehari-hari. Sangat
sering kita mendengar orang tua menyebut anaknya dengan istilah nakal,
padahal kadang maksudnya sekadar mengingatkan anak agar tidak nakal.
Namun apabila anak konsisten mendapatkan sebutan nakal, akan
berpengaruh pada dirinya.
Predikat-predikat buruk memang cenderung memiliki dampak yang buruk
pula. Nakal adalah predikat yang tak diinginkan oleh orang tua, bahkan oleh
si anak sendiri. Namun, seringkali lingkungan telah memberikan predikat itu
kepada si anak: kamu anak nakal, kamu anak kurang ajar, kamu anak susah
diatur, dan sebagainya. Akibatnya, si anak merasa divonis.
Hindari Sebutan Nakal
Jika tuduhan nakal itu diberikan berulang-ulang oleh banyak orang, akan
menjadikan anak yakin bahwa ia memang nakal. Bagaimanapun nakalnya si
anak, pada mulanya tuduhan itu tidak menyenangkan bagi dirinya. Apalagi,
jika sudah sampai menjadi bahan tertawaan, cemoohan, dan ejekan, akan
sangat menggores relung hatinya yang paling dalam. Hatinya luka. Ia akan
berusaha melawan tuduhan itu, namun justru dengan tindak kenakalannya
yang lebih lanjut.
Hendaknya orang tua menyadari bahwa mengingatkan kesalahan anak tidak
identik dengan memberikan predikat “nakal” kepadanya. Nakal itu —di
telinga siapa pun yang masih waras— senantiasa berkesan negatif. Siapa
tahu, anak menjadi nakal justru lantaran diberi predikat “nakal” oleh orang
tua atau lingkungannya!
Mengingatkan kesalahan anak hendaknya dengan bijak dan kasih sayang.
Bagaimanapun, mereka masih kecil. Sangat mungkin melakukan kesalahan
karena ketidaktahuan, atau karena sebab-sebab yang lain. Namun, apa pun
bentuk kenakalan anak, biasanya ada penyebab yang bisa dilacak sebagai
sebuah bahan evaluasi diri bagi para pendidik dan orang tua.
Banyak kisah tentang anak-anak kecil yang cacat atau meninggal di tangan
orang tuanya sendiri. Cara-cara kekerasan yang dipakai untuk
menanggulangi kenakalan anak seringkali tidak tepat. Watak anak
sebenarnya lemah dan bahkan lembut. Mereka tak suka pada kekerasan.
Jika disuruh memilih antara punya bapak yang galak atau yang penyabar
lagi penyayang, tentu mereka akan memilih tipe kedua. Artinya, hendaknya
orang tua berpikiran “tua” dalam mendidik anak-anaknya, agar tidak salah
dalam mengambil langkah.
Sekali lagi, jangan cepat memberi predikat negatif. Hal itu akan membawa
dampak psikologis yang traumatik bagi anak. Belum tentu anak yang sulit
diatur itu nakal, bisa jadi justru itulah tanda-tanda kecerdasan dan
kelebihannya dibandingkan anak lain. Hanya saja, orang tua biasanya tidak
sabar dengan kondisi ini.
Ungkapan bijak Dorothy Law Nolte dalam syair Children Learn What They
Live berikut bisa dijadikan sebagai bahan perenungan,
Bila anak sering dikritik, ia belajar mengumpat
Bila anak sering dikasari, ia belajar berkelahi
Bila anak sering diejek, ia belajar menjadi pemalu
Bila anak sering dipermalukan, ia belajar merasa bersalah
Bila anak sering dimaklumi, ia belajar menjadi sabar
Bila anak sering disemangati, ia belajar menghargai
Bila anak mendapatkan haknya, ia belajar bertindak adil
Bila anak merasa aman, ia belajar percaya
Bila anak mendapat pengakuan, ia belajar menyukai dirinya
Bila anak diterima dan diakrabi, ia akan menemukan cinta .
Cara Pandang Positif
Hendaknya orang tua selalu memiliki cara pandang positif terhadap anak.
Jika anak sulit diatur, maka ia berpikir bahwa anaknya kelebihan energi
potensial yang belum tersalurkan. Maka orang tua berusaha untuk
memberikan saluran bagi energi potensial anaknya yang melimpah ruah itu,
dengan berbagai kegiatan yang positif. Selama ini anaknya belum
mendapatkan alternatif kegiatan yang memadai untuk menyalurkan berbagai
potensinya.
Dengan cara pandang positif seperti itu, orang tua tidak akan emosional
dalam menghadapi ketidaktertiban anak. Orang tua akan cenderung
introspeksi dalam dirinya, bukan sekadar menyalahkan anak dan
memberikan klaim negatif seperti kata nakal. Orang tua akan lebih lembut
dalam berinteraksi dengan anak-anak, dan berusaha untuk mencari jalan
keluar terbaik. Bukan dengan kemarahan, bukan dengan kata-kata kasar,
bukan dengan pemberian predikat nakal.
“Kamu anak baik dan shalih. Tolong lebih mendengar pesan ibu ya Nak”,
ungkapan ini sangat indah dan positif.
“Bapak bangga punya anak kamu. Banyak potensi kamu miliki. Jangan
ulangi lagi perbuatanmu ini ya Nak”, ungkap seorang bapak ketika ketahuan
anaknya bolos sekolah.
Semoga kita mampu menjadi orang tua yang bijak dalam membimbing,
mendidik dan mengarahkan tumbuh kembang anak-anak kita. Hentikan
sebutan nakal untuk mendidik anak-anak.
Tentang Penulis:
Cahyadi Takariawan
Senior Editor di PT Era Intermedia, Pembina
di Harum Foundation, Direktur Jogja family
Center, Staf Ahli Lembaga Psikologi Terapan
Cahaya.
|
Check Page Rank of your Web site pages instantly: |
|
This page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service |