Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Translate This Blog

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Showing posts with label OBAT DEPRESI. Show all posts
Showing posts with label OBAT DEPRESI. Show all posts

MELODI SURGAWI (Kitaro In Action)

Written By Unknown on Tuesday, July 12, 2011 | 7/12/2011 02:13:00 PM

Kitaro - Caravansary


Kitaro - Matsuri


Kitaro - Orochi


Heaven & Earth - Kitaro


Kitaro - Special Sound Effects


Kitaro - Sacred Journey


RELAX (Oriental Music) - Japanese - Kitaro - Moondance


Kitaro - Spiritual Garden


Kitaro-New Age - Enya - Storms in Africa


Romance (Instrument) - Kitaro


Kitaro - Jiyu Eno Kakehashi



Jon Anderson & Vangelis & Kitaro - Lady of Dreams
7/12/2011 02:13:00 PM | 0 komentar | Read More

Mengintip Password Komputer Boss

Written By Unknown on Thursday, May 5, 2011 | 5/05/2011 11:29:00 PM

Seorang office boy (OB) suatu hari sedang membersihkan lantai di belakang kursi Direktur. Saat itu sang direktur sedang duduk di kursinya mengerjakan sesuatu yang kelihatan sangat penting di depan komputernya. Saking sibuknya sang direktur berkonsentrasi ke komputer, ia tidak menyadari si office boy mengintip dari pundaknya apa yang sedang ia kerjakan.

Beberapa menit kemudian, di ruang office boy, ia mengatakan kepada rekannya yang lain, bahwa ia tadi sempat mengintip sang boss mengetikkan password-nya! Ia melihat huruf demi huruf! Ia pun tegang karena mungkin merupakan satu-satunya yang tahu password orang nomor satu di perusahaan itu!
Kabar angin pun beredar beberapa hari kemudian, dan seorang staf IT yang ingin masuk lewat jaringan ke komputer sang boss untuk mengetahui rahasia perusahaan terutama rahasia boss, mendekati si office boy.

“Saya akan bayar berapa untuk password itu?” tanya si staf IT.
Sang office boy dengan gugup menjawab, “Dua ratus ribu!”
“Kemahalan! Seratus,” staf IT berargumen sambil langsung menyodorkan uang seratus ribu.
Oke si office boy pun setuju.

Setelah memberikan uangnya, si staf IT menyiapkan pensil untuk mencatat di secarik kertas. “Oke, apa passwordnya?”
“Bintang, bintang, bintang, bintang, bintang, bintang!” jawab sang office boy sambil berbisik. “Passwordnya ternyata hanya enam bintang!”

Sumber : http://salamsuper.com/
5/05/2011 11:29:00 PM | 0 komentar | Read More

Al-Aliim, Ilmu-Nya Meliputi Segala Sesuatu

Written By Unknown on Sunday, April 17, 2011 | 4/17/2011 10:23:00 PM

geos.ed.ac.uk
Bagi Allah, tidak ada yang tersembunyi. Serapat-rapat manusia menyimpan rahasia, Allah pasti mengetahuinya. Sekelebat mata yang berkhianat, Allah mengetahuinya. Niat hati yang tersimpan rapi, Allahpun mengenalinya. Al-Qur’an telah menjelaskan hal tersebut: “Dia mengetahui (pandangan) mata yang berkhianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (QS. Ghafir: 19)
Lebih jauh dari itu, rahasia di balik rahasiapun, diketahui-Nya. Sesuatu yang sudah mengendap lama atau yang telah terlupakan oleh manusia, serta segala yang kini telah berada di bawah sadarnya, Allah tetap mengetahuinya. Dia berfirman:
“Jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia (me­ngetahuinya serta) mengetahui ra­hasia dan yang lebih tersembunyi (dari rahasia).” (QS. Thaaha: 19)
Lalu, dapatkah kita bersembunyi dari pantauan-Nya? Dapatkah kita me­rahasiakan sesuatu di hadapan Allah? Dapatkah kita keluar dari monitoring-Nya?
Sungguh, Allah bahkan telah menge­tahui segala sesuatu sebelum terjadi, karena Dialah yang membuat rencana, Dia pula eksekutornya.
“Tiada satu bencanapun yang menim­pa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfudz) sebelum Kami menciptakan-Nya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadid: 22)
Tidak hanya itu, bahkan Allah-lah sumber dari segala sumber ilmu. Dia tidak saja sekadar tahu, tapi Dia adalah sumber pengetahuan. Perlu diketahui bahwa ilmu Allah itu bukan hasil dari sesuatu, tapi segala sesuatu yang ada dan terjadi di dunia (nomena dan fenomena) ini merupakan hasil dari ilmu-Nya. Allah berfirman: “Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya.” (Al-Baqarah: 255)
Meskipun demikian, Allah tidak mau memonopoli ilmu-Nya sendiri. Dia mau berbagi (sharing) kepada makhluk-Nya, terutama kepada manusia. Dia menstransformasi dan mengajari manusia melalui “qalam”, sebagaimana firman-Nya: “Yang mengajari manusia dengan media qalam, mengajar apa yang mereka tidak ketahui.” (QS. Al-Alaq: 4-5)
Khusus dalam hal ilmu ini, manusia dibebaskan menyandang gelar aliim bagi mereka yang telah sampai pada kualifikasi tertentu. Orang yang berpengetahuan boleh disebut aliim, sama dengan Asma yang disandang Allah. Akan tetapi harus disadari bahwa ilmu manusia tetaplah tak sebanding dengan ilmu Allah, bahkan tidak ada apa-apanya. “Tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS. Al-Israa: 85)
Untuk menggambarkan betapa sedikitnya ilmu manusia, Al-Qur’an menegaskan: “Katakanlah, sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (QS. Al-Kahfi: 109)
Sekalipun sedikit, asal tidak disom­bongkan, Allah senantiasa mengangkat derajat mereka yang berilmu. Bagi yang menuntut ilmu, Allah mengganjarnya dengan pahala yang besar. Sedang ba­gi mereka yang telah berilmu, Allah mengangkat derajatnya. Allah berfirman:
“...Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Mujadalah: 11)
Itulah sebabnya Rasulullah dipe­rintahkan agar senantiasa berdo’a agar diberi tambahan ilmu. “(Bermohonlah wahai Muhammad) Ya Tuhanku, tam­bahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (QS. Thaaha: 114)
Ilmu yang diharap oleh Rasulullah saw tentu saja ilmu yang menimbulkan dampak positif dalam kehidupan, yaitu ilmu yang melahirkan amal shalih yang sesuai dengan petunjuk Ilahi. Ilmu inilah yang akan menimbulkan kesadaran ten­tang jatidiri manusia yang merasa dhaif di hadapan Allah swt. Dalam pandangan islam, ilmu yang hakiki adalah ilmu yang mengantarkan pemiliknya kepada iman, dan ketundukan kepada Allah swt. Sebagaimana firman-Nya:
“Sesungguhnya orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan sebelumnya apabila al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud. Mereka berkata, Mahasuci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti terlaksana. Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (QS. Al-Israa: 107-109). (Hamim Thohari)
* Tulisan ini dimuat di Majalah Nebula (eks ESQ Magazine) edisi cetak No. 17/Tahun II/2006
4/17/2011 10:23:00 PM | 0 komentar | Read More

Al-Khaafidh, Yang Merendahkan

"Dia merendahkan siapa saja yang dikehendaki-Nya." (QS. Ali Imraan: 26)
http://wallpaper-s.org
Al-Khaafidh berasal dari kata kerja kha-fa-dha, yang berarti merendahkan. Dalam al-Qur’an tidak didapati satu ayat pun yang secara langsung menyebut nama Al-Khaafidh. Meskipun demikian, ditemukan turunan kata itu dalam beberapa ayat, misalnya dalam surat Al-Waqi’ah: 3 yang menggambarkan hari kiamat sebagai ”Khaafidhatur-Raafi’ah”, (pada hari itu Allah ”merendahkan dan meninggikan” derajat manusia). Ada manusia yang saat di dunia memiliki tempat dan kedudukan yang tinggi di depan manusia, tapi oleh Allah pada hari kiamat justru direndahkannya. Sebaliknya, ada yang dalam kehidupan dunianya direndahkan oleh manusia, sementara Allah pada hari itu justru meninggikan derajatnya.
Suatu hari Rasulullah ditanya tentang arti firman ”Setiap saat Dia (Allah) dalam kesibukan” (QS. Ar-Rahman: 29), beliau menjawab: ”Termasuk kesibukan-Nya adalah mengampuni dosa, menghilangkan keresahan, meninggikan kelompok-kelompok manusia, dan merendahkan yang lain”. (HR. Ibnu Majah)
Dari hadits di atas, kita bisa menangkap makna bahwa Allah swt tidak pernah berhenti beraktifitas. Dia senantiasa sibuk, selain menjaga rotasi alam, juga mengatur kehidupan makhluk istimewa-Nya yang bernama manusia. Dia memberi ampunan pada siapa saja yang bertaubat kepada-Nya, menghilangkan kegelisahan orang-orang yang stres, meninggikan orang yang berprestasi, dan merendahkan manusia dengan berbagai sanksi sosial, moral, dan hukum.
Al-Qur’anul Karim telah menjelaskan kepada manusia tentang hukum-hukum yang berkaitan dengan kejatuhan, kebangkitan, dan ketinggian.
Berikut ini adalah salah satu ayat yang menjelaskan tentang hukum tersebut:
”Sungguh telah Kami ciptakan manusia dalam kesempurnaan ciptaan, kemudian Kami kembalikan ia ke tempat yang serendah-rendahnya”. (QS. At-Tiin: 5)
Al-Qur’an sangat cermat memilih kata, dipilihnya kata ”Kami” untuk menggambarkan keterlibatan manusia dalam ketinggian dan kerendahan derajatnya. Jika manusia mengoptimalkan fungsi ruh Ilahi –yang dalam al-Qur’an digunakan istilah ”Min Ruuhiy”— untuk mengangkat derajatnya ke tingkat ”ahsanu taqwiim, maka tinggilah derajat kemanusiaannya. Sebaliknya, jika manusia melepaskan diri dari daya tarik ruhnya dan mengikuti daya tarik bumi (gravitasi) sebagaimana makhluk binatang yang hidupnya hanya diperuntukkan bagi pemenuhan makan, minum, dan hubungan seksual semata, maka ia akan meluncur jatuh ke tingkat yang serendah-rendahnya.
Al-Qurthubi dalam al-Asmaul Husna meng­ingatkan: ”Ketahuilah bahwa yang direndahkan Allah adalah manusia yang terhindar dari taufiq dan pertolongan-Nya, yang diperintah oleh nafsunya, yang tidak memperoleh kebajikan dari Tuhannya. Apabila berusaha kembali kepada-Nya, ia tidak mendapatkan bisikan hati tentang kekuasaan-Nya. Apabila berusaha mendengar bisikan-bisikan hatinya, ia tidak meraih percaya diri atau kelezatan dalam bermunajat dengan-Nya”.
Untuk menjaga keseimbangan dan harmoni kehidupan manusia di muka bumi, Allah swt menerapkan hukum ”reward and punishment”. Hadiah diberikan kepada mereka yang berprestasi, sedang hukuman diberikan kepada mereka yang melanggar aturan. Bisa jadi reward and punishment itu tidak diberikan semasa hidup di dunia ini, tapi yang pasti di akhirat nanti semua orang akan mendapat hadiah dan sanksi. Orang-orang yang beriman dan beramal shalih akan diangkat derajatnya dengan mendapat kedudukan yang tinggi (surga), sedangkan mereka yang kafir, musyrik, dan munafiq akan diberi sanksi dengan hukuman neraka jahim. Allah menghinakan siapa saja yang layak mendapatkan kehinaan akibat perbuatannya. (Hamim Thohari)
Tulisan ini telah dimuat di Majalah Nebula (ESQ Magazine) No. 21/Tahun II/2006
4/17/2011 10:23:00 PM | 0 komentar | Read More

Al-Qaabidh, Yang Maha Menyempitkan

"Dia menciptakan segalanya dan menentukan ukuran yang tepat." (QS. Al-Furqaan: 2)
sulekha.com
Ilustrasi
Sebagian besar Ulama Islam menganggap kurang etis menyebut Asma Allah Al-Qaabidh tanpa menyertakan Al-Baasith. Menurut mereka, kesempurnaan Allah terletak pada kekuasaan-Nya untuk menahan dan melepas, menyempitkan sekaligus melapangkan. Mereka sangat khawatir jika Al-Qaabidh tidak disandingkan dengan Al-Baasith akan timbul kesan negatif pada citra Allah. Akan tetapi sebagian Ulama lain menyebutkan bahwa boleh-boleh saja menyebut Al-Qaabidh tanpa menyertakan Al-Baasith asal tidak disalah artikan.
Siapa yang bisa menyalahkan Allah ketika menyempitkan rizki seseorang? Siapa yang bisa menegatifkan citra Allah ketika memendekkan umur hamba-Nya? Di balik semua kebijakan-Nya terdapat hikmah yang Dia sendiri mengetahui-Nya, sedangkan manusia baru bisa mengambil hikmahnya setelah peristiwanya berlalu.
Al-Qaabidh diambil dari akar kata yang makna awalnya adalah “sesuatu yang diambil” atau “keterhimpunan pada sesuatu”. Makna dasar ini kemudian berkembang sehingga melahirkan makna baru, seperti: menahan, menggenggam, menghalangi, dan menyempitkan. Istilah Al-Qaabidh sendiri tidak dijumpai dalam al-Qur’an sebagai sifat dan asma Allah, kecuali hanya dijumpai dalam bentuk kata kerja yang pelakunya adalah Allah swt, sebagaimana ayat berikut:
“Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah: 245)
Sekalipun kata Al-Qaabidh tidak di­jumpai dalam Al-Qur’an, tapi kita bisa menemukannya dalam berbagai riwayat hadits, di antaranya menjelaskan tentang kekuasaan Allah menahan nya­wa hamba-hamba-Nya yang dike­hendaki. “Sesungguhnya Allah menahan nyawa (jiwa) kamu bila Dia menghendaki dan mengembalikannya jika Dia menghendaki”.
Dari uraian di atas, setidaknya kita bisa menyimpulkan untuk sementara bahwa Al-Qaabidh mengandung dua pengertian, yaitu menyempitkan rezeki dan memendekkan umur. Di tangan-Nya segala urusan rizki, dan di dalam genggaman-Nya pula soal nyawa makhluk-Nya. Ketika Dia menahan rizki milik-Nya atas seseorang, hendaklah ia tidak protes, sebab rizki itu milik-Nya dan hak-Nya Dia semata untuk membagikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Untuk itu, sikap yang baik adalah menerima dan meyakini akan kasih sayang-Nya. Keyakinan itu hendaknya diwujudkan dalam bentuk do’a dan ikhtiyar. Terus berusaha keras dan cerdas untuk memperolehnya, seraya tidak lupa memanjatkan do’a.
Bagi kita, mengenali sifat dan asma Allah Al-Qaabidh ini akan mendorong kita untuk berhati-hati menjalani hidup. Kita tidak akan main-main ketika diserahi titipan jabatan sebagai eksekutif, pengusaha, ulama, hakim, politisi, atau jabatan apapun, sebab bila Allah melihat sesuatu yang tidak beres atas perilaku hamba-hamba-Nya, maka Dia segera mengambil tindakan dengan dua tujuan, yaitu peringatan atau hukuman.
Ketika kita lalai menjalankan tugas atau menyelewengkan amanah karena khilaf, maka untuk memperbaikinya atau untuk mengembalikan kita pada “orbit” yang benar, Allah mengambil tindakan dengan menyempitkan gerak langkah kita melalui berbagai cara. Mulai dari menyempitkan rizki, memberikan rasa sakit, membatasi akses dan kesempatan, sampai pada menjadikan kita sesak dada dengan adanya berbagai tekanan dan himpitan permasalahan. Seorang yang arif ketika menghadapi situasi seperti ini segera menyadari bahwa itu semua adalah teguran Allah, kemudian meresponnya dengan kembali pada jalan yang benar sesuai kehendak-Nya.
Untuk itu kita diajarkan bermunajat kepada-Nya agar diberi hikmah kearifan, rabbi habli hukman (Tuhan, berilah aku hikmah kearifan) (QS. Asy-Syu’araa: 83). Dengan hikmah kearifan itu kita bisa menangkap berbagai bentuk “sinyal” peringatan Allah yang didatangkan kepada kita.
Adapun bagi mereka yang keras kepala atau hatinya telah mati, berbagai peringatan Allah tidak direspon secara positif. Mereka tetap berada di jalan yang sesat, sekalipun peringatan itu datangnya bertubi-tubi. Terhadap mereka ini sudah sepantasnya diberi hukuman.
Hikmah lain dari kesadaran kita terhadap Asma Allah Al-Qaabidh adalah penerimaan kita terhadap segala putusan Allah. Orang-orang yang arif akan memandang bahwa segala sesuatu yang telah diputuskan Allah pasti terbaik. Hal ini mengharuskan kita untuk “ridha”, menerima segala ketetapan Allah dengan lapang dada, baik yang menyenangkan maupun yang tidak. Keridhaan itu merupakan manifestasi dari keyakinan kita kepada taqdir Ilahi. Dengan keridhaan itu, insya-Allah kita akan merasakan sekaligus menikmati lezatnya iman. Wallahu a’lam bish-shawab. (Hamim Thohari)
* Tulisan ini telah dimuat di Majalah Nebula (ESQ Magazine) edisi cetak No. 18/Tahun II/2006
4/17/2011 10:19:00 PM | 0 komentar | Read More

Al-Baasith, Yang Maha Melapangkan

"Allah melapangkan rizki bagi siapa saja yang dikehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan Dia pula yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. Al-Ankabuut: 62)

Al-Baasith adalah nama Allah yang menyertai bahkan tak terpisahkan dengan nama sebelumnya, yaitu Al-Qaabidh. Jika Al-Qaabidh bermakna menyempitkan, maka Al-Baasith berarti sebaliknya, Maha Melapangkan. Kata al-Baasith sendiri berasal dari ba-sa-tha yang berarti keterhamparan, kemudian dikembangkan menjadi “memperluas” atau ”melapangkan”.
Adalah hak absolut Allah untuk melapangkan atau menyempitkan rizki hamba-hamba-Nya, sebagaimana pula hak absolutNya memperpanjang dan memperpendek umur mereka. Sebagian orang dimudahkan mendapat rizki sehingga harta kekayaannya melimpah, sebagian yang lain disempitkan rizkinya sehingga hidupnya pas-pasan atau malah kekurangan. Dialah yang mengetahui rahasia di balik pembagian rizki yang tidak merata.
Sebagian dari rahasia itu dibuka oleh Allah dalam firman-Nya: ”Dan jika Allah melapangkan rizki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuura: 27)
Ayat di atas mengandung pesan yang tegas, bahwa terhadap distribusi rizki yang tidak merata itu jangan disikapi dengan suudzan, berburuk sangka seolah-olah Allah tidak adil kepada hamba-hamba-Nya. Pesan itu menjadi semakin terang setelah Allah menutup ayat di atas dengan menyatakan bahwa Dia Maha Mengetahui dan Maha Melihat.
Sikap negatif lain yang harus dihindari adalah iri hati atau hasad. Sudah merupakan sunnah-Nya bahwa ada sebagian diberi kelebihan rizki dibandingkan yang lain. Allah berfirman:
”Dan jangalah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain.” (QS. An-Nisaa: 32)
Kita hendaknya lapang dada menerima perbedaan tersebut, sembari terus berusaha keras dan cerdas untuk mengais rizki-Nya. Hari ini mungkin  Allah menyempitkan, tapi siapa tahu justru besok Allah akan melapangkan. Semua itu adalah rahasia-Nya. Bagi kita, yang penting adalah ikhtiar dan berdo’a.
”Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya, dan makanlah dari sebagian rizki-Nya.” (QS. Al-Mulk: 15)
Bagi mereka yang dilapangkan rizkinya, hendaknya senantiasa menyadari bahwa rizki itu amanah dan titipan Allah. Kekayaan, jabatan, popularitas, dan kedudukan yang tinggi jangan menjadikan lupa diri, sombong, dan takabbur. Jangan seperti orang yang disebut dalam ayat di bawah ini:
”Jika kami memberi kesenangan kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri, dan bila ia ditimpa kemalangan, ia berdo’a berpanjang-panjang.” (QS. Fushshilat: 51)
”Bila Kami rasakan kepadanya suatu rahmat dari Kami sendiri, setelah ada kemalangan menimpanya, pasti ia berkata: Ini karena usahaku sendiri, dan aku tak yakin akan terjadi hari kiamat.” (QS. Fushshilat 50)
Kaum Muslimin yang menyadari dan berusaha mencontoh nama dan sifat-Nya Al-Baasith, akan berusaha sekuat tenaga untuk memberi kelapangan kepada siapa saja yang membutuhkannya. Kekayaan yang diberikan Allah tidak digunakan untuk kesenangan dirinya sendiri, tetapi didistribusikan kepada masyarakat sekitarnya, terutama terhadap fakir miskin dan para mustadh’afiin. Mereka sadar bahwa di dalam hartanya ada hak mereka yang harus dikeluarkan.
Akhirnya, marilah kita menyikapi kelapangan rizki itu sebagaimana sikap Nabi Sulaiman yang senantiasa berdo’a:
”Tuhanku! Berilah aku kesempatan untuk berterimakasih atas nikmat-Mu yang Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku, dan supaya aku dapat mengerjakan perbuatan yang baik yang Engkau ridhai, dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam hamba-hamba-Mu yang shaleh”. (QS. An-Naml: 19)

Penulis: Hamim Thohari
Tulisan ini telah dimuat di Majalah Nebula (ESQ Magazine) No. 20/Tahun II/2006
4/17/2011 10:16:00 PM | 0 komentar | Read More

Al-Fattah, Yang Membuka Segala Kemenangan

"Sungguh Kami telah memberi kemenangan kepadamu dengan kemenangan yang nyata." (QS. Al-Fath: 1)

Kata Al-Fattah yang menjadi sifat sekaligus Asma-Nya dapat dijumpai dalam al-Qur’an surat Saba (34) ayat 26. Sementara sifat Allah sebagai "Khairul-Faatihiin“ (sebaik-baik pemberi putusan) bisa didapati dalam al-Qur’an surat Al-A’raaf (7) ayat 89.
Al-Fattah diambil dari akar kata fa-ta-ha, yang berarti membuka. Mak­na dasar itu kemudian berkembang men­jadi kemenangan, karena dalam ke­menangan itu tersirat adanya se­sua­tu yang harus diperjuangkan meng­hadapi halangan, rintangan, dan segala sesuatu yang tertutup. Di balik se­tiap kemenangan adalah perjuangan menghadapi penjajahan, penindasan, dan pengungkungan. Kemenangan itu sendiri adalah pembebasan.
Al-Fatttah, juga digunakan untuk memberi arti "irfan“ (pengetahuan) ka­rena di dalamnya terdapat usaha mem­buka tabir kegelapan. Orang yang belum berpengetahuan berarti orang yang diliputi oleh kegelapan, sedangkan orang yang berilmu adalah mereka yang melepaskan belenggu kegelapan (minadz-dzulumaat) menuju cahaya terang benderang (ilan-nuur).
Adalah Allah swt yang memiliki sifat dan nama Al-Fattaah yang sebenar-benarnya, sebab Dialah yang membuka segala hal yang tertutup menyangkut per­olehan yang diharapkan oleh se­tiap hamba-Nya. Hati manusia yang tertutup dibuka oleh-Nya melalui pintu hidayah sehingga terisi kebenaran dan jalinan cinta. Pikiran manusia yang ter­tutup dibuka oleh-Nya melalui ilmu pengetahuan sehingga semua kesulitan dapat ditemukan jawabannya, dan semua problem dapat ditemukan solusinya. Pintu rezeki hamba yang tertutup dibuka oleh-Nya melalui kegiatan ekonomi se­hingga mereka menjadi kaya dan ber­kecukupan. Allah, Al-Fattah yang membuka segala kekurangan menjadi cukup, bahkan berlebih.
Al-Fattah telah memberi kemenangan yang nyata kepada Rasulullah dan kaum muslimin ketika berhasil merebut kembali kota Makkah, sebagaimana di­jelaskan dalam al-Qur’an surat al-Fath (48) ayat 1. Kemenangan itu kemudian di­sempurnakan dengan berbondong-bon­dongnya manusia memasuki ajar­an Islam, sebagaimana firman-Nya: “Apa­bila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat menusia memasuki agama Allah secara berbondong-bondong.” (QS. An-Nashr: 1-2)
Allah tidak hanya memberi keme­nangan kepada Rasululah dan para sa­habatnya, juga kepada setiap hamba-Nya, termasuk kita. Bukankah kita se­ring diperhadapkan masalah yang awalnya musykil, kemudian tiba-tiba ki­ta memperoleh secercah cahaya pe­tunjuk-Nya sehingga benang kusut yang ki­ta hadapi terurai dengan sangat mudahnya?
Bukankah kita juga sering mengha­dapi kesulitan ekonomi, kemudian ti­ba-tiba langkah kita terbimbing untuk melakukan langkah-langkah bisnis yang kemudian memberikan keuntungan yang sebelumnya terasa musykil? Dialah Al-Fattah, yang telah membuka pintu rezeki kita. Dia, Al-Fattah terus bekerja memberi pertolongan kepada kita, membuka jalan agar kita sukses dan memperoleh kemenangan dalam menempuh kehi­dupan di dunia dan selamat hingga di akherat dengan memperoleh surga-Nya. Dialah, Al-Fattaah yang membuka pintu surga-Nya lebar-lebar untuk kita yang menaati-Nya.
Sekarang, bagaimana memvisuali­sasikan Al-Fattaah dalam kehidupan se­hari-hari? Bagaimana meneladani akhlaq Allah, Al-Fattah dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan dalam kehidupan sosial?
Sebagai individu kita harus senantiasa membuka hati dan pikiran kita untuk menerima kebenaran. Kita tidak boleh sombong, sebab Ilmu Allah hanya ter­curah kepada mereka yang tidak me­nyombongkan diri. Allah berfirman:
“Aku akan memalingkan dari ayat-ayat-Ku orang-orang yang takabbur di muka bumi tanpa alasan yang benar.” (QS. Al-A’raaf: 146)
Orang yang meneladani sifat Al-Fattah akan senantiasa terbuka untuk menerima pendapat orang lain. Mereka tidak merasa benar sendiri dan tidak mau menang sendiri. Mereka yakin bahwa kebenaran yang hakiki hanya dari Allah, sedangkan kebenaran yang lain bersifat relatif. Karenanya mereka tidak memutlakkan pendapatnya sendiri.
Orang yang menginternalisasikan Al-Fattaah dalam dirinya akan senantiasa termotivasi menghadapi hidup. Mereka tidak mudah patah arang atau frustrasi hanya karena suatu kegagalan. Yang mereka takutkan dalam kehidupan ini hanya satu, yaitu bila Allah menutup pintu-Nya, Dia tak lagi peduli kepadanya, dan membiarkannya terombang-ambing dalam kesesatan.
Sebagai pemimpin, sifat Al-Fattaah itu termanifestasikan dalam kemampuannya untuk menyadarkan kegelapan pikiran orang-orang yang dipimpinnya. Dalam Al-Fattaah tersirat bahwa seorang pemimpin harus memiliki kemampuan lebih, baik ilmu maupun kharisma. Pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang tidak hanya memiliki kecerdasan intektual, tapi juga kecerdasan emosional dan spiritual. Dengan ketiga kecerdasan itu, bawahan yang paling bandel sekalipun dapat “ditaklukkan”. (Hamim Thohari)
* Tulisan ini dimuat di Majalah Nebula (eks ESQ Magazine) edisi cetak No. 16/Tahun II/2006
4/17/2011 10:16:00 PM | 0 komentar | Read More

Ar-Razzaq, Rizki-Mu tak Habis Dibagi

Aku tidak menghendaki sedikitpun rizki dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rizki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. (QS. Adz-Dzariyaat: 57-58)

Kata Ar-Razzaq hanya bisa kita temukan dalam al-Qur’an sekali saja, sebagaimana yang disebut di awal tulisan ini. Te­tapi yang menggunakan akar kata yang sama, ra-za-qa dapat kita jumpai di ba­nyak surat dan ayat al-Qur’an.
Pada awalnya rezeki itu bermakna tunggal, yaitu pemberian untuk jangka waktu tertentu. Makna ini sekaligus mem­bedakan antara rezeki dengan hibah, atau antara makna Ar-Razzaq dengan Al-Wahhab. Dalam perkembangannya makna rezeki itu meluas dan melebar, kadang bermakna pangan, pemenuhan kebutuhan, gaji, juga hujan yang turun dari langit, bahkan anugerah kenabian pun disebut sebagai rezeki, sebagaimana perkataan Nabi Syuaib kepada kaumnya:
“Wahai kaumku, bagaimana penda­patmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan Dia menganugerahi aku dari-Nya rizki yang baik (yakni kenabian)?” (QS. Huud: 88)
Dengan demikian, maka rizki itu bisa meliputi segala pemberian yang dapat dimanfaatkan, baik bersifat material maupun spiritual. Rizki itu tidak hanya bersifat kebendaan, tapi juga bisa berupa kebahagiaan, sembuh dari sakit, kesempatan beribadah dengan baik, hidayah, dan banyak lagi lainnya. Sungguh tak terhingga rizki yang telah diberikan kepada kita.
Setiap makhluk hidup telah dijamin rizkinya oleh Allah, apalagi manusia. Tak seorangpun dibiarkan hidup tanpa jaminan rizki, sebagaimana firman-Nya:
“Dan tidak satu binatang melata yang bergerak di muka bumi, kecuali Allah telah menjamin rizkinya.” (QS. Huud: 6)
Karenanya, tidak ada alasan bagi manusia untuk mencari rizki yang haram, sebab rizki yang halal sudah disedikan buat mereka. Hanya saja mereka kurang bersabar atau mereka kurang puas (tidak qanaah). Andai saja mereka sedikit ber­sabar atau memiliki sifat qana’ah, tentulah mereka akan mendapatkan rizki yang baik dan halal.
Tentu saja rizki itu tidak datang be­gitu saja, melainkan harus diusahakan dengan sungguh-sungguh sesuai dengan “sunnatullah”. Bukankah semua manu­sia terikat oleh hukum-hukum yang meng­atur makhluk dan kehidupannya? Sesungguhnya rasa lapar dan hausnya, hingga insting untuk mempertahankan dirinya merupakan jaminan rizki dari Allah. Tanpa rasa lapar, tanpa insting mempertahankan diri, manusia tak terdorong untuk mencari makan (bekerja).
Bersamaan dengan itu, Allah SWT menghamparkan bumi yang di dalam dan di atasnya terdapat rizki yang berlimpah ruah. Segala yang dibutuhkan manusia terdapat di sini, berapapun besarnya jumlah penduduk bumi. Kalaulah teori Malthus itu benar, tentu sekarang ini terjadi kelangkaan bahan pangan dan sebagian besar manusia tidak bisa memenuhi kebutuhan pangannya. Ternyata, sebagian besar manusia hidup lebih makmur.
Jarak antara manusia dengan rizkinya lebih jauh dibandingkan dengan binatang, apalagi tumbuh-tumbuhan. Allah menyiapkan rizki pada tetumbuh­an di tempat tumbuhnya, sedang bagi binatang disediakan dalam jumlah yang banyak, hanya saja harus ada usaha untuk mendapatkannya. Bedanya dengan manusia, jika binatang cukup dengan mengandalkan instingnya, sedang manusia harus berusaha dengan menggunakan akal, ilmu, dan sedikit teknologi.
Allah telah menyiapkan sarana yang cukup, sedang manusia diperintahkan untuk mengolahnya. Pengelolaan itulah yang menjadi nilai tambah. Itulah rizki, sebab Allah mendatangkan rizki-Nya me­la­lui keterlibatan tangan-tangan makhluk-Nya. Itulah sebabnya, Al-Qur’an memilih kata “Nahnu” atau “Kami” ketika berbicara tentang pemberian rizki, seba­gaimana firman-Nya:
“Kami memberi rizki kepadamu dan kepada mereka anak keturunanmu.” (QS. Al-An’Am: 151)
Jaminan rizki itu juga diberikan ke­pada “Daabat” yang berarti makhluk melata yang bergerak. Kata bergerak itu menjadi sangat penting, sebab jangan berharap mendapatkan rizki dari-Nya sementara kita tinggal diam, menunggu, pasif, malas bekerja, atau bekerja tanpa ilmu, tanpa akal, dan tanpa tehnologi. Untuk mendapatkan zamzam, Siti Hajar harus lari-lari dari bukit Shafa dan Marwa. Itulah pelajaran sya’i yang kita dapatkan dari ibadah haji.
Bagaimana cara meneladani sifat Allah Ar-Razzaq? Sangat mudah, kita hanya dituntut untuk membagikan (sharing) dari sebagian rizki yang telah dianugerahkan oleh-Nya untuk para fakir miskin dan orang-orang yang lebih membutuhkan.
“Dan nafkahkanlah sebagian dari apa yang Kami rizkikan kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 54)
Ketika perintah ini kita laksanakan, ketika kita membagikan sedikit rizki Allah kepada mereka yang berhak menerimanya, maka saat itu sesungguhnya kita sedang meneladani akhlak Allah, Ar-Razzaq. Mudah-mudahan kita bisa menjalankannya. (Hamim Thohari)
* Tulisan ini dimuat di Majalah Nebula (eks ESQ Magazine) edisi cetak No. 15/Tahun II/2006
4/17/2011 10:15:00 PM | 19 komentar | Read More

Al-Wahhab, Memberi tanpa Diminta

Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau sesatkan hati kami sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami dan anugerahilah kami rahmat dari sisi-Mu, karena sesungguhnya Engkaulah al-Wahhab, Maha Pemberi. (QS. Ali Imraan: 8)

Al-Qur’an menyebut al-Wahhab di tiga tempat, semua menunjuk kepada sifat Allah. Dari tiga ayat itu, hanya satu yang dirangkai dengan nama Allah yang lain, yaitu Al-Aziz (Maha Perkasa) sebagaimana yang terdapat dalam surat Shaad ayat 9, sedangkan dua lainnya berdiri sendiri.
Al-Wahhab merupakan Asma Allah yang berarti Maha Memberi. Dia memberikan rahmat kepada makhlukNya tanpa pamrih, karena Dia tak membutuhkan apapun kepada makhlukNya.
Keagungan dan kebesaranNya tak berkurang se­di­kitpun juga jika sekiranya semua manusia ingkar kepadaNya. Demikian juga sebaliknya, kewibawaan dan kemuliaanNya tak bertambah sedikitpun juga jika sekirinya semua manusia tunduk patuh kepadaNya. Dia tak membutuhkan ucap­an terima kasih, tak juga tepuk tangan atas semua kebaikanNya.
Tak sekadar bebas dari pamrih, Dia juga senantiasa memenuhi kebutuhan makhlukNya tanpa diminta. Dia memberikan udara segar setiap hari walaupun kebanyakan manusia tidak memintanya. Dia juga menurunkan hu­­jan, walaupun manusia tidak berdoa untuknya. Sinar matahari dicurahkan setiap hari, walaupun banyak manusia tidak menyadarinya. Siapakah yang me­nyediakan air, udara, dan energi? Tan­pa diminta, Allah telah menyiapkannya.
Hanya Dia yang pantas menyandang nama Al-Wahhab, sebab semua manusia senantiasa mengharapkan im­balan ketika bekerja, apalagi ketika mem­beri sesuatu kepada sesamanya. Ada tujuan yang ingin diraih di balik kerja kerasnya, baik yang bersifat materi maupun yang berbentuk spiritual, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi.
Itulah sebabnya, ketika al-Ghazali men­jelaskan tentang Al-Wahhab, ia ber­komentar bahwa hanya Allah saja yang patut menyandang sifat itu. Ia berkata, pada hakekatnya tidak ada pemberian tanpa tujuan dan harapan, kecuali Allah swt. Setiap manusia pasti berpengharapan atas semua perbuatannya, baik dalam bentuk pujian, meraih persahabatan, men­dapatkan kehormatan, atau paling tidak menghindari celaan.
Seseorang ‘abid yang senantiasa me­lazimkan ibadah juga tak lepas dari pamrih untuk mendapatkan surga atau terhindar dari neraka. Bahkan seorang alim yang beribadah demi meraih cinta dan syukur kepadaNya belum sepenuhnya terhindar dari tujuan-tujuan atau harapan meraih imbalan. Itulah sebabnya, Allah tetap memberi toleransi kepada ma­nusia sepanjang mereka tetap dalam koridor ibadah yang ikhlas semata karena Allah SWT. Dia membolehkan manusia beribadah karena mengharapkan surgaNya atau terhindar dari nerakaNya, ka­rena memang hanya sampai di situ batas kemampuan manusia.
Hanya Allah saja yang bisa memberi tanpa pamrih, sebab hanya Dia yang tidak membutuhkan apapun dari makhlukNya. Karenanya, hanya Dialah yang pantas me­nyandang nama Al-Wahhab, Maha Pemberi tanpa mengharap Puji, Maha Pem­beri tanpa pamrih, Maha Pemberi tanpa menagih.
Walaupun demikian, kita bisa mene­ladani sifat mulia itu sebatas kemampuan kita sebagai makhlukNya. Dalam hal ini kita bisa meminimalkan harapan atau pam­rih kita, paling tidak, ketika kita mem­berikan sesuatu, janganlah kita ber­harap mendapatkan imbalan yang ber­lebihan, yang demikian itu disebut riba, sebagaimana firmanNya:
“Apa yang kamu berikan dari riba supaya bertambah banyak harta manusia, maka tidaklah bertambah banyak di sisi Allah”. (QS. Ar-Ruum: 39).
Itulah sebabnya, sejak awal, ketika Rasulullah menerima wahyu yang ketiga, Allah sudah mengingatkan: “Jangan memberi dengan mengharap imbalan yang lebih banyak”. (QS. Al-Muddatstsir: 6)
Dalam prakteknya, kita boleh saja me­nanti ucapan terimakasih dari orang yang kita beri, tapi mengabaikannya jauh lebih mulia dan derajatnya lebih tinggi, sebagaimana firman Allah: “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih”. (QS. Al-Insaan: 9)
Nilai-nilai yang tercermin dari Al-Wahhab itu sangat penting diterapkan oleh para pemimpin. Setiap pemimpin haruslah memiliki sifat pemurah, suka memberi kepada bawahannya. Seorang pemimpin yang pelit pasti tidak disukai anak buahnya. Sebaliknya, pemimpin yang murah hati dan suka memberi pas­ti mendapatkan simpati, disukai, dan di­cintai rakyatnya.
Lebih dari itu, pemimpin yang baik tidak akan memberikan sesuatu kecuali mengharapkan kebaikan dari pemberiannya. Ia tidak memberi asal memberi. Setiap pemberiannya bernilai motivasi, lebih memilih memberikan kail daripada umpannya.
Adalah nilai lebih jika para pemimpin memberi tanpa pamrih. Tepuk tangan, ucapan terimakasih, sambutan meriah akan datang dengan sendirinya, tanpa diminta atau dinanti.

(Hamim Thohari)
* Tulisan ini dimuat di Majalah Nebula (eks ESQ Magazine) edisi cetak No. 14/Tahun II/2006
4/17/2011 10:14:00 PM | 0 komentar | Read More

Al Qahhar, Sang Penakluk

Oleh: Hamim Thohari

Al-Qahhar adalah satu di antara 99 nama indah-Nya Allah, yang berarti menjinakkan atau menundukkan. Segala makhluk-Nya dijinakkan dan ditundukkan di bawah kekuasaan-Nya. Tiada satupun makhluk yang menentang-Nya kecuali mereka akan dikalahkan dan dihinakan, sekaligus.
"Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. Dan Dialah yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-An’am: 18)
Dalam al-Qur’an, al-Qahhar disebut enam kali dan kesemuanya dirangkai setelah penyebutan kata al-Wahid, yang juga merupakan Asma Allah. Penyebutan nama dan sifat al-Wahid di depannya memberi arti kuat bahwa hanya Dia satu-satunya yang memiliki sifat Al-Qahhar. Orang yang mengaku dirinya Qahhar (penakluk) akan dikalahkan dan dihinakan-Nya. Fir’aun, dalam al-Qur’an dikisahkan pernah mengganggap dirinya sebagai “Qaahiruun” (penakluk) ketika dia memerintahkan untuk membunuh semua bayi lelaki.
“Fir’aun berkata: Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup anak-anak perempuan mereka dan sesungguhnya kita berkuasa penuh atas mereka.” (QS. Al-A’raf: 127)
Allah membungkam Fir’aun dan orang-orang kafir lainnya dengan menunjukkan tanda-tanda kebesaran-Nya, menekuk lutut para pembangkang dengan kekuasaan-Nya, menjinakkan hati para pecinta-Nya sehingga mereka bersuka cita menanti di depan pintu rahmat-Nya. Dia pula yang menundukkan panas dan dingin, mengalahkan besi dengan api, memadamkan api dengan air, menghilangkan gelap dengan terang, dan melenyapkan terang dengan kegelapan.
“Katakanlah: Jelaskan kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang bisa mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?
Katakanlah: Jelaskan kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang bisa mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Al-Qashash: 71 dan 72)
Sungguh, Allah telah mengalahkan semua makhluq-Nya, termasuk manusia. Dialah yang menjadikan manusia menjerit ketika lapar, menjadikannya lemah dan tak berdaya ketika kantuk dan tidur. Dia pula yang memberi manusia sesuatu yang tidak diinginkan dan menghalangi yang didambakan. Tak seorangpun yang bisa menolak ketika diberi celaka atau sakit. Sebaliknya, tak seorangpun yang bisa mendapatkan sesuatu yang dihalangi Allah.
Kepada manusia yang biasa menyombongkan ilmu dan teknologinya, Allah menantang, apakah mereka bisa menahan sebentar saja peredaran matahari? Apakah mereka juga bisa memperpanjang malam walau sedetik saja? Orang yang beriman segera akan menyadari dan berkata: “Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya.” (QS. Az-Zukhruf: 12 dan 13)
Sekalipun Al-Qahhar merupakan nama dan sifat Allah yang tak patut seorangpun mengaku sebagai penakluk, tapi hal itu tidak menghalangi orang beriman untuk meneladaninya. Imam Al-Ghazali mempersyaratkan bagi mereka yang ingin meneladani sifat Al-Qahhar dengan terlebih dahulu menyadari bahwa tujuan penciptaannya adalah untuk menjadi hamba sekaligus khalifah di muka bumi. Banyak halangan dan rintangan yang menjadi sebab tak terpenuhinya tujuan penciptaan tersebut, salah satunya adalah hawa nafsu. Untuk itu kita harus “Qaahiruun”, menjadi penakluk dan penjinak hawa nafsu kita sendiri.
Dalam hal penaklukan dan penjinakan nafsu, kita harus meneladani cara dan pendekatan Allah dalam menundukkan dan menjinakkan makhluq-Nya. Ketika Allah menaklukkan manusia, Dia tidak mencabut kebebasannya, apalagi mematikannya kecuali pada saat yang telah ditetapkan-Nya. Untuk itu, nafsu tidak boleh dimatikan. Nafsu hanya boleh diarahkan dan dikendalikan.
Islam mengakui perlunya memenuhi tuntutan nafsu selama tidak mengantarkan manusia menyimpang dari tujuan penciptaannya. Bagaimana mungkin manusia dicegah untuk memenuhi syahwat perutnya, sementara jasmani yang sehat dan kuat sangat dibutuhkan untuk memikul tugas-tugas di jalan Allah? Bagaimana mungkin nafsu seksual diharamkan, sementara anak keturunan yang shaleh sangat didambakan untuk melanjutkan generasi pengemban risalah-Nya?
Lebih jauh, Al-Qahhar jika dibumikan menjadi bahasa kepemimpinan, maka ia berarti kemampuan untuk mengarahkan orang lain pada kebaikan. Pemimpin yang baik adalah navigator yang tahu jalan yang lurus dan jalan yang harus dihindarinya. Ia memiliki kemampuan untuk membimbing anak buahnya agar senantiasa berjalan di atas rel yang lurus, tidak zig-zag agar lebih cepat mencapai tujuan. Untuk itu seorang pemimpin harus mampu menyatupadukan semua staf dan anggotanya menjadi satu kekuatan yang memiliki visi, misi, dan persepsi yang sama. Semoga kita bisa meneladaninya.

* Tulisan ini dimuat di Majalah Nebula (eks ESQ Magazine) edisi cetak No. 13/Tahun II/2005
4/17/2011 10:14:00 PM | 0 komentar | Read More

Al-Ghaffar, Luasnya Samudra Ampunan

Oleh: Hamim Thohari

Al-Qur’an menyebut kata “Ghaffar” sebanyak lima kali, tiga kali berdiri sendiri, sedang dua kali lainnya dirangkai setelah penyebutan sifat dan nama Indah lainnya, yaitu Al-Aziz.
"Sesungguhnya Tuhanmu sangat luas maghfirah-Nya." (QS. At-Taubah: 117)
Al-Ghaffar berasal dari fi’il madhi “ghafara”, yang berarti menutupi. Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa kata itu terambil dari kata “alghafaru” yang berarti sejenis tumbuhan yang digunakan untuk mengobati luka. Jika kita mengambil makna yang pertama, maka Al-Ghaffar berarti Allah menutupi dosa hamba-hamba-Nya karena kemurahan dan keluasan ampunan-Nya.
Adapun jika kita memaknai dengan kata yang kedua, berarti Allah menganugerahkan sifat penyesalan kepada hamba-hamba-Nya sehingga bisa menjadi obat penawar sekaligus penghapusan dosa.
Menurut pendapat kami, keduanya benar dan bisa dipakai, sebab dalam kenyataannya, Dialah yang meniupkan rasa penyesalan pada diri manusia, sehingga hati manusia cenderung meminta maaf ketika berbuat dosa. Dia pula yang memberi ampunan sebesar apapun kepada hamba-hamba-Nya yang menyesal dan bertaubat kepada-Nya.
Al-Ghaffar tidak sekadar mengampuni dosa hamba-hamba-Nya yang berkaitan dengan pelanggaran terhadap syari’at, tapi pengampunan-Nya meliputi segala hal, termasuk dalam hal akhlaq yang oleh hukum syari’at tidak dianggap sebagai pelanggaran hukum. Sedemikian luasnya pengampunan itu, bahkan meliputi cinta dan emosi. Rasulullah saw senantiasa berusaha adil kepada isteri-isterinya, karenanya Allah mengampuninya jika hati beliau lebih condong kepada salah satu atas yang lain.
Luar biasa, akhlak Allah yang senantiasa menampakkan kebaikan untuk menutupi keburukan. Perhatikanlah, Dia menutupi sisi dalam jasmani manusia dengan penampakan luar yang sedap dipandang mata. Bagian dalam yang kotor dan menjijikkan ditutupi dengan tampilan lahir yang menawan.
Adalah Al-Ghaffar pula yang menutupi bisikan hati dan kehendak-kehendak kotor yang tersembunyi. Seandainya niat kotor, kemauan jahat, niat menipu, sangka buruk, iri hati, dan kesombongan itu terkuak ke permukaan dan diketahui semua orang, sungguh manusia akan mengalami berbagai kesulitan hidup. Jika yang terbetik dalam hati manusia tampak secara telanjang, sungguh masing-masing kita tidak ada yang saling percaya. Isteri tidak percaya kepada suami, anak tidak percaya kepada orangtua, rakyat tidak percaya kepada pemimpinnya. Begitu juga sebaliknya.
Dia, Al-Ghaffar bahkan tetap menutupi sekian banyak salah dan dosa yang telah dilakukan manusia, baik yang dilakukan secara tidak sengaja maupun yang disengaja. Segala aib tetap ditutupi oleh Allah. Itulah sebabnya Dia sangat marah kepada orang yang malam harinya berbuat dosa, sementara di siang harinya ia sebarkan perbuatan dosanya kepada orang lain. Andaikata ia segera menyesal dan bertaubat, pintu ampuan-Nya segera dibuka. Siksa-Nya tidak meliputi orang-orang yang bertaubat.
Al-Ghaffar senantiasa menyambut hamba-Nya yang tulus meminta ampunan, sebesar apapun dosa yang disandangnya. Dia berfirman:
Sampaikan kepada hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri: “Janganlah berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni segala dosa, Dialah Yang Mahapengampun lagi Mahapenyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)
Dalam hadits qudsy riwayat At-Tirmidzi, Sahabat Anas ra berkata bahwa ia pernah mendengar Rasulullah saw bersabda, Allah berfirman: “Wahai keturunan Adam, selama engkau berdoa kepada-Ku dan mengharapkan ampunan-Ku, Aku ampuni untukmu apa yang telah engkau lakukan di masa lampau dan Aku tidak peduli (betapa banyak dosamu). Wahai keturunan Adam, sekiranya dosa-dosamu telah mencapai ketinggian langit, kemudian engkau memohon ampunan-Ku, Aku ampuni untukmu. Seandainya engkau datang menemui-Ku membawa seluas wadah bumi ini dosa-dosa dan engkau datang menjumpai-Ku dengan tidak mempersekutukan Aku dengan sesuatu, niscaya Aku datang kepadamu dengan membawa pengampunan seluas wadah itu.”
Sebagai hamba Allah, kita dituntut memiliki atau meneladani sifat indah Al-Ghaffar itu, sebagaimana firman-Nya:
“Katakanlah kepada orang-orang yang beriman agar ia memaafkan orang-orang yang tidak mengharapkan hari-hari Allah.” (QS. Al-Jatsiyah: 14)
Allah juga berfirman:
“Siapa yang bersabar dan menutupi (memaafkan) kesalahan orang lain, maka sungguh hal demikian termasuk yang diutamakan.” (QS. Asy-Syuura: 43)
Ya Ghaffar, kami bermohon kepada-Mu kiranya membersihkan hati kami dari segala noda. Kami bermohon kiranya Engkau memenuhi hati kami dengan cahaya. Berilah kemampuan kepada kami untuk meneladani sifat dan nama-Mu Al-Ghaffar sehingga kami dapat menutupi aib teman-teman kami, membalas kejahatan mereka dengan kebaikan, dan meraih kemuliaan di dunia dan akherat.

* Tulisan ini dimuat di Majalah Nebula (eks ESQ Magazine) edisi cetak No. 12/Tahun I/2005
4/17/2011 10:13:00 PM | 0 komentar | Read More

Pola MASALAH Hidup

Masalah yang dihadirkan Allah kepada kita bisa menjadi UJIAN tapi bisa juga menjadi AZAB. Tergantung kita menempatkannya. Dan tergantung dosa-dosa kita. Mulai saat ini, dengan keyakinan penuh dari hati, marilah kita selalu berpikir positif terhadap masalah yang datang silih berganti. Karena masalah adalah ibarat kesulitan yang menghadirkan suatu keistimewaan.

Mari kita perhatikan lebih seksama beberapa tanda semesta berikut. Layang-layang bisa terbang tinggi justru ketika gerakan angin berani ia hadapi, melawan arah angin bukan searah mengikuti. Pohon bisa tumbuh subur tinggi justru ketika diberi pupuk yang bau bukannya diberi minyak wangi. Makan terasa nikmat, justru ketika sudah lapar berat. Minum terasa menyegarkan justru ketika haus kian tak tertahankan. Bahkan sang bintang pun bisa terlihat terang, justru ketika sang bintang berani muncul di antara kegelapan malam.

Ya, ketika hadir sebuah masalah maka segeralah mengingat Allah lebih dalam dan lakukanlah INSTROSPEKSI, dan berpikirlah, “Apa yang sudah saya lukakan, sehingga hadir masalah ini?” Berpikir ke depan dan visioner itu sangatlah baik, tetapi melihat ke belakang sekilas saja, flash back, insya Allah akan membuat Anda menginjak gas mobil kehidupan Anda dengan lebih yakin.

Ibarat Anda sedang mengendarai mobil, tentunya membutuhkan kaca spion sebelum melakukan aksi terobosan yang memukau. Namun demikian, Anda dilarang untuk selalu melihat kaca spion, sebab bagaimanapun juga finish pasti ada di depan, tidak mungkin ia ada di belakang Anda. Ya, tak baik terlalu lama melihat masa lalu, maafkanlah ia, dan fokuslah pada kenikmatan Allah yang dihadirkan hari ini, seraya bergeraklah ke depan menuju kenikmatan-kenikmatan berikutnya.

Artinya, “kaca spion” yang saya maksud adalah kemampuan Anda untuk melakukan aksi INTROSPEKSI dengan cepat ketika masalah itu hadir menimpa Anda. Tanyakanlah ke dalam diri Anda, ke dalam hati yang terdalam di dalam diri Anda, di mana di sana ada ALLAH yang menggenggam hati Anda.

Tanyakanlah kepada hati Anda, artinya tanyakanlah kepada Allah. “Ya Allah, apa maksud semua ini, apa yang harus aku lakukan, aku berserah penuh pada keteraturan yang Engkau buat ya Allah”. Ketika AZAB/PERINGATAN yang menjemput Anda maka segeralah bertaubat dengan beristighfar, sedangkan tatkala yang hadir itu sebuah UJIAN maka sesungguhnya UJIAN itu hadir sebagai Anugrah, sebab berbagai ujian itulah yang melahirkan potensi dan kualitas Anda yang sejati di kemudian hari.

Ya, kadang kita masih bingung apakah Kesulitan yang hadir ini berupa AZAB/PERINGATAN ataukah UJIAN/ANUGERAH. Namun, Jika Anda sudah terbiasa membersihkan diri maka hati kecil Anda akan menginformasikan kepada Anda apakah masalah/kesulitan tersebut sebuah AZAB/PERINGATAN ataukah justru sebuah UJIAN/ANUGERAH.

Namun secara prinsip, berdasarkan apa yang penulis alami dan amati, ternyata apabila Anda mendapatkan kesulitan setelah sebelumnya Anda berlaku maksiat, maka kesulitan itu biasanya sebuah PERINGATAN/AZAB, dan ketika Anda mendapatkan kesulitan karena sedang meraih atau mengejar sebuah keinginan/impian/do’a, dan Anda pun tidak sedang berlaku maksiat, maka insya Allah kesulitan itu hadir sebagai UJIAN/ANUGERAH.

Semakin besar keinginan Anda, maka semakin kuat ujiannya. Tapi tak jarang pula Kesulitan hadir sebagai perpaduan antara Peringatan dan Ujian, perpaduan antara Azab dan Anugrah. Hal ini bisa saja terjadi disebabkan ketika Anda sedang mengejar sebuah impian, namun Anda pun tetap melakukan perbuatan maksiat, apalagi dalam mengejar impian itu, Anda terlalu ambisius sehingga nyaris lupa bersyukur, nyaris lupa menikmati kehidupan “saat ini” Anda, dan sibuk membayangkan kenikmatan “masa depan” Anda yang belum pasti. Tapi di balik itu semua, yakinlah bahwa setiap kesulitan yang diikhlaskan dan di-istighfarkan, insya Allah akan melahirkan kemudahan-kemudahan yang penuh dengan keberkahan.

Sahabat, ingatlah bahwa Anda tak perlu berlama-lama di episode INTROSPEKSI ini. Yang jelas tak perlu salahkan siapapun ketika Anda melakukan proses introspeksi ini. Mohon diingat, ini adalah sebuah aksi introspeksi bukanlah identifikasi. Introspeksi itu ke dalam sedangkan identifikasi itu seringkali keluar dan akhirnya berujung pada kesimnpulan bahwa masalah tersebut hadir karena kesalahan orang lain, dan Anda hanyalah korban. Dan itu pastinya kesimpulan yang merugikan Anda. Jangan pernah merasa menjadi KORBAN, apapun masalah Anda.

Sahabat Solusi, ketika masalah itu hadir maka ada pola standar yang harus Anda lakukan. Sungguh, bukan masalahnya yang menjadi masalah, tapi bagaimana sikap Anda ketika masalah itu hadir. Masalah itu adalah sebuah kepastian, tetapi sikap Anda dalam menghadapi masalah itu adalah sebuah pilihan.

Setelah Anda sukses berintrospeksi, maka lanjutkan dengan segera pada langkah AKSI SOLUSI yang luar biasa. Ketahuilah, bahwa Solusi dari masalah Anda seringkali tidak berada pada masalah-masalah yang Anda miliki. Tetapi Solusi Anda berada pada KEHENDAK ALLAH, dimana ALLAH memiliki kehendak bahwa DIA akan membantu Anda jika Anda mau membantu hamba-hamba Allah lainnya.

Itu sebabnya, mulai hari ini JANGAN LAGI MENYELESAIKAN MASALAH Anda dengan cara yang biasa. Tidak perlu habiskan energi untuk terlalu fokus mencari solusi dari permasalahan Anda. Sebab hakekatnya Anda secara pribadi tak memiliki kemampuan apapun untuk menyelesaikan masalah-masalah Anda. Hanya ALLAH yang mampu. Laa haula walaa quwwata illaa billaah.

Dalam Surat ALAM NASYRAH kita disuruh MENYELESAIKAN urusan kita dengan bersungguh-sungguh. Nah, tahukah Anda, Apakah URUSAN KITA itu?

Urusan kita bukanlah permasalahan pribadi kita, tapi urusan kita adalah membantu menyelesaikan permasalahan orang-orang di sekitar kita. Artinya apa? jika ENGKAU, ingin permasalahanmu beres, maka bantulah bereskan atau selesaikan permasalahan orang-orang di sekitarmu. Perhatikan hadist berikut.

Dari Abdullah bin Umar ra, bahwa Rosulullah saw bersabda : "Seorang muslim dan lainnya adalah bersaudara, karenanya janganlah menganiaya saudaranya sendiri dan jangan membiarkannya tersiksa. Siapa saja yang memenuhi hajat saudaranya, maka Allah akan memenuhi hajatnya. Dan siapa saja yang memudahkan kesulitan orang lain, niscaya Allah akan melepaskan kesulitannya di hari Qiyamah. Dan barang siapa yang menutup aib orang lain, niscaya Allah menutupi aibnya di hari Qiyamah." (H.R. Muttafaq Alaih alias Bukhori-Muslim).

Sebetulnya, Masalah itu dihadirkan sebagai ujian apakah kita bisa bersabar dan bersyukur, atau dihadirkan sebagai azab agar kita kembali (taubat) dan istighfar (minta ampun).
Dan setelah itu kita bisa dekat kembali dengan-Nya, lalu fokus membantu sesama, jaga kualitas kekhusyuan Sholat dan ibadah lainnya, dan bertawakallah secara penuh kepada Allah SWT.

Sobat Solusi, jangan sampai gara-gara kita memiliki masalah, justru kita malah menjadi :

1. Tidak khusyu sholatnya
2. Tidak mau membantu sesama karena merasa bahwa "saya lah yang seharusnya dibantu".
3. Tidak bertawakkal kepada Allah SWT.

Jadi bantulah sesama maka Allah akan membantu kita. Nah, apakah makna ini semua? Sebelumnya, mari kita bayangkan, seandainya MANUSIA di seluruh dunia ini, hanya fokus kepada masalahnya masing-masing, maka bagaimana mungkin bisa terjadi sinergi yang baik. Bahkan, saya pun dulu pernah tidak jadi berbuat baik karena saya teringat atau fokus kepada masalah saya. Saat itu, ketika saya mau bersedekah kepada seseorang, tiba-tiba ada bisikan pikiran .. "Hai Zen, kok kamu ini ga tahu malu ya, kamu sendiri kan banyak hutang, eh malah sedekah.. apa gak malu sama Allah?" Astaghfirullah....

Sobat Solusi sekalian, mari kita ambil sebuah pembelajaran dari peristiwa tersebut, yaitu jangan sampai kita gagal berbuat kebaikan disebabkan kita fokus kepada masalah kita, cukuplah pengalaman ini menimpa saya.

Nah, kesimpulannya adalah ketika Anda hari ini sedang memiliki MASALAH, maka sebenarnya Anda sedang diberikan "tanda" oleh Allah bahwa ada orang-orang di sekitar Anda yang sedang butuh bantuan Anda. Pasanglah antene kebajikan itu, dan lakukan searching dengan hati terdalam Anda... kemudian rasakanlah.... lalu bantulah mereka...., maka perhatikan apa yang terjadi dalam kehidupan Anda ketika Anda berhasil membantu menyelesaikan masalah-masalah mereka. Tak perlu heran jika justru masalah Anda secara AJAIB menjadi selesai tuntas, atas bantuan Allah SWT.

Bukan Masalahnya yang menjadi Masalah, tapi bagaimana sikap Anda ketika masalah itu hadir. Sebab, ternyata dengan washilah berbagai masalah itulah yang membuat Anda tetap berTAHAN dan berTUHAN. Itu sebabnya, Jangan  besar-besarkan masalah Anda, sehingga Anda lupa membesarkan Allah, yang memberikan sousi dari masalah Anda.

So, jangan Katakan, "Wahai Allah, masalahku sangat besar," tapi katakanlah, "Wahai  masalah, Allah itu Maha Besar."



nb : Jika Anda suka, tak perlu izin lagi untuk di-share. trmksh

Wallahu alam
4/17/2011 01:30:00 AM | 0 komentar | Read More

TERAPI ISTIGHFAR

Written By Unknown on Saturday, April 16, 2011 | 4/16/2011 11:45:00 PM

“Sesungguhnya Allah menurunkan kepadaku dua keselamatan bagi umatku. Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka dan Allah tidak akan mengazab mereka sedang (mereka) beristighfar (minta ampun), bila aku (Nabi Saw) pergi (tiada) maka aku tinggalkan bagimu istighfar sampai hari kiamat.” (HR. Tirmidzi)

Sahabat Pema’af, Istighfar adalah teknik kunci untuk mengosongkan atau membersihkan hati dari limbah yang tidak perlu. Istoghfar adalah mohon ampun kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Istighfar itu sangatlah penting, sebab selain akan membersihkan hati dan menjadikan jiwa sebagai Nafsul Muthmainnah, maka beristighfar pun secara otomatis akan mengaktifkan berbagai mutiara hati yang bersemayam di dasar samudera jiwa. “Tidak menjadi dosa besar sebuah dosa bila disertai dengan istighfar dan bukan dosa kecil lagi suatu perbuatan bila dilakukan terus menerus.” (HR. Ath-Thabrani)

Selain itu, mengenai Istighfar ini Rosulullah saw bersabda : “Barangsiapa yang selalu beristighfar maka Allah akan memberinya kelapangan dalam setiap kesempitannya, dan Allah akan membukakan jalan dari kesusahannya serta Allah akan memberinya rezeki dari yang tidak di sangka-sangka." (HR. Abu Daud & Ibnu Majah)

Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, jika mendapat masalah yang cukup berat, solusinya adalah dengan memperbanyak istighfar. "Jika masalah yang saya hadapi mengalami kebuntuan (sulit menemukan solusinya), saya beristighfar kepada Allah sebanyak seribu kali. Allah pun memberikan saya jalan keluarnya." Itulah pengakuan dari seorang ulama besar yang menjadi guru dari Ibnu Qayyim al-Jauziyah.

Itu sebabnya, di Al-Quran kita disuruh untuk bersegera beristighfar kepada ALLAH. Karena sesungguhnya istighfar itu adalah PINTU hadirnya rahmat dan karunia dari ALLAH SWT.

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Q.S. 3:133-134)”

“Seorang yang berbuat dosa lalu membersihkan diri (wudhu atau mandi), kemudian ia shalat dan memohon pengampunan Allah maka Allah akan mengampuni dosanya. Setelah berkata demikian Rasulullah mengucapkan firman Allah surat Ali Imran ayat 135: "Dan orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun atas dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa-dosa selain dari Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan keji mereka itu sedang mereka mengetahui."”(HR. Bukhari dan Muslim)

Istighfar adalah salah satu bentuk dzikir atau dzikrullah yang sangat sering dilakukan oleh Rosulullah saw. Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma berkata: “Sesungguhnya kami benar-benar menghitung dzikir Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam dalam satu kali majelis (pertemuan), beliau mengucapkan 100 kali (istighfar dalam majelis): “Ya Rabb, ampunilah aku, terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Menerima Taubat dan Maha Penyayang.” (HR Abu Dawud)

Berapa banyak kita harus beristighfar setiap harinya tidaklah ditentukan oleh Rosulullah saw, tetapi kalau kita perhatikan keterangan di atas sebelumnya maka jika memungkinkan dalam sehari itu kita beristighfar minimal 100 kali dan jika sedang memiliki masalah yang cukup berat maka kita bisa meniru perilaku dari Ibnu Taimiyah yang beristighfar sebanyak 1000 kali. Namun intinya, semakin banyak kita beristighfar atau melakukan dzkir istighfar dengan sepenuh hati maka tentunya akan semakin membantu kita untuk membersihkan jiwa kita dari berbagai limbah dosa yang pernah dan sedang kita lakukan, ”Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS Al-Ahzab ayat 41)

Istighfar ini memang dahsyat, ia mampu menjadi washilah agar kita keluar dari berbagai problema kehidupan kita. Atas kehendakNya, maka Istighfar bisa membantu kita keluar dari berbagai kesempitan hidup yang tengah kita rasakan. Banyak sekali kesempitan hidup yang kini mungkin saja sedang kita rasakan, beberapa diantaranya :
1.    Hidup tidak tenang alias sering gelisah
2.    Waswas
3.    Trauma
4.    Tidak percaya diri
5.    Dikelilingi oleh orang-orang yang menjengkelkan
6.    Grogi ketika berbicara di depan umum
7.    Grogi kalau menjadi imam
8.    Kurang beriman dan sering ragu atas kekuasaan dan pengaturan Allah atasnya
9.    Emosi tidak stabil
10.    Sering dizalimi oleh orang lain bahkan oleh orang yang sama berkali-kali
11.    Musuhan menahun
12.    Pernikahan tidak harmonis
13.    Mudah tergoda oleh pria/wanita lain
14.    Jatuh cinta mendalam pada orang yang tidak pas dan tidak jelas
15.    Sering bermaksiat
16.    Banyak hutang dan sulit melunasinya
17.    Dimusuhi banyak orang dengan alasan yang tidak jelas
18.    Plin-plan alias tidak tegas
19.    Susah memiliki anak atau keturunan
20.    Susah dapat kerja
21.    Susah kaya padahal sudah berusaha dan tawakkal
22.    Susah khusyu sholatnya
23.    Susah dipercayai orang
24.    Berwajah gelap atau aura tertutup
25.    Mudah sakit, seperti mudah masuk angin, maag, asma, migrain, sakit kepala utuh, dan alergi kulit
26.    Rejeki seret dan terasa mampet
27.    Harta yang tidak berkah
28.    Anak sulit diatur
29.    Pasangan tidak mencintai

Mari kita OBATI berbagai kesempitan hidup yang membuat dada ini terasa sempit dan sesak dengan melakukan dzikir ISTIGHFAR dengan tulus dan sepenuh hati. OBATI dengan tOBATi.

Kisah berikut, insya Allah akan membuat Anda semakin yakin bahwa berISTIGHFAR akan membuat Anda keluar dari berbagai permasalahan hidup Anda. Insya Allah.

“Dikisahkan, ketika Rasulullah saw sedang berkumpul dengan sejumlah sahabatnya di masjid, masuklah empat orang laki - laki. Masing - masing datang membawa masalah yang ingin disampaikannya kepada Rasulullah saw. Orang pertama mengeluh karena di daerahnya sudah lama tidak turun hujan. Rasulullah saw menasehatinya, "Beristighfarlah!" Orang kedua mengeluh karena sudah lama menikah, tapi belum juga memperoleh keturunan. Rasulullah saw menasehatinya, "Beristighfarlah" Orang ketiga mengeluhkan kesulitan ekonominya. Rasulullah saw kemudian menasehatinya, "Beristighfarlah!" Orang keempat mengeluhkan tanah pertaniannya yang sudah tidak subur lagi. Lagi - lagi Rasulullah saw menasehatinya, "Beristighfarlah!" Abu Hurairah yang saat itu ada bersama mereka terheran - heran, kemudian ia bertanya, "Ya Rasulullah, mengapa kesulitannya banyak, tetapi obatnya satu?" Beliau kemudian menjawab, "Simaklah firman Allah dalam surah Nuh (71) ayat 10 - 12, 'Mohonlah ampun kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan Hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyakkan harta dan anak - anakmu, dan mengadakan untukmu kebun - kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai – sungai.” (HR Ahmad dan Abu Dawud)

Rosulullah saw mengajarkan kepada kita beristighfar, dan lafadz istighfar itu sangatlah banyak. Mulai dari “Astaghfirullahal ‘Azhim” atau di tambah kalimat “wa atuubu ilaiih” sampai dengan Penghulunya Istighfar atau Rajanya Istighfar.

Mengenai penghulu/raja istighfar ini dijelaskan dari Syaddad Ibnu Aus Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Permohonan ampunan (istighfar) yang paling utama ialah seorang hamba yang membaca “Allahumma Anta Robbii, Laa ilaaha illaa Anta kholaqtanii, wa ana ‘abduka, wa ana ‘alaa ‘ahdika, wawa’dika mas tatho’tu, abuu u laka bin ni’mati, wa abuu u laka bi zambii, faghfirlii, fainnahuu laa yaghfiruz zunuuba illaa Anta.    (artinya = Ya Allah, Engkaulah Tuhanku, tidak ada Tuhan selain Engkau yang telah menciptakan diriku, aku hamba-Mu, aku selalu berada dalam ikatan-Mu dan perjanjian-Mu selama aku mampu, aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang aku perbuat, aku mengaku kepada-Mu dengan dosaku, maka ampunilah aku, sebab tiada yang akan mengampuni dos." (H.R. Bukhori)

wallahu a'lam
KZ
www.cahaya-semesta.com
4/16/2011 11:45:00 PM | 0 komentar | Read More

Terapi Musik Hilangkan Depresi

Written By Unknown on Wednesday, April 13, 2011 | 4/13/2011 02:57:00 AM

MENGIKUTI terapi musik secara teratur bermanfaat bagi kesehatan karena menghilangkan depresi dan mengurangi risiko kanker.

Mendengarkan musik saat senggang atau ketika libur kerja bisa membantu membuat pikiran dan tubuh lebih rileks serta mengembalikan energi menjadi lebih bertenaga. Bahkan, bila mendengarkan musik secara teratur pada waktu yang tepat, ternyata bisa menjadi sebuah terapi yang mendatangkan manfaat yang lebih besar bagi kesehatan. Salah satunya menghilangkan depresi, bahkan mengurangi risiko timbulnya kanker.

"Terapi musik merupakan cara yang mudah yang bermanfaat positif bagi tubuh, psikis, serta meningkatkan daya ingat dan hubungan sosial. Bila terapi ini dilakukan secara khusus, hasilnya lebih baik," jelas Cheryl Dileo, profesor musik serta Direktur Pusat Penelitian Seni dan Meningkatkan Kualitas Hidup, Universitas Temple, Philadelphia, Amerika Serikat (AS).

Dileo menyatakan, manfaat terapi musik dibandingkan mendengarkan musik seorang diri sangat berbeda jauh. "Mendengarkan musik seorang diri itu bukan terapi meski banyak orang yang mendengarkan musik mendapatkan manfaat positif, seperti lebih rileks dan memperbaiki mood," paparnya.

Dia menambahkan, musik terapi membutuhkan bantuan orang lain yang sudah teruji kemampuannya untuk mengelola sebuah terapi. "Meski banyak orang yang mengaku paham bagaimana cara menikmati musik bagi diri sendiri, di bawah kendali seorang pakar terapi musik akan memberikan manfaat yang lebih besar. Terapi musik akan memberikan tenaga baru, mental yang segar, dan hubungan sosial yang hangat," tuturnya.

Selain itu, penggunaan terapi musik bisa diterapkan secara luas pada semua orang dalam berbagai kondisi. Terapi musik bisa dilakukan untuk mengurangi rasa khawatir pasien yang menjalani berbagai operasi atau serangkaian proses berat di rumah sakit. Sebab, musik akan membantu mengurangi timbulnya rasa sakit dan memperbaiki mood pasien.

Terapi musik juga mampu membantu menghilangkan depresi pada pasien rumah sakit lebih cepat. Terapi musik bisa diterapkan pada pasien alzheimer untuk membuat mereka lebih tenang dan membantu meningkatkan daya ingat. Bukan itu saja, orangtua yang baru memiliki bayi pun bisa menjadi lebih tenang setelah menjalani terapi musik.

"Musik merupakan cara yang mudah untuk mengalihkan perhatian. Ketika menghadapi masalah atau tekanan berat, musik membantu mengalihkan perhatian. Mendengarkan musik secara rutin membuat suasana akan menjadi tenang. Pada anak, musik bisa membantu mereka rileks dan mudah tidur," ujarnya.

Penelitian Dileo pun didukung Direktur Cancer Treatment Centers of America Katherine Puckett. Dia menyatakan, meski tak punya sertifikat menjadi ahli terapi musik, dia dan stafnya selalu menggunakan musik untuk membatu pengobatan pasiennya.

"Musik dapat mengaktifkan syaraf menjadi rileks sehingga membantu pernapasan pasien menjadi lebih baik. Selain itu, musik mengurangi risiko serangan jantung, membuat tekanan darah lebih normal, dan membuat otot lebih rileks. Pada pasien kanker, musik membantu mereka tidur lebih nyenyak karena biasanya pasien kanker memiliki gangguan tidur," jelas Puckett.

Begitu besarnya manfaat musik bagi pasien kanker membuat Cancer Treatment Centers of America membuat perpustakaan yang menyediakan berbagai jenis musik yang sesuai selera pasiennya. Bahkan, sekali-kali sering digelar berbagai acara musik khusus untuk menghibur pasiennya.

"Semua orang pasti suka musik. Kamu tak akan sakit jika suka musik. Musik membuat rileks, nyaman, dan tenang. Tubuh yang rileks bisa membantu mengurangi rasa sakit, termasuk rasa sakit dari proses penyembuhan kanker," pungkas Puckett.

[okezone.com]
Kalimat tambahan dari pemilik Blog :
PENTING !!! 
Bagi muslim musik paling dahsyat adalah AL QURAN. Anda bisa membacanya sendiri secara rutin setiap hari, sekemampuan Anda. Atau bisa juga dengan mendengarkan VIDEO/AUDIO murattal Al Quran.
4/13/2011 02:57:00 AM | 0 komentar | Read More

Teknik SEFT

Written By Unknown on Tuesday, April 12, 2011 | 4/12/2011 11:18:00 PM

(Ahmad Faiz Zainuddin)

Ada dua versi dalam melakukan SEFT. Yang pertama adalah versi lengkap yang akan segera saya jelaskan, dan yang kedua adalah versi ringkas (short-cut). Keduanya terdiri dari 3 langkah sederhana, perbedaannya hanya pada langkah ketiga (the Tapping). Pada versi singkat, langkah ketiga dilakukan hanya pada 9 titik, dan pada versi lengkap tapping dilakukan pada 18 titik. Sebaiknya anda kuasai dulu versi lengkap ini sebelum versi ringkasnya, agar anda mendapatkan hasil yang maksimal.
Versi lengkap maupun versi ringkas SEFT terdiri dari 3 tahap yaitu: The Set-Up, The Tune-in dan The Tapping.


Versi Lengkap SEFT
1. The Set-Up
“The Set-Up” bertujuan untuk memastikan agar aliran energi tubuh kita terarahkan dengan tepat. Langkah ini kita lakukan untuk menetralisir “Psychological reversal” atau “perlawanan psikologis” (biasanya berupa pikiran negatif spontan atau keyakinan bahwa sadar negatif).
Contoh Psychological Reversal ini diantaranya:
· Saya tidak bisa mencapai impian saya
· Saya tidak dapat bicara di depan publik dengan percaya diri
· Saya adalah korban pelecehan seksual yang malang
· Saya tidak bisa menghindari rasa bersalah yang terus menghantui hidup saya
· Saya marah dan kecewa pada istri/suami saya karena dia tidak seperti yang saya harapkan
· Saya kesal dengan anak-anak, karena mereka susah diatur
· Saya tidak bisa melepaskan diri dari kecanduan rokok
· Saya tidak termotivasi untuk belajar, saya pemalas
· Saya tidak mungkin bisa memenangkan pertandingan ini
· Saya menyerah, saya tidak mampu melakukannya.
· Saya… Saya… Saya…
Jika keyakinan atau pikiran negatif seperti contoh di atas terjadi, maka berdo’a dengan khusyu’, ikhlas dan pasrah: “Yaa Allah… meskipun saya _______ (keluhan anda), saya ikhlas, saya pasrah pada-Mu sepenuhnya”
Inilah obatnya: kata-kata di atas disebut The Set-Up Words, yaitu beberapa kata yang perlu anda ucapkan dengan penuh perasaan untuk menetralisir Psychological reversal (keyakinan dan pikiran negatif). Dalam bahasa religius, the set-up words adalah “doa kepasrahan” kita pada Allah swt. Bahwa apapun masalah dan rasa sakit yang kita alami saat ini, kita ikhlas menerimanya dan kita pasrahkan kesembuhan nya pada Allah swt.

“The Set-Up” sebenarnya terdiri dari 2 aktivitas, yang pertama adalah mengucapkan kalimat seperti di atas dengan penuh rasa khusyu’, ikhlas dan pasrah sebanyak 3 kali. Dan yang kedua adalah sambil mengucapkan dengan penuh perasaan, kita menekan dada kita , tepatnya di bagian “Sore Spot” (titik nyeri = daerah di sekitar dada atas yang jika ditekan terasa agak sakit) atau mengetuk dengan dua ujung jari di bagian “Karate Chop”. (lihat gb. 1 dan gb.2 di halaman 36)
Setelah menekan titik nyeri atau mengetuk karate chop sambil mengucapkan kalimat Set-Up seperti di atas, kita melanjutkan dengan langkah kedua, “the Tune-In”.

2. The Tune-In
Untuk masalah fisik, kita melakukan tune-in dengan cara merasakan rasa sakit yang kita alami, lalu mengarahkan pikiran kita ke tempat rasa sakit dan sambil terus melakukan 2 hal tersebut, hati dan mulut kita mengatakan, “saya ikhlas, saya pasrah… yaa Allah..”
Untuk masalah emosi, kita melakukan “Tune-In” dengan cara memikirkan sesuatu atau peristiwa spesifik tertentu yang dapat membangkitkan emosi negatif yang ingin kita hilangkan. Ketika terjadi reaksi negatif (marah, sedih, takut, dsb.) hati dan mulut kita mengatakan, Yaa Allah.. saya ikhlas…. Saya pasrah…
Bersamaan dengan Tune-In ini kita melakukan langkah ke 3 (Tapping). Pada proses inilah (Tune-In yang dibarengi tapping) kita menetralisir emosi negatif atau rasa sakit fisik.

3. The Tapping
Tapping adalah mengetuk ringan dengan dua ujung jari pada titik-titik tertentu di tubuh kita sambil terus Tune-In. titik-titik ini adalah titik-titik kunci dari “The Major Energy Meridians”, yang jika kita ketuk beberapa kali akan berdampak pada ternetralisirnya gangguan emosi atau rasa sakit yang kita rasakan. Karena aliran energi tubuh berjalan dengan normal dan seimbang kembali.
Berikut adalah titik-titik tersebut:
Cr = Crown,Pada titik dibagian atas kepala
EB = Eye Brow,Pada titik permulaan alis mata
SE = Side of the Eye Di atas tulang disamping mata
UE = Under the Eye 2 cm dibawah kelopak mata
UN = Under the Nose,Tepat dibawah hidung
Ch = Chin,Di antara dagu dan bagian bawah bibir
CB = Collar Bone,Di ujung tempat bertemunya tulang dada, collar bone dan tulang rusuk pertama
UA = Under the Arm,Di bawah ketiak sejajar dengan putting susu (pria) atau tepat di bagian tengah tali bra (wanita)
BN = Bellow Nipple2,5 cm di bawah putting susu (pria) atau di perbatasan antara tulang dada dan bagian bahwa payudara
IH = Inside of Hand,Di bagian dalam tangan yang berbatasan dengan telapak tangan
OH = Outside of Hand,Di bagian luar tangan yang berbatasan dengan telapak tangan
Th = Thumb, Ibu jari disamping luar bagian bawah kuku
IF = Index Finger,Jari telunjuk di samping luar bagian bawah kuku (dibagian yang menghadap ibu jari)
MF = Middle Finger, Jari tengah samping luar bagian bawah kuku (di bagian yang menghadap ibu jari)
RF = Ring Finger,Jari manis di samping luar bagian bawah kuku (di bagian yang menghadap ibu jari)
BF = Baby Finger, Di jari kelingking di samping luar bagian bawah kuku (di bagian yang menghadap ibu jari)
KC = Karate Chop,Di samping telapak tangan, bagian yang kita gunakan untuk mematahkan balok saat karate
GS = Gamut Spot,Di bagian antara perpanjangan tulang jari manis dan tulang jari kelingking.
4/12/2011 11:18:00 PM | 0 komentar | Read More

SEFT Atasi Masalah Fisik & Emosi

Written By Unknown on Monday, April 11, 2011 | 4/11/2011 09:56:00 PM

Ahmad Faiz Zainuddin
SEFT (Spiritual, Emotional, Freedom, Technique) merupakan terapi pengembangan diri yang menggabungkan 14 teknik untuk mengatasi berbagai masalah fisik, emosi, dan prestasi secara cepat dan mudah.

Dalam sebuah training SEFT yang diadakan Logos Institute, peserta bernama Yanto (30) mengaku takut berbicara di depan umum. Saat dipegang, tangan Yanto berkeringat. Namun, setelah diberi totokan lembut dengan metode SEFT 15 selama menit, ia kemudian mampu berpidato.

Cerita lain lagi datang dari seorang guru bahasa Inggris yang mengaku fobia katak. Setiap kali mendengar suara, apalagi melihat katak, sekujur tubuhnya jadi lemas tak bertenaga. Dengan tapping 5 menit, katak yang ada di depannya dianggap lucu.

Ahmad Faiz Zainuddin adalah penemu SEFT. Teknik pengembangan diri yang dikembangkannya menggabungkan 14 teknik terapi: kognitif (NLP), behavioraltherapy, logotherapy, psikoanalisis, EMDR, hipnosis, (Ericsonian), sugesti, afirmasi, visualisasi, Gestalt, meditasi, metode provokatif sedona, energi, dan powerful prayer "Teknik ini telah dibuktikan secara ilmiah. Tidak ada unsur supranatural atau klenik," ujar Faiz.

SEFT, menurut sarjana psikologi lulusan Universitas Airlangga ini, dikembangkan dari EFT (Emotional Freedom Technique), karya Gary Craig, yang kini populer di Amerika Serikat, Eropa, dan Australia. Gunanya untuk mengatasi berbagai masalah fisik, emosi, dan meningkatkan performa kerja.

Ada dua teknik utama yang mendasari SEFT, yakni energi psikologi dan spiritualitas. Energi psikologi adalah seperangkat prinsip dan teknik memanfaatkan sistem energi tubuh untuk memperbaiki kondisi pikiran, emosi, dan perilaku.

Pengaruh sistem energi tubuh terhadap dimensi emosi inilah yang diteliti Dr. Roger Callahan. Eksperimen dilakukan tanpa jarum (seperti akupuntur) ataupun menekan berlebihan (seperti akupresur), hanya menggunakan ketukan ringan ujung jari (tapping).

Dengan eksperimen ini Callahan membantu pasiennya sembuh dari berbagai masalah psikologis dalam waktu sangat cepat (dalam hitungan menit). Dengan penemuan ini disimpulkan bahwa penyebab emosi negatif adalah terganggunya sistem energi tubuh.

Tiga tahap

Menurut Faiz, ada tiga hal yang dapat dilakukan dengan SEFT, yakni penyembuhan, meningkatkan prestasi, dan kedamaian. Prinsip dalam penyembuhan yakni singkat dan lengkap, melalui set up, tune in, dan tapping. Sebelumnya dilakukan identifikasi penyakit, mencari lokasinya, lalu membuat intensitas sakitnya dari skala 0-10.

"Contohnya, gangguan nyeri punggung menahun. Cari lokasi sakitnya di mana, semisal punggung bagian bawah dan intensitasnya 7. Selanjutnya lakukan set up, tune in, tapping," imbuhnya.

Dalam kasus sakit punggung, saat set up, gunakan tangan kanan untuk mencari titik nyeri, letaknya di bahu kiri, yang bila ditekan terasa nyeri atau sakit. Sambil digosok-gosok, ucapkan set up word atau doa; "Ya Allah/Ya Tuhan, meskipun punggung kiri bawah sakit, nyeri, saya ikhlas menerimanya, saya pasrah kepada-Mu sepenuhnya atas kesembuhan punggung saya."

Poinnya, kata Faiz, ketika melakukan set up sambil menggosok adalah "curhat" masalah kepada Tuhan, kemudian menerima rasa sakit dengan ikhlas dan pasrah.

Sejurus kemudian, lakukan tune in. Caranya, rasakan sakit di punggung. Sambil dirasa sakitnya, fokuskan pikiran di tempat sakit, lalu lantunkan doa: "Ya Allah, saya ikhlas, saya pasrah."

Lantunkan doa ini terus-menerus sampai rasa sakitnya sedemikian terasa.

Tahap terakhir adalah tapping. Caranya dengan menekankan dua jari di sembilan titik sistem energi tubuh (titik utama), sambil berdoa: "Ya Allah, saya ikhlas, saya pasrah."

Titik-titik utama tersebut adalah titik di ubun-ubun, pangkal alis, samping mata, bawah mata, bawah hidung, bawah mulut, tulang leher, bawah puting susu, dan di bawah ketiak (lihat gambar). Semua itu adalah titik-titik akupuntur.

Bila tiga kali terapi singkat belum berhasil juga, lakukan penyembuhan secara lengkap. Caranya, lakukan tapping di sembilan titik utama dilanjutkan tapping di titik tambahan yang jumlahnya sembilan area di tangan.

Kata Faiz, ada empat kunci keberhasilan SEFT, yakni khusyuk, ikhlas, pasrah, dan syukur. "Keempat kunci itu bila dilakukan, Anda berada dalam zona keajaiban," katanya.

Sumber : Senior

4/11/2011 09:56:00 PM | 0 komentar | Read More

RUQYAH ONLINE

Written By Unknown on Monday, April 4, 2011 | 4/04/2011 10:46:00 AM


4/04/2011 10:46:00 AM | 0 komentar | Read More

9 Langkah Terapi ”Boleh Saya Curhat”

Written By Unknown on Monday, March 28, 2011 | 3/28/2011 01:05:00 AM

Curhat kepada Konselor atau teman Dekat
Tips ini seolah-olah Anda sedang bercerita, menyampaikan, mencurahkan isi hati Anda kepada orang yang Anda percayai. Dan Anda yakin bisa membantu Anda mendapatkan solusi. Caranya tidak jauh beda seperti kebiasaan yang sudah Anda lakukan. Namun, Anda mesti lebih mencurahkan perhatian dengan cara yang satu ini. Oh ya, mumpung saya ingat nih. Cara ini akan sangat berdampak luar biasa efektif, apabila Anda mejalaninya dengan membakar kemenyan (he..he.. bercanda). Maksud saya, dengan menggunakan fikiran imajinatif Anda. Jadi, untuk sementara, fikiran logika dan analisis, disimpan dulu ya...

9 Langkah Terapi ”Boleh Saya Curhat”

Perceptual Position
  1. Berdoa kepada Allah agar, usaha Anda menghasilkan solusi. Kemudian dimudahkan dan di Ridahi oleh Allah.
  1. Siap kan tiga buah kursi, atau tandai tiga titik pada lantai tempat Anda berada. Boleh lurus atau berbentuk segitiga.
  1. Beri nama atau kode untuk memudahkan proses therapy pada tiap kursi. Contoh : Kursi pertama Anda beri code/nama Sang Masalah, Kursi Kedua Juru bicara. Dan Ketiga Sang Konselor. (Anda boleh mengganti nama-nama di atas sesuai keinginan dan kehendak Anda. Ingat! gunakan imajinatif Anda, tidak perlu bertanya untuk apa. Lakukan dan ikuti saja intruksinya, oke kan?)
  1. Sekarang, bisa Anda duduk di tiap-tiap kursi atau titik yang telah Anda namai tadi. Silahkan Anda berada disana, dengan 100% hadir sebagai nama yang Anda beri tadi. Contoh : Kursi Juru Bicara. Saat Anda duduk di atas kursi ini, jadilah seolah-olah Anda sebagai benar-benar seorang juru bicara. Sebagaimana kita tau, yang nama nya juru bicara, terkadang hanya menyampaikan apa yang mesti disampaikan oleh Sang Masalah. Jadi, Anda di kursi Juru Bicara, seolah-olah orang lain, yang akan menceritakan tentang kondisi Sang Masalah. Sehingga Anda tidak mengalami apa yang dia rasakan, Anda tidak larut, dan Anda benar-benar menjadi orang lain (ingat gunakan imajinatif Anda). Begitu pula dengan Sang Konselor. Saat Anda duduk di kursi ini, seolah Anda seorang Konselor. Bolehlah sedikit sok tau ya. He...he... sementara di Kursi Sang Masalah, tidak perlu saya jelaskan. Anda sudah sangat mahir karena sudah mengalami ^_^...
  1. Mari kita mainkan. Pertama, duduklah di Kursi Sang Masalah....Rasakan, lihat dan dengarkan serta alami secara total masalahnya. Setelah itu sampaikan kepada sang Juru Bicara.
  1. Setelah Anda merasa sudah benar-benar full 100% merasakannya, sekarang pindahlah ke kursi Sang Juru Bicara. Mulailah bercerita kepada ke Kursi Sang Konselor kondisi teman/klien Anda yang bermasalah itu. Sebagai sang Juru Bicara, boleh ambil intervensi (memberikan sudut pandang) juga pendapat Anda (Sebagai Juru Bicara), berdasarkan pengamatan Anda terhadap cara Sang Masalah duduk, ekspresi wajahnya, cara bernafas, cara bercerita dll, yang dilakukan oleh sang Masalah.
  1. Sekarang Anda pindah ke kursi Sang Konselor. So selamat menikmati sebagai orang pemberi solusi. Lihat ekspresi si Juru Bicara yang tak punya masalah dan juga Kursi Sang Masalah. Berdasarkan analisa Anda, dari cerita Sang Juru Bicara. Apa hal Terbijak dan terbaik mesti di fikirkan, dilakukan serta di ambil keputusan sekarang, oleh Sang Masalah. Berikan juga nasehat serta wejangan kepada nya.
  1. Silahkan Anda duduk kembali ke kursi Sang Masalah. Setelah mendengar Curhat Sang Juru bicara ke Sang Konselor, kemudian Anda menyimak nasehat serta pandangan dari Sang Konselor. Apa yang Anda alami dan terjadi pada diri Anda? Dan, apakah sudut pandang sang Konselor memberi pemahaman dan Anda menemukan solusinya sekarang? (Bila Anda belum menemukan solusi, boleh Anda ulangi sekali lagi).
  1. Apabila Anda merasa sudah mendapatkan hal yang Anda inginkan (Solusi), boleh akhiri dengan rasa syukur dan hamdalah kepada Allah. Juga kepada diri Anda sendiri, karena sudah mau berdamai dan bersedia untuk memecahkan masalah (get solution) secara bersama-sama.
Sekedar sharing, saya terkadang melakukan cara di atas dengan memanfaatkan fikiran kreatifitas saya. Yaitu menghadirkan tokoh imajiner, Coach yang selama ini membimbing dan mengarahkan saya. Jadi, seolah-olah beliau Ada disana, dan memberikan solusi kepada diri saya. Namun, terkadang saya sendiri yang seolah-olah menjadi seorang ahli dalam memberi sololusi saat berada di Kursi Sang Konselor.

Selamat melakukan dan mempraktekkan. Semoga tips ini menjadi cara untuk menghasilkan solusi terhadap tantangan hidup yang sedang bertamu kepada Anda. (Yang namanya tamu pasti pulangkan?).

Note : Bila Anda belum faham dengan penjelasan di atas, boleh Anda hubungi 081511448147 (Bebas biaya, kecuali pulsa Anda habis he...he..). Saya akan membantu Anda, bagaimana cara bermain-main dengan tips terapi di atas.

Cingajur, 12 Maret 2011

Sumber : http://www.kursusnlp.com/
3/28/2011 01:05:00 AM | 0 komentar | Read More